- Back to Home »
- KAUM BURUH »
- SEJARAH GERAKAN BURUH INDONESIA
Posted by : Unknown
KEBANGKITAN GERAKAN BURUH DI INDONESIA
Perjuangan buruh
di Indonesia
memiliki sejarah yang panjang, bersamaan dengan bangkitnya kesadaran
nasionalisme.
Pada awal abad 20, praktis seluruh
kerajaan di bumi nusantara telah dikuasai pemerintah Belanda. Dengan demikian
babak sejarah perlawanan kerajaan-kerajaan telah selesai. Bersamaan dengan itu
pemerintah Belanda yang dikuasai oleh partai Liberal mulai menegok ke
pembangunan sumber daya manusia di Indonesia, yang sebenarnya juga merupakan
kepentingan Belanda untuk mendapatkan tenaga murah (dari kaum pribumi) dan
tetap membawa keuntungan (yang lebih besar) ke negeri Belanda. Maka dikenallah
program Politik Etis. Salah satu programnya adalah pendidikan (educatie), disamping program irigasi,
dan transmigrasi. Dengan pembukaan sekolah-sekolah baru (berorientasi ke Eropa)
maka muncullah berbagai pengetahuan baru ke Indonesia . Salah satunya mengenai
organisasi.
Salah seorang murid STOVIA, RM Tirto
Adisuryo (berasal dari bangsawan rendah Jawa) mendirikan Serikat Priayi, yang
berangotakan para bangasawan pengenyam pendidikan Belanda. Namun Serikat priayi
tidak berumur panjang. Organisasi ini yang semula direncanakan menjadi alat
perjuangan kaum intelektual, menjadi
tidak realistis. Ini akibat dari sifat para bangsawan Jawa yang sudah sekian
lama menikmati fasilitas dari kerajaan, dan kemudahan-kemudahan dari Belanda.
Sehabis Serikat
Priayi, RM Tirto Adisuryo pun mulai melihat kekuatan lain yang cukup punya
potensi. Maka bersama KH Ahmad Dahlan mendirikan Serikat Dagang Islam (SDI).
Organisasi ini dibangun setelah mereka melihat bahwa kepentingan-kepentingan
pedagang pribumi yang mayoritas Islam mengalami kekalahan dalam persaingan
dengan pedagang-pedagan bermodal besar dari Belanda. SDI inilah organisasi
modern pertama yang berbasis kepentingan. Perbesaran SDI sangat luar biasa, dan
kemudian setelah beberapa lama, SDI diubah menjadi Sarekat Islam yang
anggotanya tidak harus berprofesi pedagang, jenis keanggotaan mulai dari kaum
petani, buruh perkebunan, buruk KA, samapai pembantu rumahtangga. Inilah cikal
bakal dari munculnya kesadaran kaum buruh Indonesia untuk berorganisasi.
Serikat buruh
pertama di Jawa didirikan pada tahun 1905 oleh buruh-buruh kereta api dengan
nama SS Bond (Staatspoorwegen Bond). Kepengurusan organisasi ini sepenuhnya
dipegang oleh orang-orang Belanda. Pada tahun 1910, orang-orang pribumi menjadi
mayoritas anggota (826 dari 1.476 orang). Walau begitu, orang-orang pribumi
tetap tidak memiliki hak pilih atau suara dalam organisasi. Serikat buruh ini
tidak pernah berkembang menjadi gerakan yang militan dan berakhir pada tahun
1912. Pada tahun 1908 muncul serikat buruh kereta api yang lain, dengan naman
Vereeniging van Spooor-en Tramweg Personeel in Nederlandsch Indie (vstp)
Serikat ini memiliki basis yang lebih luas ketimbang SS Bond, Karena melibatkan
semua buruh tanpa membedakan ras, jenis pekerjaan, dan pangkat dalam
perusahaan. Organisasi ini berkembang menjadi militan, terutama sejak 1913,
ketika berada di awah pimpinan Semaun dan Sneevliet. Kedua tokoh itu juga
tercatat sebagai tokoh gerakan radikal di Jawa pada masa selanjutnya, dan
sampai tahun 1920-an, nama-nama mereka masih sering terdengar di kalangan
pergerakan.
Juru propaganda
pribumi VSTP yang pertama, Semaoen, selain bekerja untuk serikat buruh juga
menjadi ketua Sarekat Islam (SI) lokal Semarang . Tidak seperti banyak pemimpin SI lain yang
berlatar belakang wartawan, Semaoen seorang pegawai juru tulis di perusahaan
pembangun rel kereta api. Umurnya masih sangat muda ketika memutuskan terjun ke
dunia pergerakan. Lahir 1899 dari orang tua yang bekerja sebagai buruh kereta
api, Semaoen pada usia 18 tahun telah terpilih menggantikan Mohammad Joesoef,
ketua SI Semarang sebelumnya. Semaoen banyak belajar cara mengorganisasi buruh
dari Sneevliet, tokoh sosialis-demokrat pendiri ISDV.
Di bawah kepemimpinan Semaoen, SI
Semarang tumbuh besar. Anggotanya bertambah dengan cepat, dari hanya 1.700
orang (1916) menjadi 20.000 (1917). Berkecamuknya Perang Dunia I yang juga
menyeret negara induk Belanda ke medan
perang membuat perekonomian Hindia Belanda, negeri jajahannya, terkena imbas.
Inflasi menanjak tajam, sementara upah buruh-buruh tidak ikut naik, atau bahkan
turun. Maka mulailah Semaoen mengorganisasikan buruh-buruh SI Semarang untuk
mogok. Keberhasilan buruh perabotan mogok diikuti oleh buruh pecetakan, buruh
pembuat mesin jahit Singer, buruh bengkel mobil dan buruh transportasi kapal
uap dan perahu. Jakarta ,
Bandung , Surabaya dan kota-kota
lain menyusul dan menjadikan SI Semarang sebagai pemimpin pergerakan.
Menghadapi gelombang pemogokan buruh
di Indonesia ,
pemerintah kolonial masih bersikap netral selama motifnya ekonomi (tuntuitan
normatif). Pemerintah beranggapan bahwa usaha rakyat untuk mengangkat taraf
hidupnya akan berpengaruh baik pada kesadaran politik kaum pribumi. Segera saja
serikat-serikat buruh baru bermunculan, di samping VSTP, PGHB (serikat guru)
dan PPPB (serikat pegawai pegadaian pribumi), antara lain VIPBOW (serikat buruh
pekerjaan umum), PFB (serikat buruh pabrik gula), Typografenbond (serikat buruh
percetakan), Sarekat Postel dan PPDH (serikat pegawai kehutanan). Serikat buruh
terbesar adalah VSTP, PPPB dan PFB, semuanya di bawah naungan Sarekat Islam.
PPPB dikontrol oleh SI Surabaya, sedangkan PFB oleh SI Yogyakarta.
PFB dipimpin oleh Soerjopranoto, “si
raja mogok”. Berasal dari kalangan bangsawan Pakualaman yang dikenal progresif,
Soerjopranoto membantu buruh-buruh pabrik gula menuntut kenaikan upah,
perbaikan kondisi kerja, kerja delapan jam sehari, libur dengan bayaran satu
hari dalam seminggu dan tambahan upah untuk lembur. Jika buruh-buruh berniat
mogok, mereka meminta wakil PFB hadir dan membuka cabang. Hanya dalam setahun,
PFB tumbuh menjadi serikat buruh terbesar dan paling militan di Indonesia
dengan 90 cabang dan hampir 10.000 anggota. Yogyakarta
pun menjadi pusat pergerakan baru, dengan SI sebagai motor didukung oleh
organisasi keagamaan Muhammadiyah.
Bocornya rencana pemogokan umum
se-Jawa pada Juli 1920 dimanfaatkan oleh residen Surakarta untuk menangkapi
para pemimpin SI dan PFB, dengan tuduhan bahwa aksi-aksi buruh yang bersifat
ekonomi itu mulai ditunggangi oleh aksi-aksi politik SI, sehingga dikhawatirkan
“keamanan dan ketertiban” (rust en orde)
bakal guncang. Tindakan pabrik-pabrik gula menaikkan upah buruh 20 – 30%
memukul militansi buruh-buruh dan membangkitkan ketakutan mereka terhadap
majikan. Beramai-ramai mereka mundur dari keanggotaan PFB. Tak lama PFB pun
mati.
PPPB dipimpin Abdoel Moeis mendukung
pemogokan buruh-buruh pegadaian Yogyakarta .
Abdoel Moeis mengusahakan negosiasi dengan pemerintah agar buruh-buruh yang
dipecat dipekerjakan kembali dan dibentuk komite penyelidikan ketidakpuasan
para buruh. Penolakan pemerintah berkembang menjadi perjuangan nasional melawan
pemerintah, karena tuntutan PPPB didukung pula oleh Central SI, PKI,
Revolutionaire Vakcentrale, Boedi Oetomo, Muhammadiyah dan serikat-serikat
buruh lainnya. Rencana pemogokan umum PPPB pada Februari 1922 dipotong oleh pemerintah
dengan menangkapi para pemimpinnya. Dukungan pun surut, 1.000 buruh dipecat dan
PPPB runtuh.
Rencana rasionalisasi semasa
Gubernur Jenderal Fock menyulut buruh-buruh kereta api yang tergabung dalam
VSTP untuk bergerak. Tahun 1923 pemerintah menghapus tunjangan biaya hidup.
VSTP yang berada di bawah kontrol kaum komunis mengancam akan menggerakkan
pemogokan jika negosiasi dengan pemerintah gagal atau ada satu saja pemimpin
VSTP yang ditangkap. Sebelum VSTP betul-betul siap untuk mogok, pemerintah
menangkap Semaoen. Kontan 10.000 buruh kereta api mogok di Semarang , Yogyakarta ,
Madiun, Surabaya ,
Pekalongan, Tegal dan Cirebon .
Pemerintah menerjunkan tentara di sepanjang jalur kereta api, dan menangkapi
para pemimpin VSTP. Pemogokan berhenti dan VSTP hancur karena ditinggal
anggotanya.
Dimasa-masa kebesaran serikat Buruh,
maka di bawah komando PKI (Perserikatan Komunis Indonesia, merupakan organisasi
yang berdiri 23 Mei 1920, organisasi progresif dan berhaluan pada garis massa
pertama di Asia), serikat-serikat Buruh komunis mulai melancarkan aksi-aksi
massa yang bertujuan mematangkan kondisi revolusi, dan diharapkan akan mencapai
puncaknya pada akhir 1926. Perencanaan aksi besar ini terinspirasi dari
kemenangan kaum Bolshevik di Rusia, Oktober 1918. Perdebatan terjadi di antara
kaum komunis sendiri atau kelompok progresif lain yang tidak berhaluan komunis.
Perdebatan yang sangat terkenal terjadi antara Tan Malaka dengan Alimin (PKI),
yang berakibat dikeluarkananya Tan Malaka dari Komintern (Komunis Internasional).
PKI pun akhirnya memaksakan rencana
aksi tersebut. Pemberontakan pertama di Indonesia yang bertujuan langsung
terhadap perebutan negara terjadi di akhir 1926. Seperti yang diduga Tan
Malaka, ternyata kondisi rakyat Indonesia
belumlah matang, terlihat dari kelambatan beberapa daerah merespon aksi di
Jawa. Penumpasan besar-besaran terjadi, militer belanda bekerja keras untuk
menumpas kekuatan massa
radikal tersebut.
Usaha
perjuangan pembebasan rakyat secara nasional ini, menunjukkan betapa takutnya
pemerintah Belanda terhadap aksi-aksi massa
yang radikal dan progersif. Sekitar 13.000 pejuang dibuang ke Boven Digul oleh
Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Salah satu sebabnya adalah ketidak-mampuan
kaum radikal dalam mengkonsolidasikan secara baik dan menyeluruh
kekuatan-kekuatan potensial rakyat, yaitu kaum buruh, kaum tani dan kaum
tertindas lainnya. Sehingga kekuatan kaum radikal sendiri tidak cukup kuat
untuk menghadapi aparat militer Pemerintah Kolonial. Satu pelajaran yang harus
kita ambil adalah bahwa perjuangan bersenjata adalah kebutuhan nyata massa dan merupakan
kulminasi dari situasi revolusioner perlawanan rakyat terhadap watak negara
kolonial, dengan aparat kemiliterannya, yang selama ini melakukan
penghisapan/penindasan terhadap segala bentuk perlawanan rakyat. Dengan
demikian, kekalahan perlawanan 1926/1927, adalah kekalahan gerakan pada
umumnya.
Pasca 1926 panggung perjuangan
politik dikuasai oleh para pemimpin-pemimpin bearasal dari kaum intelektual,
hanya sedikit yang melakukan pembangunan di basis massa, aksi-aksi massa yang
sebelum 1926 sangat marak menjadi nyaris hilang. Perdebatan-perdebatan politik
hanya terjadi di panggung-panggung politik ciptaan Belanda, seperti Volksraad.
Ini tidak lain sebagai usaha Belanda memutus hubungan antara kaum terpelajar
dengan massa
rakyat. Karena akan lebih mudah bagi Belanda menumpas kaum terpelajar yang
cukup “vokal”, dengan cara membuangnya
ke Belanda atau Digul.
Sejarah perjuangan ternyata
bergerak maju di beberapa kaum radikal/progersif. Pada tahun 1929 berdiri
Partai Nasional Indonesia (PNI) dibawah pimpinan Ir. Sukarno. PNI berwatak
kerakyatan dan garis massa .
Sisa-sisa kaum progresif yang masih hidup lalu bergabung dengan PNI, sebagai
alat perlawanan kolonialisme. Dukungan yang luas atas PNI membuat penguasa
harus mengirim para aktivis PNI ke penjara, termasuk Sukarno. Aktivitas
revolusioner yang dilakukan oleh kaum radikal tetap dilanjutkan dengan gerakan
bawah tanah. Di bawah kondisi yang represif, terbitan dan pertemuan gelap
lainnya terus dijalankan.
Ketika
fasisme mulai merambah Eropa dan Asia ,
konsistensi perjuangan pembebasan tetap terjaga terus menerus. Kaum radikal
kembali mengkonsolidasikan kekuatan-kekuatan rakyat dengan membentuk Gerakan
Rakyat Indonesia
(Gerindo) dibawah pimpinan Amir Sjarifudin. Pada tahun l939 Gerindo
bersama-sama Parindra dan PSII membangun suatu front bersama untuk menghadapi
fasisme. Front tersebut bernama Gabungan Politik Indonesia (GAPI). Dengan GAPI
kaum radikal berharap dapat menggunakan perjuangan anti fasisme sekaligus
keperjuangan anti-kolonialisme.
Sementara itu di Erapa, tahun
1939 Perang Dunia II meletus ketika Jerman dibawah Hitler menyerbu Polandia.
Jepang lalu mnyerbu Hindia Belanda dan mengusir kekuasaan Belanda digantikan
dengan pemerintahan administrasi militer Kerja paksa (romusya) diberlakukan
untuk membangun infrastruktur perang seperti pelabuhan, jalan raya dan lapangan
udara tanpa di upah. Serikat buruh dan partai politik dilarang. Yang
diperbolehkan berdiri hanya organisasi boneka buatan pemerintah militer Jepang
seperti Peta, Keibodan dll. Sebab-sebab dari timbulnya PD II adalah persaingan
diantara ne gara-negara imperialis untuk memperebutkan pasar dan sumber bahan baku . Siapapun yang
menang maka kemenangannya adalah tetap atas nama imperialisme. Jadi dapat
disimpulkan bahwa Perang Dunia Kedua Adalah Perang Kaum Imperialis.
Walaupun kaum radikal mengalami
jatuh bangun dalam perjuangannya, namun garis perjuangan anti fasis tetap
dipertahankan. Kaum radikal melalui organisasi-organisasi pergerakan bawah
tanah mulai membentuk Gerakan Anti-fasis (Geraf), Gerakan Indonesia Merdeka
(Gerindom) dan sebagainya. Amir Sjarifudin, sebagai orang yang paling konsisten
anti-fasisme ditangkap dan dipenjarakan pada tahun l943. Di lain pihak, sebab
besar kaum priyayi justru tidak mengambil praktek politik konfrontatif terhadap
fasisme Jepang. Kompromi, konsesi, dan kolaborasi terhadap fasis Jepang menjadi
Bab dari politik elit kaum feodal. Sementara kaum demokrat-liberal terpaksa
harus menjalankan taktik politik koperasi dengan pemerintahan militer Jepang.
Revolusi
Agustus 1945
Pada
tanggal 17 Agustus l945 Sukarno-Hatta yang masih ragu-ragu berhasil dipaksa
oleh kaum muda untuk memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia .
Kemerdekaan dimungkinkan karena adanya kevakuman kekuasaan. Kevakuman kekuasaan
tersebut disebabkan kekalahan Jepang dalam PD II, sementara pasukan sekutu
belum datang. Momentum kekosongan kekuasaan negara ini yang membuat proklamasi
dapat dibacakan berkat inisiatif dan keberanian dari kaum muda. Proklamasi pada
tahun l945, juga didasari pada patriotisme bahwa kemerdekaan tidaklah boleh
sebagai pemberian dari Jepang atau hadiah dari Sekutu, tapi berkat kepemimpinan
dari para pejuang Indonesia .
Revolusi
pembebasan nasional tahun l945 ternyata gagal menghasilkan demokrasi yang
sejati bagi rakyat. Hal ini disebab kan
karena kekuatan rakyat yang diorganisir oleh kaum radikal kerakyatan gagal
mengambil kepemimpinan dalam perjuangan pembebasan nasional. Revolusi Agustus
'45 memang berhasil mengusir imperialis fasis Jepang dan menghalau imperialisme
Belanda yang berusaha untuk kembali menjajah.
Namun,
sebelum kekuatan-kekuatan rakyat mampu dikonsolidasikan oleh kaum radikal guna
membentuk pemerintahan koalisi nasional, Amerika telah mengambil inisiatif
untuk menggagalkannya dengan memperalat kekuatan-kekuatan politik yang ada di Indonesia . AS
dengan dukungan beberapa sekutunya di Indonesia lalu membuat skenario
teror putih dengan menghancurkan kaum radikal dan frontnya. Suksesnya skenario
AS untuk menjalankan red drive proposal (proposal politik untuk melenyapkan
kekuatan-kekuatan rakyat) sebenarnya juga merupakan produk tidak adanya unity of command antara
kekuatan-kekuatan rakyat yang ada di dalam negeri dengan yang di luar negeri.
Hal ini masih ditambah lagi dengan ketidak mampuan kaum radikal dalam
mengarahkan sasaran perjuangannya ke arah kaum demokrat-liberal/borjuasi dan
Imperialis, setelah kaum fasis dikalahkan pada PD II
Dengan peristiwa tersebut, situasi
revolusioner mencapai anti klimaksnya. Hal ini hanya melicinkan jalan menuju
persetujuan KMB (Konferensi Meja Bundar) pada 2 November, 1949 . Dengan adanya persetujuan
KMB, imperialisme Belanda memperoleh konsesi di lapangan ekonomi, politik,
militer dan kebudayaan. Revolusi Agustus '45 yang adalah berwatak revolusi
borjuis demokratik, hanya berhasil sebagai revolusi pembebasan nasional (yakni
berhasil mendirikan Republik Indonesia ),
namun gagal mendirikan pemerintahan kerakyatan.
Perjuangan mencapai kemerdekaan
melibatkan berbagai unsur dalam masyarakat, termasuk gerakan buruh. Pada
tanggal 15 September 1945 sejumlah tokoh gerakan buruh berkumpul di Jakarta untuk
membicarakan peranan kaum buruh dalam perjuangan kemerdekaan dan menentukan
landasan bagi gerakan buruh. Pada pertemuan tersebut para wakil gerakan buruh
sepakat mendirikan sebuah organisasi yang mewakili seluruh serikat buruh yang
ada. Organisasi itu diberi nama Barisan Boeroeh Indonesia (BBI). Pilihan nama
'barisan' tersebut harus diletakkan pada konteks zamannya, yaitu ketika
orang-orang Indonesia
masih terlibat dalam perang kemerdekaan sampai tahun 1949. Dalam konferensi
tersebut, BBI juga menuntut Komite Nasional Indonesia untuk memberi pengakuan
terhadap organisasi tersebut. Karena sulitnya komunikasi dengan wilayah lain, maka
gerakan buruh di luar Jawa mendirikan organisasi mereka masing-masing. Di
Sumatra misalnya pada bulan Oktober 1945 telah berdiri Persatoean Pegawai
Negara Repoeblik Indonesia (PPNRI). Komite Nasional Indonesia sementara itu
juga menyerukan kepada perwakilan-perwakilan di daerah untuk mendukung
pembentukan serikat-serikat buruh. Dalam perjuangan fisik, kaum buruh bergabung
dalam Lasjkar Boeroeh Indonesia (LBI) yang dengan cepat didirikan di berbagai kota . Pada awalnya belum
ada koordinasi yang jelas, sampai pada sebuah konferensi di Blitar pada bulan
Desember 1945. Soediono Djojoprajitno terpilih sebagai ketua badan pimpinan.
LBI ini juga ditetapkan sebagai badan yang secara organisasi terlepas dari BBI
dan tidak memiliki hubungan apa-apa. Di kalangan buruh perempuan, didirikan
Barisan Boeroeh Wanita yang diketuai oleh SK Trimurti. Kegiatannya ditujukan
untuk memberi pendidikan dan kesadaran pada kaum buruh perempuan, tentang
perlunya persatuan. Pada tanggal 1 Mei 1946 (Perayaan Hari Buruh), BBW telah berhasil
mengumpulkan calon pemimpin buruh perempuan untuk dilatih selama dua bulan.
BBI mendapat dukungan kuat dari
Menteri Sosial RI yang pertama, Mr. Iwa Kusumasumantri.
Pada bulan November 1945, BBI mengadakan kongres pertama yang dihadiri bukan
hanya oleh aktivis-aktivis BBI dan cabang-cabangnya, tapi juga dari
aktivis-aktivis gerakan buruh yang tersebar di Sumatera dan pulau-pulaunya.
Sjamsju Harja Udaja, seorang pemimpin BBI, mengajukan rancangan untuk mengubah
BBI menjadi partai politik. Rancangan ini mengundang perdebatan di antara para
tokoh. Sebagian bertujuan untuk membangun BBI sebagai suatu federasi buruh yang
kuat, bebas dari partai-partai politik dan siap menggunakan pengaruhnya
terhadap setiap pemerintahan bila perlu. Golongan lainnya, di bawah pimpinan
Sjamsju Harja Udaja berusaha untuk menjadikan BBI sebuah partai politik yang
menjadi alat politik dari gerakan buruh. Akhirnya mereka sepakat untuk
mendirikan partai, tanpa harus membubarkan BBI. Partai Boeroeh Indonesia (PBI)
muncul sebagai hasil kongres tersebut, dengan Sjamsju Harja Udaja sebagai
ketua. Para aktivis yang tidak setuju dengan
pembubaran BBI, terus menjalankan kegiatan organisasi ini. Cabang-cabang yang
ada diperkuat, dan sangat berpengaruh pada gerakan buruh selanjutnya. Cabang Jakarta
misalnya, dipimpin oleh Njono yang pada dekade 1950-an menjadi Sekjen SOBSI.
Dalam perkembangan selanjutnya, terutama setelah bulan Januari 1946 PBI semakin
menganggap diri sebagai partai oposisi dan oleh pemerintah diperlakukan seperti
yang mereka kehendaki. Dalam kegiatannya, PBI menyebarkan gagasan sindikalis;
instalasi industri yang diambilalih oleh buruh harus tetap dipegang oleh buruh,
dan bukan oleh pemerintah. Perusahaan harus dijalankan kembali oleh
buruh-buruhnya. Sikap bertentangan ditunjukkan oleh Partai Sosialis yang
menguasai kabinet (Sjahrir) dan akibatnya PBI tidak mendapat sambutan luas
sebagaimana mereka harapkan sebelumnya. Kelas buruh (industri) pada masa itu
masih merupakan bagian kecil saja dari penduduk dan belum terorganisir secara
politik, sehingga terlalu kecil untuk menjadi basis politik yang benar-benar
kuat.
Pada periode-periode 1945-47
sejumlah serikat buruh kembali dibentuk, seperti Serikat Boeroeh Goela (SBG),
Serikat Boeroeh Kereta api (SBKA), Serikat Boeroeh Perkeboenan Repoeblik
Indonesia (Sarbupri), Serikat Boeroeh Kementrian Perboeroehan (SB Kemperbu),
Serikat Boeroeh Daerah Autonom (SEBDA), Serikat Sekerjdja Kementrian Dalam
Negeri (SSKDN), Serikat Boeroeh Kementrian Penerangan (SB Kempen), dan
sebagainya. Banyak di antara pemimpin serikat-serikat buruh ini menjadi tokoh
gerakan buruh pada masa sebelumnya, dan juga ikut dibuang oleh pemerintah
Hindia Belanda. Dengan sekian banyak serikat buruh seperti ini, kembali muncul
keperluan mendirikan sebuah federasi serikat buruh. Mengenai pembentukan
federasi serikat buruh ini muncul perbedaan pendapat, sehingga pada tanggal 21
Mei 1946 didirikan Gaboengan Serikat-Serikat Boeroeh Indonesia (GASBI) sebagai
hasil peleburan BBI. Perubahan nama ini juga terlihat dalam perubahan
bentuknya, karena hanya organisasi yang dibentuk berdasarkan lapangan kerja,
yang dapat bergabung di dalamnya. Kenyataan ini sulit diterima oleh organisasi
buruh vertikal, seperti SB Minjak, SB Postel, Pegadaian, PGRI, Listrik dan
lainnya. mereka kemudian membentuk Gaboengan Serikat Boeroeh Vertikal (GSBV)
pada bulan Juli 1946.
'Perpecahan' ini tak berlangsung
lama dan tanggal 29 November 1946 didirikan Sentral Organisasi Boeroeh
Indonesia (SOBSI), yang menggantikan kedua federasi sebelumnya. Organisasi ini
dipimpin oleh tokoh-tokoh gerakan buruh seperti Harjono, Asrarudin, Njono dan
Surjono. Organisasi ini juga mendapat dukungan dari sejumlah kekuatan politik
seperti Partai Sosialis, PBI, Pesindo, PBI, Barisan Tani yang mendukung
pemerintahan Sjahrir di masa itu. Dalam azas pendiriannya dinyatakan bahwa
SOBSI bukan partai politik, tapi dalam perjuangannya akan bekerjasama dengan
partai-partai politik. Dasar organisasi yang dipilih SOBSI adalah
demokratis-sentralisme, artinya pengurus sentral dalam melakukan tugas-tugasnya
bertanggung jawab pada kongres. Federasi ini dengan cepat mendapat sambutan
dari serikat-serikat buruh yang lain. LBI yang semula berdiri sendiri,
dimasukkan ke dalam SOBSI juga mendapat perhatian, terlihat dari undangan yang
dikirim WFTU untuk menghadiri sidang umum di Praha, Cekoslovakia. Sebagai
wakilnya, SOBSI mengirim Setiadjid dan Oei Gie Hwat. Pada masa perang, dengan
adanya blokade Belanda, maka hubungan badan sentral dengan cabang-cabangnya
tidak berjalan dengan lancar. Perpecahan sesudah Perjanjian Renville tidak
dapat dihindari karena adanya perbedaan pendapat dalam garis politik. SOBSI
pada dekade 1950-an menjadi federasi serikat buruh terkuat di Indonesia , baik
dari segi jumlah maupun aktivitasnya.
Golongan yang tidak setuju dengan
pemerintahan Sjahrir, membentuk Gaboengan Serikat Boeroeh Revoloesioner
Indonesia (GASBRI). Ketika terjadi Peristiwa Madiun 1948, sejumlah tokoh SOBSI
mati ditembak atau ditangkap. Sejumlah tokoh lainnya yang berhasil
menyelamatkan diri, terus bergerak, walaupun tidak dapat tampil ke permukaan.
16 serikat buruh yang semula bergabung dengan SOBSI memisahkan diri dari
federasi tersebut.
Begitu banyaknya jumlah organisasi
yang tidak jarang mengklaim diri mereka sebagai federasi tentu memiliki alasan
tertentu. Perbedaan pendapat mengenai dasar organisasi dan persepsi politik
adalah sumber perpecahan yang amat umum. Perpecahan dan penggabungan merupakan
pemandangan umum pada masa itu. Kehidupan sosial-politik yang demokratis pada
masa pasca-Proklamasi tidak mengizinkan terjadinya tindakan-tindakan
sentraisasi yang amat ketat. Semua tindakan yang kelihatan mengarah pada
sentralisasi, segera dituding sebagai tindakan yang tidak demokratis dan tidak
sejalan dengan perjuangan kepentingan kaum buruh. Walau begitu sulit untuk
menilai bahwa masa itu merupakan masa kekacauan, dalam pengertian tidak adanya
serikat buruh yang dapat dijadikan pegangan. Pandangan yang melihat gejala
tersebut (sampai tahun 1957) sebagai keruntuhan demoksi, sebenarnya telah
melandaskan gagasannya pada perkembangan demokrasi yang terjadi di Barat.
Pandangan seperti itu tak dapat dibenarkan, karena cenderung mengabaikan
pengalaman historis kelas buruh Indonesia .
Buruh yang terlibat dalam organisasi
tertentu di tahun 1950-an jumlahnya mencapai antara 3-4 juta orang. Kaum buruh
ini bergabung di bawah sekitar 150 serikat buruh nasional, dan ratusan serikat
buruh lainnya di tingkat lokal, yang tak memiliki afiliasi di tingkat nasional.
Serikat-serikat buruh nasional memiliki jumlah anggota yang beragam. Serikat
Buruh Perkebunan Republik Indonesia
(Sarbupri) misalnya mengklaim anggotanya sebanyak 600.000 orang. Sementara
serikat buruh nasional seperti Perhimpunan Ahli Gula Indonesia (PAGI) hanya
memiliki 600 anggota. Label 'nasional' yang dikenakan dengan begitu tidak
menjamin jumlah anggota yang banyak. Di antara ratusan serikat buruh itu, dapat
dilihat adanya empat federasi serikat buruh yang cukup besar dan tiga federasi
yang lebih kecil, serta sejumlah organisasi lainnya yang juga mengklaim dirinya
sebagai federasi. Keempat federasi serikat buruh itu adalah :
1.
SOBSI dengan anggota sekitar 60% dari
seluruh jumlah buruh yang terorganisir. Federasi ini memiliki organisasi yang
baik, dan paling efisien dari segi administrasi. Seperti diketahui, federasi
ini dibentuk di tahun 1946 ketika Indonesia sedang berada dalam
perang kemerdekaan. Kementerian Perburuhan di tahun 1956 menyatakan federasi
ini memiliki 2.661.970 anggota. Organisasi ini memiliki hubungan erat dengan
Partai Komunis Indonesia (PKI) yang kembali ke panggung politik pada tahun 1951
di bawah pimpinan Dipa Nusantara Aidit. SOBSI terdiri atas 39 serikat buruh
nasional dan sekitar 800 serikat buruh lokal. Di antaranya yang cukup penting
adalah SBG, Sarbupri, Sarbuksi (Kehutanan), SBPP (Pelabuhan), SBKA, SBKB
(Kendaraan Bermotor), SERBAUD (Angkatan Udara), SB Postel, Perbum (Minyak),
SBTI (Tambang), SBIM (Industri Metal), SBRI (Rokok), Sarbufis (Film), SBKP
(Kementerian Pertahanan), Kemperbu, SBPU (Pekerjaan Umum), SEBDA, dan SBPI
(Percetakan). SOBSI juga memiliki afiliasi dengan World Federation of Trade
Unions (WFTU). Njono yang menjadi Sekretaris Umum SOBSI juga menjabat sebagai
Wakil Presiden WFTU.
2.
Kongres Buruh Seluruh Indonesia (KBSI),
yang didirikan pada tanggal 12 Mei 1953 terdiri atas serikat-serikat buruh yang
non komunis. Jumlah anggotanya saat pembentukan mencapai 800. 000 orang, tapi
segera berkurang seiring dengan terjadinya perpecahan di tingkat
kepemimpinannya. Serikat buruh yang menjadi pendukung federasi ini adalah
PERBUPRI (perkebunan), PBKA (kereta api), SKBM (minyak), SBP (pertambangan),
SBKPM (penerbangan), OBPSI (perniagaan). Organisasi ini tak memiliki afiliasi
dengan organisasi buruh internasional, dan amat terbatas kegiatannya pada
hal-hal yang berhubungan dengan keadilan sosial.
3.
SBII didirikan di bulan November 1948
oleh tokoh-tokoh Partai Islam, Masyumi yang menyadari pentingnya gerakan
organisasi buruh sebagai basis pendukung partai. Pada tahun 1956 anggotanya
diklaim sebanyak 275.000 orang dari berbagai bidang pekerjaan. Pimpinan SBII
ini dipegang oleh Mr. Jusuf Wibisono, anggota Presidium Masyumi dan pernah
menjadi Menteri Keuangan. Sesuai dengan nama yang disandang, organisasi ini
melandaskan gagasannya pada ajaran-ajaran Quran. SBII ini memiliki afiliasi
dengan International Conference of Free trade Unions (ICFTU). Selain itu SBII
juga mengadakan kontak dengan gerakan buruh di negara-negara Islam.
4.
Kesatuan Buruh Kerakjatan Indonesia
(KBKI) didirikan pada tanggal 10 Desember 1952. Organisasi ini semula bernama,
Konsentrasi Buruh Kerakjatan Indonesia ,
dan memiliki hubungan dengan Partai Nasional Indonesia. Dalam salah satu
pernyataannya tertulis bahwa organisasi ini bekerja bersama PNI dalam mencapai
tujuan-tujuannya. Azas yang melandasi organisasi ini adalah Marhaenisme (ajaran
Soekarno). Pada tahun 1955 organisasi ini mengklaim memiliki anggota sebanyak
95.000 orang. KBKI ini juga adalah anggota PNI, dan keberhasilan KBKI dalam
menggalang kekuatan (di tahun 1958 ditaksir jumlah anggotanya lebih dari
setengah juta orang) tidak dapat dilepaskan dari keberhasilan PNI. Walaupun
berhubungan dengan gerakan buruh di luar negeri, dan turut berpartisipasi dalam
aktivitas internasional, KBKI tetap memilih tidak bergabung dengan organisasi
internasional.
Referensi :
1.
Zaman bergerak
2.
Sejarah Gerakan Buruh
3.
Orang-orang di persimpanghan kiri jalan
terima kasih comerade ..