Tampilkan postingan dengan label PEJUANG. Tampilkan semua postingan

PATRICE LUMUMBA - PEJUANG PEMBEBASAN AFRIKA


"The Congo has made me, I shall make the Congo - There is no compromise between freedom and slavery”.

Patrice Lumumba dikenal dalam sejarah Afrika sebagai pahlawan nasional yang berasal dari Kongo. Dia berjuang untuk Rakyat dan negaranya dari penindasan kaum Kolonial. Kisah hidupnya sebagai pejuang, pembela Rakyat dan seorang revolusioner menjadikan dia sebagai juru bicara dan pemimpin bagi Rakyat Kongo.

Patrice Emery Lumumba dilahirkan pada tanggal 2 Juli 1925, disebuah desa yang bernama Onalua propinsi Kasai. Kedua orang tuanya yang berada di Batetela menginginkan Patrice untuk menjadi guru di sekolah Katolik dan untuk memenuhi persyaratan itu maka Patrice dikirimkan ke Sekolah Misi Katolik yang berada di Katako-Kombe.

Anak kecil itu menampakkan bakat yang sangat besar untuk belajar dan mempunyai kemampuan yang luwes untuk bergaul kepada orang-orang yang ditemuinya. Perhatian yang besar juga ditampakkan oleh Patrice kecil kepada para misionaris Protestan yang mengelola sekolah kedokteran asistensi bedah.

Karena hubungannya dengan para misionaris Protestan itu maka Patrice kecil yang sudah beranjak remaja usia 12 tahun melanjutkan pendidikannya disekolah kedokteran tersebut. Pada usia 13 tahun Patrice remaja menjadi seorang penganut Protestan.

Setelah menempuh pendidikan kodekteran selama dua tahun Patrice meninggalkan sekolah itu tanpa menggenggam ijazah. Selama dalam masa pendidikan Patrice remaja menunjukkan antusiasme yang tinggi kepada berbagai materi pelajaran yang diberikan kepadanya. Belajar menjadi suatu yang mudah bagi dirinya dan dia tumbuh menjadi remaja yang selalu ingin tau tentang berbagai disiplin ilmu walaupun ilmu tersebut tidak diajarkan di sekolahnya. Patrice remaja juga menggemari Voltaire, Rousseu, Viktor Hugo dan Moliere serta para penulis modern lainnya.

Karena rasa hausnya yang tinggi kepada ilmu pengetahuan mempengaruhi dan mendorong perkembangan pemikirannya kepada dunia buku. Banyak pertanyaan yang muncul didalam dirinya kepada guru-guru misionaris kulit putih tetapi pertanyaan-pertanyaan itu bukan merupakan pertanyaan yang lazim ditanyakan oleh seorang Afrika. Karena sebab itu maka hubungan Patrice remaja kepada guru-gurunya semakin renggang dan dia memutuskan untuk meninggalkan sekolahnya. Itulah alasan kenapa dia meninggalkan sekolahnya.

Usianya telah menginjak 15 tahun, berbadan tinggi, kurus, dan berkulit gelap. Ciri-ciri ini merupakan hal yang umum pada setiap orang Afrika seusianya. Patrice remaja pergi menuju Kindu yaitu sebuah kota di Propinsi Katanga. Tetapi seperti para imigran yang biasa pergi menuju kota untuk mendapatkan pekerjaan, Patrice juga menemui di pintu-pintu atau halaman-halaman perkantoran, pabrik, toko dan tempat-tempat usaha lainnya sebuah plank kecil yang bertuliskan “tidak terdapat lowongan pekerjaan”. Selain dibidang usaha tadi Patrice juga sangat sulit mendapatkan pekerjaan pada olonial pertambangan yang ada.

Pada akhir tahun 1939 meletus perang dunia ke 2 ditandai dengan serbuan tentara Fasis Jerman ke Polandia. Pada saat itu Negara-negara yang tergabung dengan kekuatan sekutu seperti Inggris, Perancis, Belanda, Belgia, dll bahu-membahu menyusun kekuatan untuk menahan laju maju tentara Fasis Jerman menuju Eropa Barat. Perang yang memakan biaya besar ini juga membutuhkan bahan material pendukung seperti biji besi, timah, minyak, dsb.

Daerah Kindu termasuk daerah di Kongo yang mengandung cadangan deposit timah terbesar dan beberapa bahan mineral lainnya. Berduyun-duyun para pencari kerja pergi menuju kesana untuk mendapatkan pekerjaan di tambang-tambang timah dan tambang bahan-bahan mineral lainnya yang ada.

Di kota Kindu Patrice menjalin kontak dengan beberapa orang pekerja tambang. Patrice dan teman-temannya itu sering berkumpul bukan hanya sekedar membicarakan pekerjaannya tetapi mereka semua mempunyai hobby yang sama yaitu membaca buku. Dari orang-orang inilah maka terbentuk kelompok kecil yang sering melakukan diskusi bersama-sama dan Patrice termasuk pimpinan diantara mereka. Patrice terus melanjutkan hobbynya yang membaca buku itu.

Dia mengikuti dari surat kabar, majalah dan buku-buku tentang kondisi kekinian yang pada saat itu terjadi di seluruh dunia. Dia juga belajar sosiologi dan mulai belajar menulis. Pada awalnya dia belajar untuk membuat puisi tetapi puisi-puisi yang diciptakannya dirasa kurang mengena. Setelah itu dia juga menjalani profesi lain sebagai jurnalis yang kerjanya adalah menulis article dan membuat laporan berita kepada surat kabar local di Leopoldville.

Bagaimanapun juga karena tulisan-tulisannya Patrice mulai mendapat perhatian dari oloni rekan-rekan wartawan dan para pembaca setia. Kebetulan dari para pembaca setia surat kabar dan para pekerja yang berprofesi sebagai wartawan itu kebanyakan berasal dari lingkaran Katolik. Patrice muda dikenal sebagai orang yang mempunyai gaya penulisan berbeda dari para wartawan lainnya dan tulisan-tulisan yang dibuat sering kali kritis cara pandangnya. Sebagai salah satu contoh pada tahun 1948 Patrice menulis sebuah artikel yang berjudul “Mengapa beberapa orang kulit putih memperlakukan anjing peliharaannya lebih baik daripada pelayannya yang berkulit hitam?”. Tulisan Patrice menimbulkan kegemparan di kalangan kaum kolonialis tetapi di kalangan Rakyat Kongo mendapat sambutan yang hangat.

Setelah beberapa tahun Patrice tinggal di kota Kindu maka dia memutuskan untuk pindah ke sebuah kota besar yang mana dia menganggap bahwa di kota itu nantinya akan mendapatkan pekerjaan yang lebih besar dan mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Leopodville adalah kota yang dituju. Setelah beberapa waktu sampai disana Patrice memperoleh pekerjaan di kantor pos dan dia juga mulai melanjutkan pendidikannya. Ditahun itu juga Patrice berkenalan dengan seorang gadis cantik di kampusnya yang bernama Pauline Opanga dan tidak lama kemudian gadis tersebut dinikahinya.

Sesudah Patrice menyelesaikan sekolah pegawai pos-nya dia dipindahkan ke kota Stanleyville, yang merupakan ibukota propinsi Orientale. Dia diangkat menjadi manager kantor pos cabang desa Yangambi dekat Stanleyville.

Dikota Stanleyville ini pandangan dia sebagai seorang pejuang untuk kemerdekaan dan pembebasan Kongo semakin tampak. Dia dengan cepat mendapatkan dukungan, dikenal serta dihormati sebagai tokoh progresif di kota itu. Pada pemilihan ketua ANPBC (Association of Native Personnel of Belgian Congo) di kota Stanleyville Patrice terpilih menjadi ketua organisasi tersebut. Banyak teman-temannya datang ke tempat tinggalnya hanya sekedar berkunjung atau juga melakukan diskusi persoalan-persoalan politik terkini.

Beberapa tahun belakangan ini Patrice dan rekan-rekan sejawat lainnya melihat dengan jelas bentuk-bentuk halus kolonialisme modern di Congo yang bersembunyi dibalik kata-kata “peradaban”. Tetapi yang sesungguhnya terjadi adalah bukan pembangunan peradaban Rakyat Kongo melainkan perbudakan modern dari pemerintah kolonialisme Belgia terhadap Rakyat Kongo.

Kondisi-kondisi buruk, penghinaan dan eksploitasi dari kaum kolonialis asing menyebabkan Rakyat menjadi tidak tahan, karena tekanan yang bertubi-tubi tersebut timbul diantara sebagian masyarakat kesadaran untuk melakukan perlawanan guna membela hak-haknya yaitu Pembebasan Nasional Kongo dari kekuasaan kaum Kolonial Belgia.

Pada tahun 1945 setelah selesainya perang dunia ke 2 banyak terjadi pemogokan di Kongo. Salah satu diantaranya adalah pemogokan buruh pelabuhan di Matadi. Slogan-slogan anti Kolonial juga sudah dikumandangkan pada pemogokan-pemogokan besar dari para buruh tambang dan para pegawai kantoran yang terjadi tahun 1949-1950 di Leopodville. Tahun 1952 ditandai dengan kebangkitan gerakan Pembebasan Nasional di Kongo yang semakin besar sehingga mengguncang fondasi rezim Kolonial.

Kesadaran politik untuk Pembebasan Nasional diantara segenap Rakyat Kongo tumbuh dengan sangat cepat. Pada saat itu kesadaran untuk bebas dan merdeka umumnya memang tumbuh berkembang di benua Afrika. Hal itu menandakan mulai collapse-nya aturan Colonial di Afrika. Mitos yang berkembang selama ini mengenai peradaban barat yang akan membantu masyarakat Afrika primitive dan terbelakang menjadi masyarakat modern menjadi terpatahkan dengan kebangkitan Rakyat Afrika menentang Imperialisme dan Kolonialisme. Mitos-mitos tersebut adalah illusi belaka dan memang sering ditiupkan oleh kaum Kolonialis.

Selama berdekade-dekade kaum Kolonialis Belgia membangun mitos untuk menjadikan Kongo “koloni yang sangat baik” dimana terdapat “keharmonisan” antara penduduk asli dan kaum “penerang” Belgia serta kaum industrialist Eropa. Dan ini menjadi percontohan bagi daerah-daerah koloni yang lain di Afrika.

Sebagai perbandingan gaji yang diterima oleh pegawai orang Belgia selama 1 tahun berkisar sekitar 500 ribu francs, sedangkan gaji yang diterima oleh pegawai tinggi Kongo yang bekerja di pertambangan berkisar 15 ribu francs dan itu adalah penghasilan maksimal yang dapat diperoleh.

Keuntungan besar dari kaum colonial yang lainnya adalah penguasaan terhadap kekayaan sumber-sumber daya alam, seperti tambang. Ini mendatangkan keuntungan yang sangat besar. Propaganda dari kaum Kolonial mengatakan bahwa hasil keuntungan dari pengusahaan dan penjualan hasil tambang tersebut akan dikembalikan kepada Rakyat Kongo dalam bentuk pembangunan infrastruktur kota dan desa serta membangun sekolah-sekolah. Tetapi kenyataan yang dapat dilihat dan dirasakan merupakan kebohongan besar, Rakyat Kongo hidup dibawah garis kemiskinan, sangat sedikit putra dan putri Kongo yang dapat mengenyam pendidikan, infrastruktur kota dan desa rusak parah kecuali beberapa tempat dikota besar yang mempunyai hubungan langsung dengan daerah pertambangan.

Terdapat 5 perusahaan monopoly besar yang dikelola oleh kaum Kolonial Belgia yang mengontrol 90 percent dari investasi di Kongo. Modal Belgia memainkan peranan yang dominan didalam ekonomi Kongo tetapi peranan kaum Imperialis Inggris dan Amerika juga tidak kalah besar karena mereka juga mempunyai share sebanyak 25 percent di perusahaan-perusahaan monopoly itu. Berarti lengkap sudah penderitaan Rakyat Kongo yang dijajah oleh para pengusaha kaya dari Belgia, Inggris dan Amerika. Penjajahan itu dibacking oleh pemerintahan Kolonial Belgia yang bersenjata lengkap.

O.P. Gilbert seorang penulis buku ternama dari Belgia pada tahun 1947 menulis sebuah buku yang berjudul “The Empire of Silence”. Buku ini hanya diterbitkan di Belgia tetapi sangat dilarang di Kongo. Diam-diam buku ini dibaca oleh kaum Progressive. Buku itu menggambarkan bagaimana kemurahan hati dan penindasan kaum Kolonial di Kongo. Tambang-tambang, pabrik-pabrik, perkebunan-perkebunan dan perusahaan-perusahaan komersial dimiliki oleh “Societe Generale” dan beberapa kartel.

Kartel-kartel itu tampak seperti negara dalam negara dan cabang-cabangnya di daerah seperti juga menyerupai negara. Untuk mengelola perusahaan-perusahaan itu mereka memiliki ribuan pekerja tehnik dan pekerja tambang kulit putih yang membawahi 10 ribu pekerja kulit hitam. Mereka mempunyai pasukan polisinya sendiri dan mempunyai alat propagandannya sendiri. Mereka membiayai segala urusan yang berbau dengan bisnis dan berada di semua penjuru wilayah Kongo serta memerintah bagaikan Tuan Besar. Mereka menentukan apa saja terutama nasib kaum Buruh.

Lumumba belajar banyak tentang arti modal, kekayaan dan kekuasaan dari buku tersebut. Dia mempunyai pengalaman bagaimana mendapatkan perlakukan yang bar-bar dan sewenang-wenang dari kaum Kolonialis yang menganggap bahwa ratusan ribu Rakyat pekerja itu seperti budak. Dengan semangat yang menggebu-gebu sebagai seorang pejuang Rakyat, Lumumba muncul sebagai seorang yang melawan aturan sewenang-wenang. Dia menghimbau Rakyatnya agar berperan aktif berjuang untuk mendapatkan hak-haknya sebagai manusia.

Pemerintahan colonial yang menyaksikan semakin berkembangnya pengaruh Lumumba menjadi cemas dan pada tahun 1956 tanpa alasan yang jelas Lumumba di tangkap serta dimasukkan kedalam penjara dengan vonis 18 bulan. Rakyat kota Stanleyville menunjukkan solidaritas yang tinggi atas penangkapan tersebut dan mengorganisasikan sebuah seruan untuk bersolidaritas atas perjuangan Lumumba dan kawan-kawan.

Setelah dia dibebaskan pada bulan Juni tahun 1957, Lumumba pindah menuju kota Leopodville, dimana dia mendapatkan pekerjaan di perusahaan minuman ringan dan bir. Pekerjaan ini memungkinkan Lumumba untuk bepergian ke luar kota atau daerah pinggiran kota. Lumumba banyak bertemu dan berbincang-bincang dengan orang-orang yang hidup dibawah garis kemiskinan. Situasi ini membuat Lumumba menjadi seorang orator yang ulung karena sering berpidato didepan Rakyat dan karena ini pula maka Lumumba semakin popular menjadi figure yang dikenal di kota Leopodville dan lingkungan sekitarnya.

Karena aktifitasnya ini membuat Lumumba menjadi seorang politikus dan menjadikannya sebagai ketua dari Federasi Batetela. Karena mewakili organisasi itu Lumumba datang menghadiri pertemuan partai Liberal. Tetapi aktifitas politik ini tidak juga memuaskan dirinya karena dia mempunyai satu tujuan yaitu penghilangan perbudakan di tanah Kongo dan dengan segera menuntut kemerdekaan negaranya. Kemerdekaan sejati dari Rakyat Kongo bebas dari penjajahan kaum Kolonialis Belgia.

Untuk mewujudkan cita-citanya itu Lumumba berusaha mendirikan partai politik. Partai politik yang didirikannya itu merupakan partai Politik dari Rakyat Kongo bukan partai politik yang berdasarkan kesukuan, yang bercita-cita memperjuangkan kemerdekaan Negara Kongo.

Buat Rakyat Kongo ide partai seperti itu adalah sesuatu yang baru dan Revolusioner. Selain itu partai ini juga dibentuk untuk menandingi partai Abako yang dipimpin oleh Kasavubu. Partai Abako didirikan pada tahun 1950 dan basis pengikutnya berasal dari suku-suku tertentu. Partai yang seperti ini sangat didukung keberadaannya oleh pemerintahan Kolonial Belgia karena menjadikan Rakyat Kongo terbagi-bagi menjadi beberapa etnik yang berdasarkan kesukuan sehingga mudah di adu domba satu sama lain. Hal ini dilakukan agar terjadi perpecahan diantara Rakyat Kongo sehingga persatuan dan perjuangan Rakyat Kongo untuk Pembebasan Nasional dari kaum Kolonialis Belgia tidak akan pernah terwujud.

Karena idenya ini maka Lumumba semakin popular di mata Rakyat Kongo. Popularitasnya ini tidak hanya terbatas pada Negara Kongo tetapi juga mulai terdengar seantero benua Afrika. Sebagai contoh berikut ini adalah kutipan dari laporan luar negeri Inggris:

Lumumba seorang pekerja keras, dari fisiknya saja tampak seorang yang cerdas dan pemberani. Dia adalah seorang nasionalis sejati yang sangat anti kepada politik suku-isme dan wilayah-isme. Lumumba terlihat sebagai seorang politkus Kongo yang mempunyai keinginan dan ambisi untuk menyatukan Rakyat Kongo.

Tahun 1958 ditandai dengan semakin besarnya aktifitas Rakyat Kongo dalam dunia politik maka didirikanlah di Leopodville sebuah partai politik dengan nama Partai Nasional Kongo (CNM - Congo National Movement) yang dipimpin oleh Patrice Lumumba. Program politknya seperti yang ditetapkan pada tanggal 10 Oktober 1958 adalah menolak segala politik kesukuan dan politik wilyah serta bersama-sama dengan Rakyat Kongo menuntut penentuan nasib sendiri (self determination) oloni Kongo. Dan jika Kongo sudah merdeka dengan segera menyatukan segenap wilayah yang terpecah-pecah akibat politik suku dan wilayah itu.

Lumumba dan partai CNM tidak hanya membatasi perjuangan untuk menentang Kolonialisme pada wilayah Kongo tetapi juga menyuarakan gerakan anti Kolonial keseluruh penjuru Benua Afrika dan juga menggalang solidaritas Rakyat Afrika anti Imperialis. Karena solidaritas tersebut CNM juga membangun kontak dengan berbagai organisasi perlawanan Afrika yang lainnya. Pada bulan December 1958 Lumumba datang menghadiri Konferensi Rakyat Afrika di Accra dan pada acara tersebut Lumumba terpilih menjadi anggota komite Rakyat Afrika.

Terjadi kejadian yang dramatic sekembalinya Lumumba dari konferensi Rakyat Afrika di Accra. Pada tanggal 4 January 1959 ketika sedang melakukan perjalanan keliling di Leopodville untuk mensosialisasikan hasil-hasil keputusan konferensi maka pemerintahan Kolonial Belgia dengan segera melarang acara rally tersebut karena acara itu dianggap sebagai bagian dari gerakan Pembebasan Nasional. Tetapi himbauan dan larangan pemerintahan Kolonial itu tidak digubris, 15 ribu orang berbaris dengan rapih berpawai keliling kota dengan tujuan akhir berkumpul di Leopodville’s Victory Square untuk mendengarkan pidato Patrice Lumumba. Dibeberapa posisi strategis di dalam kota dijaga oleh ribuan aparat kepolisian dengan senjata lengkap. Keadaan semakin memanas dan akhirnya gesekan tidak dapat dihindari. Ketika barisan massa berusaha melewati daerah pusat kota yang dipasang barikade kawat berduri terdengar tembakan salvo dari aparat kepolisian yang berjaga-jaga, kekacauan mulai timbul karena dari tengah-tengah belasan ribu demonstran itu jatuh korban, puluhan orang tewas tertembak di tempat dan ribuan lagi bertahan diberbagai tempat melakukan perlawanan dengan menggunakan batu, bom Molotov, dsb.

Rakyat Kongo yang berada di kota Leopodville segera melakukan pembalasan atas penembakan brutal dari aparat kepolisian. Pos-pos polisi yang berada di pinggiran kota diserang, kantor-kantor dan toko-toko yang dimiliki oleh orang-orang Belgia dan Portugis di distrik Afrika dibakar. Pertempuran jalanan terjadi selama 3 hari 3 malam. Aktivitas bisnis terhenti selama aksi-aksi perlawanan itu. Spontanitas dari perlawanan massa itu menandai sebagai dimulainya gerakan perlawanan untuk kemerdekaan.

Karena besarnya perlawanan dan tekanan yang diberikan oleh Rakyat Kongo maka pemerintahan Kolonial Belgia memberikan beberapa konsesi. Pada tanggal 13 January, Raja Baudouin dari Belgia secara samar-samar memberikan janji Rakyat Kongo untuk kemerdekaan negerinya suatu hari kelak.
Lumumba dan rekan-rekannya yang lain langsung bekerja lebih keras dan giat lagi. Tuntutan dari perjuangan yang dilakukan oleh mereka sekarang adalah KEMERDEKAAN!!

Lumumba melakukan perjalanan ke distrik-distrik dan kota-kota, mengorganisasikan pertemuan-pertemuan dan melakukan pawai rally setelahnya. Selain itu dia juga mendirikan komite-komite distrik dan propinsi untuk partai CNM. Aktivitas Lumumba ini dinamakan “perjalanan menuju kemenangan”. Salah satu kota yang menjadi tujuan dari tour Lumumba adalah Elisabethville. Kota ini adalah basis terkuat dari Serikat Buruh kuning Miniere dan partai reaksioner pendukung pemerintahan Kolonial Belgia yaitu Partai Conakat yang dipimpin oleh Tshombe. Tetapi walaupun dalam kondisi yang mencekam pawai itu tetap dilakukan dan sukses dihadiri oleh ribuan penduduk kota.

Pada bulan April 1959, saat kongres pertemuan dari partai-partai politik Kongo, Lumumba kembali mengungkapkan cita-cita kemerdekaan Kongo. Dia menghimbau agar kongres segera melakukan persiapan dan finalisasi untuk kemerdekaan Kongo yang sedianya akan dilakukan pada tanggal 1 January 1961 serta membentuk pemerintahan dari Rakyat Kongo sendiri.

Kongres dari Partai Nasional Kongo dilakukan pada bulan Oktober 1959 di Stanleyville. Dengan dipimpin oleh Lumumba sendiri kongres menghasilkan resolusi untuk melakukan pertemuan antara wakil-wakil Rakyat Kongo dengan pemerintahan Kolonial Belgia dan dalam pertemuan itu nanti akan diserahkan petisi untuk menuntut kemerdekaan Kongo.

Karena melihat partisipan kongres itu dihadiri oleh ribuan Rakyat Kongo maka pemerintahan Kolonial Belgia melakukan aktifitas reaksioner dengan cara melakukan berbagai usaha provokasi. Pawai damai disekitar acara kongres disambut dengan tembakan yang brutal dari aparat kepolisian dan tentara Belgia. Puluhan orang tewas dan ratusan lagi terluka. Beberapa hari kemudian keluarlah surat penahanan dengan tuduhan “menghasut Rakyat Kongo” dan “mengganggu ketertiban umum” dari pemerintahan Kolonial Belgia untuk Lumumba dan beberapa orang rekannya. Setelah menerima surat tersebut Lumumba bersama beberapa orang rekannya langsung digiring ke penjara oleh polisi Belgia.

Tetapi tindakan represi yang dilakukan oleh kaum Kolonialis tidak menyurutkan semangat Rakyat Kongo untuk menuntut kemerdekaannya. Walaupun beberapa orang pimpinan mereka dijebloskan kedalam penjara tetapi hampir tiap hari terlihat aksi-aksi pawai massa dijalan yang menyuarakan kemerdekaan bagi Kongo dan juga tuntutan untuk dilepaskannya para tahanan politik.

Karena tekanan yang dilakukan oleh kaum progresif dan Rakyat Kongo semakin hari nampak kian membesar dan juga pertumbuhan dari organisasi-organisasi Rakyat dari seluruh penjuru negeri yang menuntut kemerdekaan juga semakin banyak maka pada akhir January 1960 pemerintahan Belgia menggagas sebuah pertemuan dengan nama “konferensi meja bundar”. Pertemuan tersebut dihadiri oleh para pemimpin politik “moderate” dari Rakyat Kongo dan wakil pemerintahan Belgia. Dalam pertemuan itu dibahas mengenai soal-soal yang menyangkut kemerdekaan Kongo dikemudian hari.

Tanggal 18 January 1960 secara diam-diam Lumumba dan beberapa orang rekannya dipindahkan secara diam-diam dengan tangan terborgol dari penjara di kota Stanleyville ke kota Jadotville yang merupakan kota industry di distrik Katanga dan menjadi basis utama dari Serikat Buruh Kuning Miniere. Dua hari setelah berada di Stanleyville sebetulnya ada usaha dari pemerintahan Kolonial Belgia untuk memberangkatkan Lumumba dan kawan-kawannya ke Belgia, tetapi usaha reaksioner ini ditolak dan segala upaya pemaksaan akan dilakukan perlawanan. Karena sikap yang tidak kooperatif ini maka kaum kolonialis membatalkan rencana tersebut. Dan setelahnya karena tidak ada bukti dari tuntutan yang diajukan oleh pemerintah Kolonial maka Lumumba dan kawan-kawan dibebaskan oleh pengadilan.

Pada “konferensi meja bundar” tersebut pemerintahan colonial Belgia sengaja hanya mengundang perwakilan dari kelompok moderate Rakyat Kongo dari 81 delegasi Kongo yang hadir, 22 diantaranya adalah perwakilan dari National Progress Party (NPP), yang mana setiap aktifitas politiknya dibiayai oleh pemerintahan Kolonial Belgia. Kaum Kolonialis berharap dapat mendikte keputusan yang dihasilkan oleh konferensi itu. Dan konferensi berakhir pada tanggal 30 Juni 1960 bertepatan dengan hari di proklamirkannya kemerdekaan Kongo.

Musim semi tahun 1960, Patrice Lumumba tengah sibuk mempersiapkan diri dan partainya untuk mengikuti pemilihan parlement yang dilakukan untuk pertama kalinya di Kongo. Pemilihan umum yang dilakukan pada tanggal 17-19 Mei 1960 menghasilkan kemenangan pada CNM. Partai yang dipimpin oleh Lumumba memperoleh 34 kursi di parlement. Setelah kemenangan yang dramatis itu maka CNM yang melakukan aliansi dengan Partai Solidaritas Afrika - African Solidarity Party (ASP) yang dipimpin oleh Antonie Gizenga, Partai Balubakat dan beberapa partai yang lain, menerima mandate untuk membentuk satu pemerintahan Rakyat Kongo dengan Patrice Lumumba terpilih menjadi Perdana Menteri. Dengan terpilihnya Patrice Lumumba sebagai Perdana Menteri berarti menandakan untuk pertama kalinya dalam sejarah, Rakyat Kongo memiliki pemerintahannya sendiri. Pada tanggal 30 Juni 1960 Patrice Lumumba membacakan proklamasi kemerdekaan Negara Kongo yang mana hal tersebut menandakan berakhirnya perbudakan colonial di tanah Kongo.

Berikut adalah cuplikan dari pidato kemerdekaan yang dilakukan oleh Perdana Menteri Patrice Lumumba:

“Men dan women of the Congo

Victorious independence fighters,

I salute you in the name of the Congolese Government. I ask all of you, my friends, who tirelessly fought in our ranks, to mark this June 30, 1960, as an illustrious date that will be ever engraved in your hearts, a date whose meaning you will proudly explain to your children, so that they in turn might relate to their grandchildren dan great-grandchildren the glorious history of our struggle for freedom.

“……………………The Congo independence is a decisive step towards the liberation of the whole African continent.

Our government, a government of national and popular unity, will serve its country.

“……………………Eternal glory to the fighters for national liberation!!

Long live independence and African unity!!

Long live the independent and sovereign Congo!!”

Setelah pembacaan proklamasi kemerdekaan maka sambutan dari segenap anggota parlemen yang hadir sangat meriah. Di luar gedung parlemen puluhan ribu Rakyat Kongo berkumpul riang gembira menyambut pembacaan proklamasi kemerdekaan Kongo.

Pemerintahan Kolonial Belgia goyah dengan dibacakannya proklamasi kemerdekaan. Jika mereka tetap bertahan di Negara Kongo pasti terjadi banjir darah, Rakyat Kongo akan mempertahankan kemerdekaannya dan untuk itu siap melakukan perlawanan dalam bentuk apapun.

Tuntutan lain yang dibacakan oleh Parlemen Kongo setelah proklamasi kemerdekaan adalah penarikan semua pasukan dan polisi Belgia yang berada di seluruh wilayah Kongo, karena hanya dengan cara tersebut yang dapat memulihkan situasi keamanan yang selama ini goyah. Untuk mengawal proses peralihan pemegang kekuasaan dari pemerintahan Kolonial Belgia ke pemerintahan Rakyat Kongo akan dipanggil pasukan PBB untuk melakukan pengamanan.

Ditengah sambutan suka cita Rakyat Kongo karena kemerdekaan negerinya propinsi Katanga yang berada dibawah pengaruh Moise Tshombe melakukan pengumuman pemisahan diri dari Republik Kongo. Tshombe yang merupakan agen imperialis Belgia tidak menyetujui keputusan parlemen Kongo dan tengah bersiap-siap mempersenjatai diri dengan bantuan uang dari kaum Kolonial untuk menggagalkan semua daya upaya yang dilakukan Patrice Lumumba dan kawan-kawan. Tshombe ketika jaman pendudukan Belgia adalah seorang pengusaha besar yang mempunyai link bisnis dengan para pengusaha besar Belgia dan banyak perusahaan-perusahaan Belgia itu dipercayakan untuk dikelola oleh dirinya.

Negara yang pertama kali mengakui kemerdekaan Kongo adalah Uni Sovyet. Tidak lama setelah proklamasi kemerdekaan Kongo, Uni Sovyet membuka perwakilannya di Stanleyvile. Selain itu Uni Sovyet dengan segera memberi bantuan berupa makanan, obat-obatan, alat-alat transportasi berupa motor dan mobil, pengiriman dokter-dokter ahli, serta membantu mendidik Rakyat Pekerja Kongo agar dapat membangun infrastruktur berupa jalan, rumah, jalur kereta api, dsb. Semua itu menandakan tanda dimulainya persahabatan yang erat antara Rakyat Kongo dan Rakyat Uni Sovyet.

Didalam negeri dihembuskan isyu oleh agen Imperialis Tshombe bahwa Patrice Lumumba dan CNM adalah komunis. Dalam sebuah wawancara dengan Koran perancis “France-Soir” pada tanggal 22 Juli 1960 sang wartawan menanyakan sbb:

Tanya: beberapa lawan politik anda menyatakan bahwa anda adalah seorang komunis, bagaimana anda menjelaskan hal ini?

Jawab: ini adalah propaganda yang bertujuan untuk menjelekkan diri saya. Saya bukan seorang komunis. Kaum Kolonial berkampanye untuk melawan diri saya keseluruh negeri disebabkan karena saya adalah seorang revolusioner yang selalu konsisten menuntut kemerdekaan Negara Kongo dan menuntuk untuk digulingkannya rezim Kolonial Belgia. Rakyat Kongo menuntut kemerdekaan sebab pemerintahan Kolonial tidak menghargai martabat kemanusiaan. Kaum Kolonial memandang saya sebagai komunis karena saya menolak segala sogokan dari agen-agen imperialist!!

Sejak tanggal 16 July 1960 pasukan perdamaian PBB datang ke Kongo, sejak awal parlemen Kongo mengamanatkan bahwa segera dilakukannya penarikan pasukan, polisi dan petugas administrative Belgia di Kongo. Tetapi setelah beberapa waktu pasukan PBB datang ke Kongo tidak terlihat usaha-usaha dari pihak PBB dan pemerintahan Belgia untuk menarik mundur aparatnya keluar dari Kongo. Malahan yang terjadi terlihat dilapangan pasukan PBB itu justru memperkuat kekuasaan pemerintahan Kolonial Belgia. Komunikasi dan kordinasi pasukan PBB justru dilakukan bukan kepada pemerintahan Rakyat Kongo pimpinan Patrice Lumumba tetapi kepada kaum Kolonial dan kelompok agen
Imperialis Tshombe.

Dengan semakin kokohnya kekuasaan pasukan PBB di Katanga maka Tshombe yang bekerjasama dengan pemerintah Belgia mengadakan persiapan latihan militer untuk melawan pemerintahan yang syah di Leopodville. Pasukan PBB yang datang ke Kongo bukannya bersikap netral malahan berpihak kepada kaum pemberontak dan agen Imperialis Tshombe. Pemerintahan Kolonial Belgia juga mulai pindah ke Katanga. Tindakan represi yang brutal mulai dilakukan oleh para pengikut Tshombe kepada Rakyat Katanga yang dicurigai sebagai pendukung CNM. Tidak ada tindakan pengutukan dari pasukan dan perwakilan PBB akan berbagai aksi kekerasan yang dijalankan oleh para pengikut Tshombe.

Dunia Barat terdiam membisu melihat kejadian-kejadian brutal di Katanga. Pemerintahan Belgia, Inggris, Perancis, Amerika Serikat, dll sibuk di pertemuan PBB mengecam Patrice Lumumba dan kawan-kawanya sebagai orang-orang komunis yang merupakan Agen Uni Sovyet.

Pada bulan Agustus 1960 terjadi demonstrasi yang hebat di seluruh penjuru negeri untuk mengutuk peristiwa pembantaian di Katanga. Karena derasnya tekanan dari Rakyat Kongo maka Dewan Keamanan PBB berjanji akan mengusut tuntas pembantaian itu dan akan menyeret serta mengadili pihak-pihak yang bersalah.

Situasi yang bergejolak di seluruh Kongo ini berakhir anti klimaks dengan dikudetanya pemerintahan PM Patrice Lumumba pada tanggal 14 September oleh Kolonel Joseph Mobutu (yang nantinya dikenal dengan nama Mobutu Sese Seko, seorang dictator korup yang berkuasa di Kongo/Zaire sekitar 35 tahun) yang bekerjasama dengan Presiden Kasavubu dan menteri luar negeri Bamboko. Presiden Kasabuvu menyatakan bahwa PM Patrice Lumumba gagal dalam menjalankan pemerintahannya sehingga menurut undang-undang yang berlaku mandate harus dikembalikan kepada ketua parlemen yaitu Mr. Joseph Ileo.

Perdana Menteri Patrice Lumumba dan rekan seperjuangannya yaitu Mr. Okito - Wakil ketua parlemen dan Mr. Polo - Menteri Pemuda ditahan oleh tentara ANC (Army National Congo) yang dikepalai oleh Kolonel Joseph Mobutu. Lumumba dkk dibawah menuju sebuah kamp pengungsi Ghana yang dikontrol oleh tentara di Leopodville. Setelah tidak lama berada di kamp tersebut Lumumba dkk di serahkan kepada pasukan PBB. Oleh pasukan PBB Lumumba dkk dikenakan tahanan rumah.

Beberapa lamanya Lumumba, Mr. Polo dan Mr. Okito menjalani tahanan rumah. Sampai pada sekitar akhir bulan November 1961 Lumumba dkk berhasil melarikan diri, tetapi ketika dalam perjalanan menuju Stanleyville untuk bergabung bersama pasukan pemberontak yang melawan tentara ANC pimpinan Kolonel Joseph Mobutu, Lumumba dkk berhasil di tangkap oleh pasukan ANC dalam satu operasi militer di daerah Mweka. Menurut satu kesaksian sebelum ditangkap oleh tentara, Lumumba sehari sebelumnya masih terlihat berpidato di depan Rakyat Mweka. Setelah ditangkap maka Lumumba dkk dibawa ke Fort Francqui untuk selanjutnya diterbangkan dengan pesawat menuju Leopodville.

Pada tanggal 2 december 1960 jam 5.15 pm di Njili airport Lumumba dkk tiba dan langsung dibawa oleh tentara dengan pengawalan yang sangat ketat dengan tujuan yang tidak diketahui. Tanggal 3 December Lumumba dkk dipindahkan menuju kamp Hardy di Thysville. Setelah ditahan lebih dari sebulan dan menjalani siksaan yang sangat kejam Lumumba dkk pada tanggal 17 january 1961 dipindahkan ke Elizabethville, Katanga. Dan pada hari itu juga Patrice Lumumba, Mr. Okito dan Mr. Polo dihukum mati oleh tentara pimpinan Tshombe.

Sewaktu didalam penjara Thysville Patrice Lumumba masih sempat membuat surat untuk istrinya dan berhasil diselundupkan keluar penjara. Berikut adalah cuplikan surat tersebut:

“My dear wife, I am writing these words to you, not knowing whether they will ever reach you, or whether I shall be alive when you read them.

Throught out my struggle for independence or our country I have never doubted the victory or our sacred cause, to which I and my comrades have dedicated all our lives.

“………….. I know and feel deep in my heart that sooner or later my peoples will rid themselves or their internal dan external enemies, that they will rise up as one in order to say “No” to colonialism, to brazen, dying colonialism, in order to win their dignity in clean land”.

“……… Without dignity there is no freedom, without justice there is no dignity and without independence there is no free men”.

“……… It will be the history that will be taught in the countries which have won freedom from colonialism and its puppets.

Africa will write its own history and in both north and south it will be history of glory and dignity.

Do not weep for me. I know that my tormented country will be able to defend its freedom and its independence.

Long live the Congo!

Long Live Africa!”

DAFTAR PUSTAKA

• The Black Panther, Saturday January 16, 1970.
• Patrice Lumumba – Fighter for Africa’s Freedom, Progress Publishers Moscow, 1963
Posted by Unknown
Tag :

Njoto: Politik Itu Penting Sekali. Jika Kita Menghindarinya, Kita Akan Digilas Mati Olehnya


Bogor, 6 Oktober 1965. Negara genting. Rabu pagi itu Bung Karno menelepon semua menteri supaya menghadiri sidang Kabinet Dwikora di Istana Bogor. Inilah rapat kabinet pertama yang diadakan Presiden setelah peristiwa G30S meletus. Sepekan baru berlalu sejak tujuh perwira tinggi TNI tewas dibunuh di Lubang Buaya. Jakarta diliputi pertanyaan besar: apa yang sesungguhnya terjadi? Betulkah Partai Komunis Indonesia terlibat?
Semua menteri segera bergegas ke Bogor dengan mobil dinas mereka. Beberapa di antaranya bahkan dikawal panser militer. Dua orang yang juga meluncur ke Bogor adalah Njoto dan M.H. Lukman. Keduanya adalah menteri negara yang juga pengurus teras PKI, partai yang dituding tentara berada di belakang prahara G30S. Ketua PKI, D.N. Aidit, yang juga salah satu menteri, telah hengkang ke Solo pada 1 Oktober pagi. Di dalam rapat kabinet itu, Nyoto menyatakan bahwa PKI tidak bertanggung jawab atas peristiwa berdarah G 30 S."Kejadian itu adalah masalah internal Angkatan Darat." Soekarno pun berbicara: "Selalu ada peruncingan-peruncingan kekuatan. Kalau Darul Islam merupakan peruncingan kanan, Permesta peruncingan nasionalis, maka ini peruncingan kiri." Dan lagi, Sukarno menyebutkan bahwa peristiwa G30S hanyalah riak kecil dalam revolusi Indonesia. "Jika benar G 30 S didalangi PKI, tentu PKI bertindak kekanak-kanakan," kata Bung Karno.
***
Njoto adalah satu dari banyak nama yang muncul saat kita membaca atau menelusuri literature dan jejak sejarah gerakan komunis di Indonesia. Orang-orang komunis yang sering diungkapkan Soekarno (dalam setiap pidatonya) banyak berjasa dalam perjuangan bangsanya. Beribu-ribu mereka dibuang ke tempat-tempat pembuangan ke Digul atau mati dalam perlawanan terhadap penjajah Belanda.
Njoto anak tertua (satu-satunya lelaki) dari 3 bersaudara. Dilahirkan di Bondowoso, 17 Januari 1927; menikahi Soetarni (kelahiran Solo, 10 Juni 1928) yang berasal dari keluarga ningrat Mangkunegaran pada tahun 1955; dan punya 7 anak. Anak pertama, Svetlana, baru berumur 9 tahun saat pecah tragedi 1965 sementara anak terkecil masih dalam kandungan dan baru lahir pada Juli 1966. Njoto sendiri "hilang tanpa jejak" sejak 16 Desember 1965. Istri Njoto dan ke-7 anaknya sempat ditahan di salah satu Kodim di
Jakarta selama berbulan-bulan. Sekitar akhir 1966 atau awal 1967 dibebaskan dari Kodim, tapi pertengahan 1969 kembali ditangkap dan ditahan dari satu penjara ke penjara lainnya: Wonogiri, Semarang, Jakarta (Bukit Duri), dan terakhir di Plantungan, Jawa Tengah.
Njoto tidak hanya dikenal satu sebagai salah satu dari Tiga Serangkaiorang-orang muda yang memimpin Partai Komunis Indonesia: Aidit, Lukman, Njoto. Nyoto sendiri kemudian dikenal sebagai Wakil Ketua II CC PKI di samping sebagai seorang publisis, penyair, essais dan penulis naskah pidato Bung Karno. Di kantor redaksi koran Harian Rakjat Njoto menulis editorial, pojok atau kolom Catatan Seorang Publisis tempat dia menggunakan nama pena Iramani.
Saat terjadi polemik mengenai Soekarnoisme antara Merdekamelawan Harian Rakjat (Koran resmi PKI), Njotolah yang menulis seluruh polemik itu dengan cemerlang. Para pengamat sejarah pers nasional mencatat polemik antara harian Merdeka dan Harian Rakjatsebagai yang terbesar dalam sejarah. Kedua belah pihak yang berpolemik sama –sama membukukan jalannya pertarungan pena itu.
Kekuatan lain seorang Njoto adalah dayanya dalam melihat sisi baik seseorang. Pernah ia menyelamatkan Ernest Hemingway dari kutukan massa ketika ramai-ramai film Amerika diserang. Njoto menyembunyikan nama pengarang Amerika, pahlawan perang dunia II itu dari sebuah iklan film yang mencantumkan namanya. “Tidak ada yang buruk dari Hemingway karenanya ia pantas diselamatkan” kata Njoto saat itu.
Sekitar tahun 1950, para pelukis dan penulis kiri bertemu dengan Njoto. Mereka berdiskusi tentang peranan seni dalam perjuangan kelas. Njoto menganjurkan perpaduan antara tradisi besar realisme kritis dan romantisme untuk membuat kesenian yang menampilkan kenyataan sosial (realisme) menuju ke proses perubahan revolusioner (romantisme).
Piagam Lekra, juga Njoto yang menyusun. Dan Lekra menjadi begitu besar dan berpengaruh di bidang kebudayaan! Selama kurun waktu 15 tahun (1950-1965), Lekra telah menorehkan sejarah kebudayaan di Indonesia. Salah satu prestasi Lekra yang mencengangkan adalah mampu membawa kebudayaan sampai ke kampung-kampung paling kumuh dan menyatu dengan aktivitas keseharian rakyat. Dalam Kongres Lekra di Solo, Njoto menyatakan: “Politik itu penting sekali. Jika kita menghindarinya, kita akan digilas mati olehnya. Oleh sebab itu dalam hal apapun dan kapan saja pun politik harus menuntun segala kegiatan kita”. Demikianlah Pramoedya Ananta Toer, sastrawan besar Indonesia, yang menghormati dan menghargai pikiran-pikiran Nyoto kemudian juga menyatakan: “Kesalahan politik adalah lebih jahat daripada kesalahan artistik”.
Njoto dengan begitu mempunyai daya tarik sendiri bagi kalangan intelektual dan pekerja seni di Indonesia. Orang-orang besar berkerumun di sekitar Njoto: Affandi, Soedjojono, Rivai Apin, termasuk Pramoedya Ananta Toer. Bahkan ada kelakar waktu itu: andai saja Chairil Anwar panjang umurnya dan bertemu Njoto, dia akan masuk Lekra juga. Karena menurut cerita, setelah menyerahkan sajak ‘Aku’nya kepada pusat kebudayaan Jepang,
Chairil Anwar dipanggil Kempeitai: diinterogasi, disiksa, disuruh minum air seember dan perutnya diinjak-injak. Jepang menganggap sajak Chairil sebagai wakil dari pernyataan sikap ingin bebas dari Indonesia. Ia seorang patriot. Ke mana lagi seniman patriot itu akan bergerak kalau tidak bergabung dengan Lekra?
Lagi, Pramoedya Ananta Toer yang pernah mendapat perlakuan sangat buruk oleh militer: semua kertas kerja, naskah-naskah karya, juga perpustakaannya dihancurkan massa yang menyerbu, merampok apa saja yang ada sampai-sampai pohon mangga yang sedang sarat berbuah digoncang buahnya, bahkan tak ada satu cangkir atau piring tersisa; dan rumah Pram pun tinggal bolongan kosong blong, pun menyatakan: “Jangan dikira ada perasaan dendam pada saya; tidak. Justru yang teringat adalah satu kalimat dari Njoto: “Tingkat budaya dan peradaban angkatan perang kita cukup rendah dan memprihatinkan, kita perlu meningkatkannya”. Ia juga teringat pada kata-kata Njoto yang lain: “Kalau kau mendapatkan kebiadaban, jangan beri kebiadaban balik, kalau mampu, beri dia keadilan sebagai belasan.”
Jauh sebelum dikenal sebagai tokoh PKI, Njoto juga dikenal sebagai seorang seniman musik. Tidak jarang ia mengisi acara musik lepas senja di studio RRI bersama Adikarso dan Bing Slamet. Ia pun ikut terlibat dalam pembicaraan tentang Genjer-Genjer. Naluri musikalitas Njoto terucap dalam kata-kata yang bernada meramal: “Lagu ini pasti akan segera meluas dan menjadi lagu nasional!” Tidak meleset memang karena sekitar setahun kemudian Genjer-Genjer telah terdengar di Jakarta baik melalui siaran RRI maupun tayangan TVRI dan dikenal sebagai lagu rakyat Banyuwangi aransemen oleh M. Arief,yang sementara itu telah bekerja di Seksi Musik TVRI Jakarta. Piringan hitam Genjer-Genjer kemudian memasuki pasaran dinyanyikan oleh Bing Slamet dalam lirik Jawa dan bukan Jawa-Banyuwangi. Seorang fotografer istana (yang meliput acara–acara kenegaraan Bung Karno pada masa itu) kerap berada di ruang tamu rumah Njoto di Jalan Malang, Menteng, Jakarta Pusat: “Pada hari-hari tertentu saya biasa datang ke rumah Njoto untuk meminjam buku atau menonton Njoto bermain musik dengan teman-teman masa mudanya, antara lain Jack Lesmana.”
Njoto dengan begitu memikat buat siapa saja. Kalau di istana negara berlangsung resepsi dan Bung Karno menutup acara dengan ber-lenso,Njoto meninggalkan para menteri yang duduk di sebelahnya dan menyelusup di antara para artis. Di tengah-tengah para penabuh alat-alat musik, dialah yang memainkan keyboard dan turut mengiringi penyanyi hebat kala itu seperti Titiek Puspa dan Fetti Fatimah.
Sebagai intelektual (Marxist), Njoto juga tak perlu diragukan. Joesoef Issack, pendiri Hasta Mitra, memandang Njoto memiliki kelebihan dan keistimewaan tersendiri dari semua tokoh PKI yang ada. Ia adalah seorang pemikir intelektual tetapi tak pernah menunjukkan dirinya melebihi segala-galanya. Komitmennya pada semangat kerakyatan dapat dilihat dari kesederhanaan hidupnya. Pandangannya mengenai realitas tercermin dari pola-pikirnya yang mudah dipahami setiap kalangan masyarakat. Hal lain yang dikagumi Joesoef Issack dari Njoto adalah kehebatannya dalam mengemas gaya bahasa Bung Karno, menempatkan diri dalam pikirannya bahkan pikiran politiknya. Selain itu ia juga sanggup mengkreatifkan bahasa Bung Karno, mengembangkan pikiran–pikiran maju
berdasarkan pikiran Bung Karno itu sendiri. Dengan begitu ia berusaha menempatkan diri sebagai pemikir yang tidak apriori ke kiri tetapi juga sama sekali bukan ke garis kanan. Itulah keistimewaan Njoto. Karenanya Joesoef dapat mengerti bila Bung Karno pernah menjulukinya sebagai Marhaenis Sejati, suatu julukan yang pada zamannya tak pernah diberikan kepada tokoh-tokoh partai lainnya.Tesis April-nya Lenin (tentang tugas – tugas proletariat di dalam revolusi sekarang) pun diterjemahkan Njoto dan diterbitkan olehJajasan Pembaruan Djakarta pada 1957.
Njoto juga pernah memberikan kuliah mengenai berbagai segi Marxisme di depan para siswa dan undangan di Universitas Rakyat dan Universitas Indonesia. Dalam rangka ulang tahun Harian Rakjatyang ke XII, empat paparan kuliahnya yakni: Marxisme Sebagai Ilmu, Filsafat Proletariat, Ekonomi Sosialis, dan Sosialisme Indonesia pun dibukukan dengan judul Marxisme: Ilmu dan Amalnya. Usaha membukukan empat paparan kuliah Njoto tadi juga didorong oleh permintaan–pemintaan serta pertanyaan–pertanyaan yang diterima Dewan Redaksi Harian Rakjat tentang berbagai permasalahan marxisme.
***
Nyoto sebagai intelektual yang cerdas, dan juga disegani dan dikenal luas di kalangan pekerja seni jelas menunjukkan pada kita bagaimana kita para pekerja seni, budaya, ilmuwan dan intelektual pada umumnya tidak boleh melupakan kesadaran politik.
“Politik itu penting sekali. Jika kita menghindarinya, kita akan digilas mati olehnya. Oleh sebab itu dalam hal apapun dan kapan saja pun politik harus menuntun segala kegiatan kita”. ***
Data tulisan dikutip dari berbagai sumber, antara lain:
  1. Kumpulan Pidato Bung Karno; Revolusi Belum Selesai
  2. LAYANG - LAYANG ITU TAK LAGI MENGEPAK TINGGI – TINGGI Novel Pertama Martin Aleida. Penerbit Emansipasi Damar Warga 1999.
  3. Marxisme Ilmu dan Amalnya; Njoto. Terbitan Harian Rakjat
Posted by Unknown
Tag :

Sneevliet:




Dari Belanda, Menebar Benih Radikalisme di Indonesia

Dalam pustaka sejarah, nama Sneevliet lebih identik sebagai penyemai ‘virus’ ideologi komunisme, yang dibawanya dari Belanda. Sasarannya bukan hanya orang-orang Belanda yang ada di Indonesia, melainkan juga orang-orang Indonesia. Di negeri asalnya, dia adalah petaka bagi rezim. Kepalanya terlalu keras untuk ditundukkan. Akibatnya, dia masuk daftar buronan, yang siap diseret ke penjara kapan saja. 
Bernama lengkap Hendricus Josephus Franciscus Marie Sneevliet, kita lebih mengenalnya dengan nama nama Sneevliet. Ia lahir di Rotterdam, 13 Mei 1883. Proses berpolitiknya dimulai ketika tahun 1901, dia bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik di Belanda. Akhirnya, pada usia 20–an, dia mulai berkenalan dengan gelanggang politik. Ia bergabung dalam Sociaal Democratische Arbeid Partij (Partai Buruh Sosial Demokrat) di Nederland hingga tahun 1909, yakni sebagai anggota Dewan Kota Zwolle. Setelah itu dia diangkat sebagai pimpinan serikat buruh kereta api dan trem (National Union of Rail and Tramway Personnel) pada tahun 1911. 
Di organisasi baru inilah, Snevlieet menunjukkan watak sejatinya, berani, dan tak pernah menyerah. Dia memimpin pemogokan-pemogokan buruh di Belanda, sehingga membuat namanya masuk dalam ‘daftar hitam’ di Belanda. Keberanian ini pastilah membuat rezim takut. Lewat federasi serikat buruh, yang dikuasai oleh pemerintah, dibuatlah cara untuk menekan Snevlieet. Sehingga, jabatan sebagai ketua serikat buruh kereta api cuma setahun dipegangnya. Pada tahun 1912, ia mengundurkan diri, setelah terjadi konflik yang panas antara serikat buruh yang dipimpinnya dengan federasi serikat buruh. Peristiwa itu terjadi setelah terjadinya pemogokan buruh-buruh kapal, di mana Sneevliet berdiri sebagai pimpinan aktif dalam pemogokan itu. Lepas dari aktivitasnya di Serikat Buruh, sempat membuat Sneevliet bimbang, ia bahkan berniat untuk mundur dari ranah pergerakan. Beralihlah dia ke dunia perdagangan, dan inilah jalan yang membawanya berkelana sampai ke Indonesia
Tahun 1913, untuk kali pertama, ia menginjakkan kaki ke Indonesia. Tepat pada saat itu, dunia pergerakan di Hindia Belanda tengah bersemi. Sneevliet, yang pada awalnya bekerja sebagai jurnalis di sebuah harian di kota Surabaya, mulai terusik untuk kembali berpolitik. Namun saat itu kondisi kerjanya masih belum mapan, ia pindah ke Semarang dan diangkat menjadi sekretaris di sebuah perusahaan.

Mendirikan ISDV
Hasrat politiknya rupanya tak bisa ditahan-tahan. Dia sempat aktif menjadi sekretaris dari Handelsvereeniging (Asosiasi Buruh) di Semarang. Pada tahun 1914, ia mendirikan sebuah organisasi politik yang diberi nama Indische Sociaal Democratische Vereniging (ISDV). Awalnya anggotanya hanya 65 orang, yang kesemuanya adalah orang Belanda dan kalangan Indo-Belanda. Sneevliet masih belum yakin untuk merekrut anggota dari kaum bumi putra. Dalam waktu setahun kemudian, organisasi tersebut mengalami perkembangan pesat menjadi ratusan anggotanya. Perkembangan tersebut tak terlepas dari peranan koran organisasi berbahasa Belanda, Het Vrije Woord yang menjadi corong propaganda ISDV. Beberapa tokoh Belanda yang aktif membantu Sneevliet adalah Bergsma, Adolf Baars, Van Burink, Brandsteder dan HW Dekker. Di kalangan pemuda Indonesia tersebut nama-nama Semaun, Alimin dan Darsono. Pengaruh ISDV juga meluas di kalngan buruh buruh kereta api dan trem yang bernaung dibawah organisasi Vereniging van Spoor Tramweg Personal (VTSP). 
Dalam waktu yang bersamaan, pergerakan di Hindia Belanda tengah mengalami masa terang. Sarekat Islam, terus membesar dengan jumlah anggota mencapai puluhan ribu yang tersebar di berbagai daerah. Oleh karena itu ISDV, merubah haluan untuk menitik beratkan pengorganisiran pada anggota-anggota maju dari Sarekat Islam, dan inilah cikal bakal generasi pertama perekrutan kader-kader Marxis. 
Pada bulan Maret 1917 Sneeveliet menulis artikel berjudul Zegepraal (kemenangan), yang memuliakan Revolusi Februari Kerensky di Rusia dengan kata-kata:
Telah berabad-abad disini hidup berjuta-juta rakyat yang menderita dengan penuh kesabaran dan keprihatinan, dan sesudah Diponegoro tiada seorang pemuka yang mengerakan massa ini untuk menguasai nasibnya sendiri. Wahai rakyat di Jawa, revolusi Rusia juga merupakan pelajaran bagimu. Juga rakyat Rusia berabad-abad mengalami penindasan tanpa perlawanan, miskin dan buta huruf seperti kau. Bangsa Rusia pun memenangkan kejayaan hanya dengan perjuangan terus-menerus melawan pemerintahan paksa yang menyesatkan. Apakah penabur dari benih propaganda untuk politik radikal dan gerakan ekonomi rakyat di Indonesia memperlipat kegiatannya? Dan tetap bekerja dengan tidak henti-hentinya, meskipun banyak benih jatuh di atas batu karang dan hanya nampak sedikit yang tumbuh? Dan tetap bekerja melawan segala usaha penindasan dari gerakan kemerdekaan ini? Maka tidak bisa lain bahwa rakyat di Jawa, diseluruh Indonesia akan menemukan apa yang ditemukan oleh rakyat Rusia: kemenangan yang gilang gemilang. 

Organisasi ISDV bergerak cepat dengan strategi mereka untuk merekrut massa dari SI. Pengaruhnya yang kuat ternyata mengkhawatirkan pemerintah Hindia Belanda, sebab pada saat yang sama, pemogokan-pemogokan buruh bertambah kuat dan meluas. Semaun, Darsono dan Alimin, adalah pimpinan-pimpinan SI Semarang yang berhasil direkrut oleh Snevlieet. Mereka punya kesamaan pandangan, prinsip-prinsip ideologi radikal dengan ISDV. Pada akhirnya perpecahan di tubuh SI tak terelakkan, perpecahan antar sayap moderat dan sayap radikal. SI Putih yang dipimpin HOS Tjokroaminoto, H.Agus Salim dan Abdul Muis, serta SI Merah yang dikepalai oleh Semaun dan teman temannya.

Kemenangan revolusi Rusia makin banyak jadi bahan perbincangan rakyat. Agar pengaruh ISDV tidak semakin mengeruhkan situasi, yang dikhawatirkan memberi kemungkinan terjadinya pemberontakan rakyat, maka pemerintah Hindia Belanda menyusun rencana untuk menangkap Sneevliet dan menyeseretnya ke pengadilan. Sneeliet pun, pada bulan Desember 1918, akhirnya diusir dari Indonesia karena aktivitas politiknya.
ISDV pun mulai kehilangan kendali akibat para pimpinannya diusir dari Indonesia. Juga mulai dijauhi massa akibat prinsip-prinsip radikal mereka yang masih belum bisa dipahami massa. Semaun pun mengambil keputusan, mengganti ISDV menjadi Partai Komunis Hindia pada 23 Mei 1920. Tujuh bulan kemudian, partai ini mengubah namanya menjadi Partai Komunis Indonesia. Semaun terpilih sebagai ketua.
Akan halnya dengan Snevlieet, ia diproses oleh jaksa dan hakim Belanda dari pemerintahan Hindia Belanda. Seorang Belanda kontra Belanda; tetapi juga seorang sosialis kontra kolonialis. Di depan pengadilan yang terjadi pada bulan November 1917, ia membacakan pidato pembelaannya setebal 366 halaman. Pidato pembelaanya itulah yang merupakan sumber referensi mengenai ajaran-ajaran sosialisme secara ilmiah, yang dipakai oleh banyak pemimpin-pemimpin bangsa kita. Salah satunya adalah Indonesia Menggugat, pidato pembelaan Bung Karno ayang dibacakan di muka Pengadilan di Bandung pada tahun 1930. Pledoi setebal 183 halaman itu jelas-jelas menunjukkan pengaruh yang besar sekali dari jalan pikiran Sneevliet yang dikembangkannya di tahun 1917. 

Sejak saat itulah ajaran-ajaran Marxisme meluas di Indonesia. PKI berdiri di Semarang, pada tahun 1920 dengan Semaun-Darsono yang mempeloporinya. Di Surabaya Tjokroaminoto dari Serikat Islam, mulai juga memakai referensi-referensi kiri dan literatur yang disebut oleh Sneevliet di dalam pembelaannya, seperti: artikel Das Kapital-nya Marx.

Berbagai literatur tersebut mulai mulai dicari-cari beberapa aktivis. Ada juga yang berusaha mendapatkannya dengan membeli dan meminjam dari toko buku ISDV, dan dikaji di rumah Tjokroaminoto bersama-sama Surjopranoto, Alimin dan lain-lain. Termasuk salah satunya adalah Bung Karno, pemuda cerdas yang tahun 1916-1920 indekos pada keluarga Tjokroaminoto, seorang tokoh pergerakan di Surabaya. Hal tersebut diakuinya dalam sebuah surat yang ditulisnya saat dia menjalani masa pembuangan di Bengkulu, tahun 1941:
“Sejak saya sebagai seorang anak plonco, untuk pertama kalinya saya belajar kenal dengan teori Marxisme dari mulut seorang guru HBS yang berhaluan sosial demokrat (C. Hartough namanya) sampai memahamkan sendiri teori itu dengan membaca banyak-banyak buku Marxisme dari semua corak, sampai bekerja di dalam aktivitas politik, sampai sekarang, maka teori Marxisme bagiku adalah satu-satunya teori yang saya anggap kompeten buat memecahkan soal-soal sejarah, soal-soal politik, soal-soal kemasyarakatan.”

Terinspirasi oleh gerakan revolusi yang dilakukan oleh Bolshevik, ISDV mulai mengorganisir kalangan militer dengan membentuk dewan-dewan tentara dan pelaut. Dalam waktu tidak lebih dari tiga bulan sekitar tiga ribu prajurit dan pelaut menjadi anggota gerakan yang kemudian dikenal dengan nama tentara merah. Akan tetapi, tanpa diduga, waktu kemudian berjalan bertolak belakang dengan semangat revolusioner yang tengah berkembang. Revolusi Rusia yang menjadi perspektif bagi tumbuhnya revolusi Eropa dan negeri-negeri lain di Eropa, di belahan Eropa lainnya justru mengalami kekalahan dan diberangus, termasuk di Belanda. Akibatnya kemudian berimbas pula pada pergerakan di Indonesia. Reaksi juga menjalar ke Hindia Belanda, anggota-anggota tentara merah dan anggota ISDV ditangkap dan dipenjara, seiring dengan kekalahan dan gerakan revolusi Belanda.

Langkah Sneeviet pun masih belum terhenti. Pada 1920 dia hadir pada Kongres Kedua Komintern di Moskow sebagai perwakilan dari ISDV. Dan dari 1921 hingga 1923 menjadi perwakilan dari Comintern di China. Sekembalinya ke Belanda, dia menjadi ketua Sekretariat Nasional Buruh. Pada tahun 1929, dia mendirikan Partai Sosialis Revolusioner dan terpilih sebagai ketuanya. Setelah penggabungan partainya berubah nama menjadi Revolutionary Socialist Workers' Party, dimana Sneevliet menjadi sekretaris pertama dan kemudian kemudian menjadi ketua hingga 1940. Dia juga sempat menjadi anggota Parlemen dari 1933 hingga 1937. Pada saat perang Dunia Kedua dia memimpin grup pertahanan bernama Marx-Lenin-Luxemburg-Front. Dia kemudian tertangkap dan dieksekusi pada tahun 1942. 
Posted by Unknown
Tag :

Total Tayangan Halaman


counter web

Categories

PEJUANG
Diberdayakan oleh Blogger.

Translate

- Copyright © Diaspora -- Powered by Blogger - Designed by Efrial Ruliandi Silalahi -