- Back to Home »
- TEORI »
- MENEMPATKAN LAGI FILSAFAT SEBAGAI INDUK DARI SEGALA ILMU
Posted by : Unknown
Sebagai induk dari segala
ilmu, di negara kita filsafat masih dilecehkan keberadaanya. Ilmu Filsafat atau
pun Fakultas Filsafat tidak ubahnya seperti ‘anak haram jadah’ yang tidak
pernah dikehendaki kelahirnya, seandainya mampu maka akan ‘digugurkan’. Apalagi
lagi saat ini, ketika pendidikan hanya menjadi sekrup dari kapitalisme. Maka.
Sebelum kita berusaha ‘menyelamatkan’ ilmu filsafat atau pun fakultas filsafat
dari kehancurnya, kita harus terlebih dahulu mampu melihat problem dari sistem pendidikan
di negara kita.
Semunya
tidak bisa terlepas dari sejarah negeri ini, masuknya Belanda –yang berarti
mulai masuknya kapitalisme di negara kita. Kemenangan golongan liberal di
negeri Belanda yang berhasil mengalahkan dominasi golongan konservatif,
mempunyai dampak langsung terhadap berbagai kebijaksaan di negara jajahan –
Indonesia. kebijaksaan Tanam Paksa – yang telah menyebabkan Belanda mampu
bersanding dengan negara-negara maju di Eropa maupun Amerika dengan ceceran
darah dan air mata Rakyat Indonesia – diganti dengan politik ethik – irigasi,
edukasi, transmigrasi. Edukasi atau
bahasa populernya pendidikan, dalam propaganda-propaganda pemerintahan kolonial
Belanda bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan penduduk pribumi. Namun, dalam
kenyataanya hanya untuk memenuhi kebutuhan ‘pasar’ yang sedang berkembang di
Indonesia akan kebutuhan tenaga admitrasi – masa itu, pabrik-pabrik, terutama
gula dan tekstil semakin berkembang, sehingga memerlukan tenaga admitrasi
rendahan – “Tahun 1900 menyaksikan perubahan besar: pertumbuhan kapitalisme
telah menimbulkan penghisapan terhadap bumiputra, dan juga proletarisasi. Para
kapitalis, untuk memperoleh staff juru tulis dan pegawai kecil, membuka
kesempatan pendidikan bagi bumiputera. Pemerintah mulai menerapkan “Politik
Etis”, yang dengan alasan meningkatkan “standar hidup” orang bumi putera …” [1]..
Rakyat pribumi yang bisa masuk sekolah hanya diberi pelajaran-pelajaran yang
sesuai dengan permintaan ‘pasar’ tersebut – sedikit matematika, pembukuan, dan
pelajaran membaca-menulis. Sehingga yang ada hanya kepragmatisan dalam sistem
pendidikan.
Sungguh berbeda yang terjadi di
Eropa, sistem pendidikan yang berkembang merupakan dampak langsung dari Renaisance
yang berkembang pada abad pertengahan.
Ilmu pengetahuan berkemabang bak air bah yang tidak mampu dibendung oleh
siapapun. Mulai dari filsafat, ilmu-ilmu alam dan sosial, matematika, ilmu
politik, sastra, berkembang atas dasar rasionalisme untuk menghancurkan
sisa-sisa lama yang penuh tahayul, mistis. Rasionalitas ditempatkan diatas
metafisika dan bentuk tahayul-tahayul yang lain. Hasilnya sungguh luar biasa
sistem pendidikan tersebut. Copernicus berhasil menemukan teori Heliosentris
yang meluluh lantakan teori geosentris Ptolomeous yang didukung oleh gereja
tentang pusat dari tata surya; Galilieo menemukan teleskop sehingga bisa
melihat benda-benda ruang angkasa dan semakin meneguhkan teroti Copernicus;
Kepler menjelaskan bagaimana tata surya ini bergerak dalam orbitnya, begitu
juga dengan ilmu-ilmu yang lain. Tokoh-tokoh dunia muncul dari ranah Eropa, “Hampir
tidak ada tokoh penting yang hidup pada zaman itu yang tidak berlanglang-buana
amat luasnya, yang tidak menguasai empat atau lima bahasa, yang tidak cemerlang
dalam sejumlah bidang. Leonardo da Vinci bukan saja seorang pelukis besar,
tetapi juga seorang ahli matematika, mekanika dan insinyur besar, dan
kepadanyalah berbagai-bagai cabang ilmu fisika berhutang penemuan-penemuan yang
amat penting; Albrecht Durer seorang pelukis, pemahat, pematung, arsitek, dan
menambahkan penemuan baru suatu sistem perbentengan yang mewudjudkan banyak
ide-ide yang lama kemudian dilanjutkan lagi oleh Montalembert dan oleh
ilmu-pengetahuan Jerman modern mengenai perbentengan. Machiavelli adalah
seorang negarawan, sejarahwan, penyair dan juga pengarang militer terkemuka
pertama dari zaman modern. Luther tidak saja membersihkan kandang Augeas dari
Gereja, tetapi juga kandang bahasa Jerman; ia menciptakan prosa Jerman modern
dan menggubah teks dan melodi himne kemenangan yang menjadi Marseillaise abad
ke enam-belas. Karena pahlawan-pahlawan zaman itu masih belum diperhambakan
pada pembagian kerja, yang akibat-akibat pengekangannya, dengan hasil
kesatu-segian (keterbatasan dalam pengetahuan), begitu sering kita lihat pada
penerus-penerus mereka. Namun yang teristimewa karakteristik pada mereka itu
ialah bahwa mereka hampir semuanya menjalani kehidupan-kehidupan dan
aktivitas-aktivitas mereka di tengah-tengah gerakan-gerakan sezaman, dalam
perjuangan-praktikal; mereka berpihak dan bergabung dalam perjuangan itu, yang
seorang dengan berbicara dan menulis, yang lainnya dengan pedang, dan banyak
dari mereka melakukan kedua-duanya. Dari situlah keutuhan dan kekuatan watak
menjadikan mereka itu manusia-manusia lengkap. Orang-orang ruangan baca
merupakan pengecualian: menjadi orang dari peringkat kedua atau ketiga ataupun
filistin-filistin yang terlalu berhati-hati untuk ikut melibatkan diri mereka”.[2]
Hal seperti ini belum pernah kita dapatkan di negara kita, karena ilmu hanya
untuk kebutuhan pasar kapitalis semata. Maka tidaklah heran kalau
lembaga-lembaga pendidikan dipacu untuk
“melahirkan” tenaga-tenaga kerja ahli sesuai dengan kebutuhan pasar kapitalis.
Apa yang terjadi kemudian, jurusan-jurusan tertentu yang banyak dibutuhkan
ekonomi kapitalis dipacu hasilnya, sedangkan jurusan-jurusan yang tidak ada
hubungannya dengan ekonomi kapitalis “dinomer duakan”. Disadari atau tidak,
universitas menjadi sub-ordinasi terhadap kebutuhan langsung terhadap ekonomi
kapitalis. Ernest Mandel mengambarkan kondisi ini sebagai berikut:
Mereka bahkan tidak
diizijinkan memilih karir, bidang, studi dan disiplin ilmu yang mereka
kehendaki dan berhubungan dengan keahlian dan kebutuhan mereka. Mereka akan
dipaksa menerima pekerjaan, disiplin ilmu dan bidang studi yang berhubungan
dengan kepentingan penguasa masyarakat kapitalis, dan tidak berhubungan dengan
kebutuhan mereka sebagai manusia [3].
Dengan kondisi diatas, mahasiswa
hanya dijadikan “komoditi”, tidak diberi hak untuk menentukan pilihan-pilihan,
kebebasan ini telah dirampas oleh kebutuhan pasar kapitalis. Mahasiswa yang
mencoba “menentang” kehendak pasar kapitalis, mengambil jurusan yang tidak
dibutuhkan oleh kebutuhan kapitalis, maka akan menjadi penganggur-penganggur
baru. Adalah tepat yang digambarkan Ernest Mandels tentang kondisi ini,
mengutip dari kuliah umum seoang pendidik yang terkenal di Kanada:
Beberapa hari yang lalu,
ketika di Toronto, salah satu pendidik Kanada yang terkenal memberikan kuliah
umum tentang sebab-sebab perlawanan mahasiswa. Menurutnya, alasan-alasan
perlawanan itu “secara mendasar bersifat material”. Bukan karena kondisi hidup
mereka tidak memuaskan;bukan karena mereka diperlakukan seperti buruh abad XIX.
Tapi karena secara sosial kita menciptakan sejenis proletariat[4]
di universitas yang tidak berhak
berpartisipasi dalam menentukan kurikulum, tidak berhak, setidaknya
untuk ikut menentukan kehidupan mereka sendiri selama empat, lima atau enam
tahun yang mereka habiskan di universitas.[5]
Dari
sini jelaslah, mahasiswa menjadi terasing dengan “kehidupanya” di universitas.
Mereka menjalani kehidupan di
universitas dengan keterpaksaan, bukanlah kehendak dari hati nurani. Apa
yang didapatkan adalah kondisi universitas yang “otoriter”, tidak memberi
peluang kepada mahasiswa untuk
mengembangkan kemampuan mereka. Tuntutan-tuntutan kapitalis yang tidak
berhubungan dengan bakat perorangan dan kebutuhan manusia, itulah yang ada.
Paparan
diatas memperlihatkan problem-problem yang kita hadapi, sehingga kita dapat
menarik kesimpulan. Pertama, sistem kapitalisme. Sistem
kapitalisme telah menempatkan lembaga-lembaga pendidikan sebagai ‘pabrik’ untuk
menghasilkan ‘prajurit-prajurit’ untuk perkembangan kapitalisme dalam mengeruk
kapital. Sehingga, mahasiswa/murid tidak ubahnya seperti barang mentah yang
dimasukkan dalam ‘pabrik’ – lembaga-lembaga pendidikan – untuk kemudian diolah
menjadi ‘barang’ yang sesuai dengan keinginan kaptalis, “di tempat
yang memerlukan 100.000 insinyur akan lebih baik jika dikirim
100.000 insinyur daripada 50.000 orang sosiolog atau
20.000 filsuf yang tidak akan mendapat pekerjaan yang layak”.[6] Tidak
heranlah kalau kemudian mahasiswa terasing dari lingkunganya. Kedua, sistem
pendidikan. Konsekuensi dari akibat pertama berdampak langsung dari sistem
pendidikan itu sendiri. Kurikulum-kurikelum hanya disusun untuk kepentingan
pasar semata, sementara yang berada diluar itu dianggap tidak penting dan tidak
perlu untuk dipelajari. Tidaklah mengherankan kalau yang muncul kemudian
hanyalah kepragmatisan-kepragmatisan. Dengan sistem pendidikan seperti ini juga
membawa dampak pada kebijaksaanaan yang lain, misalnya sarana, literatur,
tempat perkuliahan. Fakultas-fakultas yang dianggap tidak menguntungkan
‘pasar’, dikelola apa adanya, literatur yang sudah banyak ketinggalan,
perpusatakaan yang amburadul, tempat kuliah yang tidak nyaman,
fasilitas-fasilitas lain seperti internet yang tidak pernah ada, tenaga pengajar
yang tidak memenui standar. Dua hal itulah yang mejadi problem utama dalam
pendidikan kita dewasa ini, baik di Fakultas Filsafat maupun fakultas-fakultas
yang lain. Inilah yang harus kita ubah, tentunya dengan perjuangan yang tidak
mengenal lelah.
[1] Gerakan Indonesia di
Hindia Belanda, laporan oleh kawan Semaoen.
[2] Dialectic
of Nature, Frederick Engels
[3] Gerakan Mahasiswa Revolusioner:
Teori dan Pratek, Ernest Mandels
[4] Makna proletariat disini
bukan makna sesungguhnya. Makna proletariat sesuguhnya adalah suatu kelas yang
tidak memiliki alat produksi, menghasilkan nilai lebih dan tidak bisa
mengakumulasi modal. Proletariat yang dimaksud disini adalah keterasingan mahasiswa dengan apa yang
ada di universitas, seperti halnya kaum buruh yang “terasing” dengan proses produksi
yang ada di pabrik
[5] Gerakan Mahasiswa
Revolusioner: Teori dan Pratek, Ernest Mandels
[6] Ibid
Posting Komentar