Tampilkan postingan dengan label RESENSI FILM. Tampilkan semua postingan
Rules of Engagement
Pengadilan Pahlawan Perang
Fiksi tentang kebenaran bersayap ideologi militer. Plot berbelok yangkurang meyakinkan.
Sosok Kolonel Marinir Terry Childers yang tinggi-besar, kukuh, dan tegas, mendadak jadi rapuh. Penyandang lencana ketenangan dalam bertempur itu berubah sangat emosional. Citra sebagai kampiun Perang Vietnam, Beirut, dan Panama luluh lantak. Menjelang masa pensiunnya, Childers malahan dihujat dengan julukan baru: sang pembunuh.
Adalah misi penyelamatan Duta Besar Amerika Serikat di San’a, Yaman, yang membuat kepahlawanan Childers lebur berantakan. Ia dituduh membunuh 83 warga Yaman dan mencederai ratusan penduduk sipil. Ancaman hukumannya: dipecat dari kesatuan dan dipenjarakan sedikitnya 10 tahun. Tapi ini hanya penggalan Rules of Engagement, film yang disutradarai William Friedkin.
Rules diangkat dari fiksi karangan James Webb, bekas pejabat di Angkatan Laut Amerika Serikat pada era kepresidenan Ronald Reagan. Ada rona politik dalam cerita yang bertutur soal aturan main dalam pertempuran. Friedkin menghadirkan pertentangan antara kebenaran bersayap ideologi militer -penggunaan senjata dalam operasi tentara- dan hukum perang Amerika Serikat.
Dalam aturan tersebut, tentara tak boleh menembak warga sipil tak bersenjata. “Saya berusaha menggambarkan dedikasi para marinir dengan cara paling otentik,” kata sutradara peraih Oscar lewat The French Connection (1971) itu. Peran sentral dimainkan dua aktor berkarakter, Samuel L. Jackson (Terry Childers) dan Tommy Lee Jones -yang memerankan Kolonel Hays Hodges, sobat perang Childers di Vietnam.
Childers-Hodges berhadapan dengan penasihat Dinas Sekuriti Nasional (NSA), William Sokal (Bruce Greenwood). Sokal menuding Childers telah merusak citra Amerika di dunia internasional. Rules dibuka dengan kilas balik aksi Childers dalam Perang Vietnam, 1968. Childers menyelamatkan Hodges ketika pasukan Hodges terjebak kepungan pejuang Vietnam.
Tapi, aksi “dramatis” itu tak menjelaskan, bagaimana juntrungannya hingga Hodges dan anggota pasukannya begitu gampang tewas bak lalat-lalat yang mati dalam satu tepukan. Alur mengalir ke setting 1996, ketika Childers memimpin operasi di Yaman. Hodges sendiri lama absen di lapangan setelah menggenggam ijazah sarjana hukum militer.
Childers bersama pasukannya ditugasi Pemerintah Amerika menyelamatkan duta besarnya di Yaman. Sang ambasador (Ben Kingsley) dan keluarganya terkepung di gedung kedutaan oleh ratusan demonstran penentang Amerika. Dalam misi itu, Childers sukses menyelamatkan sang dubes sekeluarga. Tapi, tiga anak buahnya tewas oleh peluru demonstran.
Jagoan perang (model Amerika) itu dan bala tentaranya membalas aksi tembak pengunjuk rasa. Dari sinilah penonton diseret pada situasi sarat emosi. Hingga pertengahan cerita, Childers “terbukti” sebagai pembantai warga tak bersenjata. Kebencian pada Childers kian menjadi ketika bukti di lapangan menguatkan dugaan.
Korban hanyalah warga sipil, wanita, dan anak-anak. Tak sepucuk senapan pun ditemukan di samping mayat mereka. Kekuatan film ini lalu muncul dari ruang pengadilan Mahkamah Militer. Penonton diajak menyimak kenyataan -tentang pembantaian masal itu- dengan pembelaan Hodges. Sayangnya, penonton dipaksa percaya dengan kepiawaian Hodges bersilat lidah di depan para juri.
Padahal, selama 28 tahun Hodges tak sekali pun menangani kasus. Ia hanyalah veteran perang yang pemabuk berat. Friedkin berupaya membelokkan plot dengan menyembunyikan bukti penting hingga menjelang akhir cerita. Yakni rekaman video yang dipasang di sudut-sudut atap gedung kedutaan. Kaset rekaman itu selintas diputar penasihat NSA, sebelum dilenyapkan di perapian.
Tergambar jelas wanita dan anak-anak pengunjuk rasa memuntahkan ratusan peluru ke arah Childers dkk. Tampaknya, kisah ini berupaya mengentalkan image Childers (baca: tentara Amerika) sebagai sosok tak bersalah dalam setiap operasi militernya. Nyatanya, Childers jelas menabrak rules of engagement. Ia tak memberi tembakan peringatan sebelum menghajar para demonstran. Rules tak lebih dari propaganda Amerika lewat pabrik film Hollywood. Biasa.
The Killing Of John Lennon
Ditulis dan disutradarai oleh Andrew Piddington; direktur fotografi, Roger Eaton; diedit oleh Tony Palmer; musik oleh Makana, desainer produksi, Tora Peterson; diproduksi oleh Rakha Singh; dirilis oleh IFC Films. Pada Pusat IFC, 323 Avenue of the Americas, di Jalan Ketiga, Greenwich Village. Durasi: 1 jam 54 menit. Film ini tidak dinilai.
pemeran: Jonas Ball (Mark David Chapman), Krisha Fairchild (ibu Mr Chapman), Mie Omori (Gloria Chapman) dan Robert Kirk (Detektif John Sullivan).
film yang berhasil mendapatkan gelar sebagai film speial terbaik pada tribeca film festival ini diangkat berdasarkan kisah nyata, difilmkan di tempat tempat yang aktual, dimana seluruh narasi benar benar merupakan keseluruhan ucapan Mark David Chapman sendiri, plus berbagai sisipan footage video asli milik Mark David Chapman. Disini selain menjadi sebuah film yang cult, juga kemudian menjadi sebuah ironi kontroversial tersendiri terhadap industri film Amerika. Ketika biasanya industri film Amerika mengangkat film cult dari sisi positifisme seorang tokoh penting dunia, maka biopic ini justru mengangkat keseluruhan pandangan eksistensialis seorang pembunuh berdarah dingin bernama Mark David Chapman[dimana pemerannya memiliki raut wajah yang mirip dengan David vokalis band Naif]. Ironi ini juga semakin diperkuat oleh sebuah adegan yang benar benar satir menurut saya. Ketika itu John Lennon meninggal, Yoko Ono beserta ribuan fans John Lennon hanya bisa menangis, dan Mark David Chapman ditahan di kantor polisi. Sayup sayup adegan mengabur secara slow motion dan kemudian berkumandang lagu Silent Night yang dalam bahasa Indonesia berarti Malam Kudus, sebuah lagu umat Katolik yang biasa dinyanyikan pada misa Malam Natal sebagai penanda kelahiran Yesus Kristus Sang Juru Selamat. Lagu Silent Night yang dikontraskan dengan adegan crowd, histeria dan haru biru tersebut adalah sebuah satir film yang sempurna.
BALIBO
Pada saat Indonesia mempersiapkan untuk menyerang bangsa kecil Timor Timur, lima wartawan Australia berdasarkan hilang.
Empat minggu kemudian, koresponden veteran asing Roger East adalah terpikat ke Timor Timur José Ramos oleh muda dan karismatik Horta untuk menceritakan kisah tentang negaranya dan menyelidiki nasib orang-orang hilang. Sebagai tekad Timur untuk mengungkap kebenaran tumbuh, ancaman invasi mengintensifkan dan persahabatan tidak berkembang antara wartawan asing terakhir di Timor Timur dan orang yang akan menjadi Presiden.
BALIBO adalah sebuah thriller politik yang menceritakan kisah nyata tentang kejahatan yang telah ditutup selama lebih dari tiga puluh tahun terakhir.
Film Balibo ini mengisahkan usaha wartawan senior Australian Associated Press (AAP) Roger East (Anthony LaPaglia) untuk mencari lima koleganya yang menghilang di Balibo, Timor Leste. Awal film berjalan lambat dimulai dari pertemuan Roger dan Jose Ramos Horta (Oscar Isaac) muda di Darwin, Australia.
Horta mengajak Roger ke Timor Leste untuk meliput konflik yang terjadi. Sedangkan Roger ingin mencari lima wartawan yang hilang. Horta pun menemani Roger berjalan kaki dari Dili menuju Balibo. Di tengah jalan, mereka bertemu sejumlah gerilyawan Fretilin yang mereka tanyai soal keberadaan para wartawan Australia.
Pencarian Roger dan Horta diselingi dengan adegan kilas balik saat lima wartawan Australia meliput ke Balibo. Kondisi Balibo yang berbahaya membuat Horta tidak meneruskan perjalanan. Roger pun dipandu seorang gerilyawan Fretilin.
Tensi film pun naik menjelang akhir. Lima Wartawan Australia yang ngotot mengambil gambar, terjebak dalam baku tembak antara Fretilin dan pasukan tentara yang berpakaian sipil. Tidak dijelaskan mereka berasal dari TNI atau kesatuan apa. Namun, pasukan tentara itu digambarkan bercakap-cakap dalam bahasa Indonesia.
Yang jelas, memang digambarkan sosok seorang kapten dari pasukan berbaju sipil itu. Sang pemimpin pasukan digambarkan agak tua, bertopi dan kemeja serta memakai tas selempang. Saat seorang wartawan menyerahkan diri, sang kapten malah menembak kepalanya.
Adegan selanjutnya pun berdarah-darah. Para wartawan yang tersisa dibantai di dalam rumah persembunyiannya. Adegan ditutup dengan jenazah para wartawan ini ditumpuk dan dibakar di dalam rumah. Roger yang datang empat minggu kemudian hanya menemukan bercak darah yang mengering.
Di akhir film, digambarkan pasukan tentara menyerbu Dili. Apakah pasukan tentara itu TNI? Dalam film itu, seragam loreng mereka berbeda dengan seragam loreng TNI. Ditampilkan pula sekilas sejumlah personel berbaret merah berwajah Indonesia. Mereka membawa rakyat Dili ke sebuah dermaga, termasuk Roger yang sudah dipukuli. Rakyat Dili ini pun dibantai di dermaga. Roger pun ikut ditembak dan dibuang ke laut.
Sepanjang film, memang tidak ditampilkan lambang-lambang TNI. Kata-kata seperti misalnya “tentara Indonesia”, hanya muncul dalam dialog tokoh-tokoh film tersebut.
Film ini pun ditutup dengan kumpulan foto dan klip berita kemerdekaan Timor Leste serta kembalinya Horta ke Bumi Loro Sae itu. Sebuah tulisan pun menutup film Balibo, “Hingga saat ini para pelaku belum bisa dijerat secara hukum.”
“1911″, tentang Revolusi China 100 Tahun yang Lalu
Anda masih ingat dengan sebuah film bagus di tahun 1987? Film yang berhasil meraih 9 Piala Oscar, termasuk Film Terbaik 1987? Ya, dia adalah The Last Emperor, karya sutradara Bernardo Bertolucci.
The Last Emperor, menceritakan masa-masa terakhir pemerintahan Dinasti Qing, yang sekaligus mengakhiri sistem pemerintahan monarki (kerajaan) di China yang telah berlangsung selama berabad-abad, dengan fokus pada kisah hidup kaisar terakhirnya, Pu Yi (7 Februari 1906 – 17 Oktober 1967) .
Dinasti Qing (1644 – 1911) runtuh sekaligus juga melenyapkan sistem pemerintahan monarki di China selamanya, sebagai hasil dari terjadinya revolusi di China, yang memang menghendaki sistem kerajaan diganti dengan sistem republik.
Adalah Sun Yat-sen (12 November 1866 – 12 Maret 1925) yang merupakan tokoh utama dari meletusnya revolusi China (Xīnhài Gémìng) tersebut. Yang sudah lama merasa muak dengan sistem kerajan yang sangat feodal, yang mendewa-dewakan seorang kaisar dengan pemerintahan yang penuh intrik dan korupsi.
Revolusi China 10 Oktober 1911, di bawah pimpinan Sun Yat-sen berhasil meruntuhkan kekaisaran Dinasti Qing di bawah Kaisar Pu Yi pada 12 Februari 1912. Menjadikannya sebagai kerajaan dan kaisar terakhir yang pernah dimiliki China.
Sun Yat-sen kemudian mendirikan Republik China, dengan partai politiknya yang merupakan partai politik moderen pertama dan tertua dalam sejarah China, dengan nama Kuomintang. Menjadi Presiden pada tahun 1912, dan 1923 - 1925.
Setelah Sun meninggal dunia, Chiang Kai-shek sebagai Panglima Tentara Revolusi Rakyat melanjutkan cita-cita revolusi Sun untuk mempersatukan seluruh Tiongkok di bawah pemerintahan nasionalis Kuomintang.
Perang saudara yang berkepanjangan antara kubu Nasionalis dengan kubu Komunis di bawah komando Maozedong akhirnya dimenangkan oleh kubu Komunis pada 1949. Mao kemudian membentuk Republik Rakyat China pada 1 Oktober 1949. Sedangkan Chiang Kai-shek melarikan diri ke Pulau Formosa (Taiwan), meneruskan bentuk pemerintahan dengan nama resmi Republik China. Dengan tetap merayakan hari kemerdekaan setiap tanggal 10 Oktober (10-10). Biasanya diistilahkan dengan sebutan “Double Ten” di Taiwan.
Di Republik Rakyat China, Hongkong, dan Makau diperingati sebagai Hari Revolusi China, atau Revolusi Xinhai. Sebagai tolok ukur berakhirnya bentuk pemerintahan Kerajaan, diganti dengan bentuk Republik.
Nah, kalau The Last Emperor fokus ceritanya pada masa-masa kejatuhan Dinasti Qing akibat dari berhasilnya perjuangan revolusi rakyat China yang dipimpin oleh Sun Yat-sen itu, maka pada bulan Oktober 2011 ini, dirilis sebuah film yang fokus ceritanya pada sisi perjuangan kaum Nasionalis pimpinan Sun Yat-sen. Sekaligus untuk memperingati tepat 100 tahun sejarah Revolusi China.
Film dengan judul 1911 Revolution (Xīnhài Gémìng) ini dibintangi oleh Jackie Chan, Bing-Bing Li, Winston Chao (sebagai Sun Yat-sen), Joan Chen, dan lain-lain. Uniknya film ini juga merupakan filmnya yang ke-100.
Jackie Chan juga menduduki posisi produser dan sutradara untuk film ini bersama dengan Li Zhang (cinematogrrafi Red Cliff).
Secara “kebetulan” dalam rangka memperingati haribersejarah bagi rakyat China, baik yang di China daratan, maupun di Taiwan, dibuatlah film 1911, dengan sutradara dan bintang utamanya Jackie Chan, yang juga merupakan film ke-100 yang dibintanginya. Boleh dikatakan bahwa ini juga merupakan film serius pertama Jackie Chan. Karena selama ini Jackie Chan selalu dikenal sebagai bintang laga komedi (kungfu).
Selain itu, 1911 merupakan film asing (Asia) pertama di Amerika Utara yang diputar hampir bersamaan dengan jadwal pemutaran perdana di negara asalnya. Hanya berselang 2 minggu dari pemutaran perdana di China (23 September 2011), film ini diputar secara terbatas di Amerika Utara pada 7 Oktober 2011.
Presiden Well Go USA, Doris Pfardrescher, perusahaan yang mengimpor dan mendistribusikan film 1911 di Amerika Utara itu, mengatakan bahwa pemutaran film ke-100 Jackie Chan tersebut di Amerika Utara senagja dibuat bersamaan waktunya dengan jadwal pemutaran di China, sebagai suatu perwujudan penghormatan mereka terhadap nilai sejarah dalam film itu dan pengabdian Jackie Chan selama lebih dari separoh umurnya di dunia film.
We are honored to be part of “1911″ on many levels , not only because of its historical significance but also because it’s Jackie’s 100th films, Jackie Chan is an icon and it’s just thrilling for us to be able to bring this film to his North American fans on the same day and dates as Asia’s theatrical release.” (Doris Pfardrescher) - Dikutip dari Hollywood Reporter
Film 1911 juga mendapat kehormatan khusus di Tokyo International Film Festival (TIFF) ke-24 di Tokyo Jepang, yang mulai berlangsung dari tanggal 22 - 30 Oktober 2011, dengan menjadi film pembuka festival yang khusus. Karena sudah menjadi kebiasaan yang berlangsung lama bahwa di festival tersebut hanya dipilih satu film pembuka saja. Yang terpilih tahun 2011 ini adalah The Three Musketeers. Tetapi karena nilai sejarah dalam 1911 dan peran Jackie Chan di dalamnya, diputuskan bahwa selain The Three Musketeers, juga diputar film 1911.
Jackie Chan yang rencananya akan hadir dalam acara pembukaan TIFF 2011 itu menyampaikan rasa terima kasihnya atas begitu tinggi penghargaan yang diberikan kepada dirinya. Dia juga mengharapkan bahwa film ini akan ikut menjadi motivatorbagi rakyat Jepang untuk bangkit dari keterpurukan akibat bencana tsunami dahsyat pada Maret 2011 lalu.
“I am privileged to have my 100th film selected as the special opening film for this significant year in which Japan has taken its first steps toward recovery, … When a major disaster strikes, heroes arise who are willing to sacrifice themselves….At this time, as Japan faces the aftermath of disaster, I truly hope my film can be of help to the people of Japan.” demikian pernyataan Jackie Chan, yang dikutip dari Hollywood Reporter.
Dari dua momen tersebut di atas, apresiasi terhadap film ini dan Jackie Chan di Amerika dan Jepang, dapat kita lihat bagaimana sosok seorang Jackie Chan yang begitu dihormati. Bukan hanya di Hongkong, China, tetapi juga di beberapa negara. Bahkan sampai di Amerika yang dikuasai Hollywood, sampai d Tokyo, Jepang.
Jackie Chan bukan dihormati karena pengabdiannya dalam dunia film saja, yang bertepatan dengan filmnya yang ke-100 tentang Revolusi China yang ke-100, tetapi juga karena kepribadiannya yang memang menyenangkan orang lain, jauh dari sombong, sangat dikenal sebagai orang yang berjiwa sosial tinggi.
Pada waktu terjad bencana tsunami dahsyat di Aceh pada 26 Desember 2004 , Jackie Chan juga memberi sumbangan sebanyak 5 juta Dollar AS, dan menyempat dirinya bersama sejumlah artis Hongkong lainnya mengunjungi langsung lokasi pengungsian di Aceh.
Dalam film 1911 ini Jackie Chan berperan sebagai Huang Xing (25 Oktober 1874 - 31 Oktober 1916). Huang Xing adalah seorang panglima perang pertama Republik Cina yang berperan penting dalam perang Revolusi China yang kemudian berhasil meruntuhkan Dinasti Qing. Juga adalah sahabat terdekat Sun Yat-sen. Keduanya dikenal sebagai “Dwi-Tunggal” dengan sebutan “Sun-Huang”. Keduanya mendirikan Kuomintang dan Republik China, paska runtunhnya Dinasti Qing.
Bagaimana dengan film ini sendiri? Apakah akan mendapat pujian dari para kritikus film, atau sebaliknya? Apakah dia akan sukses secara komersial, maupun mendapat sambutan positif dari para kritikus film, atau sebaliknya?
Ini film serius (pertama) dari Jackie Chan, jadi jangan harap ada unsur komedi sedikitpun dalam perannya kali ini. Sebuah film tentang sejarah. Sehingga tentu saja hanya cocok dengan mereka yang benar-benar tertarik (dan ingin tahu) dengan sejarah terbentuknya Republik China melalui Revolusi China 1911 itu.
Dinamit yang Disemai Diam-diam
Lampu-lampu baru saja dipadamkan. Pertunjukan akan segera dimulai. Tapi seorang pria tiba-tiba muncul tepat didepan layar putih. Pria berambut keriting itu mulai dengan mengucapkan kata maaf. “Maaf, film ini baru saja selesai editing dan baru diprint kemarin. Jadi masih ada beberapa kesalahan teknis yang harus saya jelaskan lebih dulu,” kata pria itu, Andrey Nekrasov.
Film yang dimaksud, tak lain adalah film dokumenter terbarunya bekerjasama dengan Olga Konskaia, Rebellion: The Litivinenko Case.Sebetulnya, kesalahan teknis yang dimaksud Nekrasov bukanlah masalah besar, hanya masalah perbedaan bahasa. Terjadi sebuah kesalahan translasi, yang harusnya hanya ‘bombardé’ (mengebom) menjadi ‘bombardement’ (membombardir -biasanya dilakukan dari atas pesawat tempur-).
Mungkin bagi sebagian penonton, itu hanya kesalahan kecil, tapi bagi Nekrasov, translasi itu bisa jadi teramat fatal -cenderung melebih-lebihkan- kalau menyangkut akurasi peristiwa yang akan disaksikan dalam Rebellion. Rebellion memang memaparkan sebuah kasus penting dalam sejarah Rusia yang hingga saat inipun masih jadi bahan spekulasi.
Pada september 1999, terjadi rangkaian aksi pengeboman diberbagai wilayah Rusia -Moscow, Buynaksk, Volgodonsk dan Ryazan- dan membunuh hampir 300 korban hingga melegitimasi keputusan Vladimir Putin -kala itu masih menjadi Perdana Menteri Rusia- untuk mengobarkan Perang Chechen kedua.
Dalam salah satu sekuan di Rebellion, peristiwa itu diceritakan oleh Alexander Litvinenko -eks agen rahasia Rusia, KGB- yang mengatakan ‘pengeboman’ diberbagai wilayah yang kemudian ditranslasi menjadi ‘bombardement’ yang harusnya hanya ‘bombardé’. Bagi Nekrasov, itu fatal karena bisa jadi kesalahan kecil itu bisa jadi justru yang akan digunakan oleh pihak ‘tertuduh’ menyerangnya dikemudian hari.
Maklum, Rebellion: The Litvinenko Case memang dokumenter ‘panas’. Ada sejumlah tokoh yang sudah tewas memberikan kesaksian di film ini. Termasuk wartawan wanita Anna Politskovskaya. Begitu hati-hatinya sutradara kelahiran Leningrad pada 1958 itu ketika memutar film ini pertama kali di Cannes.
“Di Cannes, atau diluar Rusia, film ini mungkin hanya akan diposisikan sama dengan film-film lain, ditonton, dinikmati, kemudian diperbincangkan jika bagus dan dilupakan jika jelek. Tapi di Rusia, film ini adalah ladang bom”, kata Nekrosov kepada wartawan di Terasse Du Suquet, usai pemutaran Rebellion.
Di Cannes, selain hadir bersama kolaboratornya, Olga Konskaia, Nekrasov juga membawa janda mendiang Litvinenko, Marina. Marina terlihat tegar meski tak kuasa menahan haru ketika selesai menonton film itu. “Saya juga baru pertama kali ini menontonnya,” kata Marina yang juga muncul di Rebellion.
Meski lega Rebellion akhirnya selesai, Nekrasov patut waspada. Faktanya sejumlah orang yang memberikan kesaksian di Rebellion, tewas tak berbekas alias tanpa penjelasan apalagi pertanggung jawaban. Rebellion: The Litvinenko Case memang sebuah dinamit yang disemai diam-diam. Seperti sebuah firasat, pengambilan stok gambar Alexander Litvinenko, sang tokoh utama, sudah dimulai sejak tahun 2004.
Film dokumenter ini adalah kisah Litvinenko eks agen KGB yang diracun dengan radioaktif Polonium 210 dan menjadi berita paling panas akhir tahun lalu. Kasusnya bahkan hingga saat ini masih berjalan dimana mulai banyak tertuduh yang diajukan. Rebellion dibuka dengan sebuah adegan dari balik jendela. Alexander Litvinenko nampak berbicara dengan seseorang -yang tak lain adalah Andrey Nekrasov, sutradara Rebellion- .
Adegan ini dipersiapkan sejak lama dan memang direncanakan untuk jadi pembuka kalau-kalau film ini harus dibuat. Film ini akhirnya harus diciptakan dan itu terbukti dengan pesan yang menyertai adegan pembuka dari balik jendela itu; “Jika terjadi sesuatu padaku, tunjukkan video ini keseluruh dunia”.
Setelah adegan pembuka itu, Rebellion mulai berkisah dari tutur personal Nekrasov. Mengapa ia sampai dekat dengan Nekrasov dan bahkan menyimpan sejumlah video-video yang masuk kategori ‘high confidential’. Lalu setelah itu, Rebellion dilengkapi dengan sejumlah wawancara antara Andrey Nekrasov dan mendiang Litvinenko kala masih segar bugar hingga wafatnya pada 23 November tahun lalu.
Dari Rebellion, penonton bisa memahami mengapa Nekrasov jadi begitu gusar dengan kematian Litvinenko. “Saya menemuinya dari saat ia masih segar bugar hingga ia jadi seperti tengkorak,” kata Nekrasov. Nekrasov bertemu Litvinenko ketika sedang mengumpulkan bahan untuk film dokumenternya Disbelief -tentang pengeboman di sejumlah apartemen di Moscow tahun 1999- yang dirilis tahun 2004 lalu.
Sejak saat itu, Nekrasov mulai merekam setiap wawancara dan sejumlah pertemuan dengan Litvinenko di London. Mereka menjadi sangat akrab karena proyek Disbelief. Saking akrabnya, hingga Litvinenko kemudian mulai menceritakan sejumlah rahasia penting kepada Nekrasov.
Tentu saja yang paling sensitif dari Rebellion adalah tudingan Litvinenko bahwa Presiden Putin lah yang memerintahkan untuk membunuhnya. Tudingan itu diikuti dengan berbagai kesaksian yang mulai mengungkap satu persatu kebusukan pemerintahan Putin, termasuk akal bulusnya untuk kembali mengobarkan Perang Chechnya kedua.
Menurut Litvinenko, rangkaian pengeboman September 1999 diberbagai wilayah Rusia itu hanyalah bagian dari akal bulus Putin. “Dia dan agen rahasia FSB lah yang mendalangi,” tuduh Litvinenko. Ini juga salah satu alasan mengapa Litvinenko kemudian meminta suaka ke Inggris.
Dokumenter ini juga terdiri dari banyak interview, dan arsip arsip visual yang masuk kategori rahasia tingkat tinggi dan belum pernah dimunculkan sebelumnya. Terdapat video pengakuan empat eks agen KGB termasuk Litvinenko terhadap korupsi dan manipulasi dalam badan KGB. Juga sebuah video yang terang-terangan berisi obrolan tentang cara badan intelijen itu bekerja menghilangkan orang. Termasuk melenyapkan wartawan Anna Politkovskaya yang sempat beberapakali tampil dalam wawancara dengan Nekrasov.
Nekrasov juga banyak menyodorkan sejumlah stok gambar tentang Politskovskaya saat mendiang wartawan wanita itu masih sibuk melakukan investigasi terhadap sejumlah kasus di Rusia. Politskovskaya kemudian ditembak mati didepan apartemennya pada 7 Oktober 2006 lalu.
Toh Rebellion tidak melulu berisi kisah suram tentang permainan kotor politik. Ada sedikit sisipan humor juga dihadirkan. Antara lain sebuah video bagaimana Presiden Perancis Jacques Chirac pernah memberikan sebuah medali khusus kepada Vladimir Putin pada acara seremoni rahasia. Video ini jadi bahan 'bercanda' oleh TV perancis. Soalnya, seremoni itu harusnya tertutup untuk pers.
Presiden Chirac mewanti-wanti atase persnya untuk tidak mendokumentasikan seremoni itu. Tidak boleh ada kamera, tidak boleh ada fotografer. Tapi ternyata, Presiden Putin sendiri ingin seremoni itu direkam untuk ‘kenang-kenangan’. Bagaimana video itu akhirnya bocor ke televisi, tidak ada yang tahu.
Yang pasti, Nekrasov berhasil mendapatkan rekaman peristiwa itu berikut berita yang ditayangkan di TV. Berkali-kali Putin juga tampil di Rebellion. Nekrasov seperti ingin bilang, Putin ‘sang tertuduh’ pun punya ruang untuk pembelaan. “Sungguh disayangkan jika kematiannya yang tragis dijadikan provokasi politik,” kata Putin di Rebellion.
Meski sejak awal Nekrasov sudah punya firasat akan membuat film ini suatu hari nanti, toh Nekrasov butuh waktu sekitar 6 bulan -dari kematian Litvinenko pada 23 November 2006, hingga Mei 2007- menyatukan semua dokumen dan arsip arsip gambar dan merekonstruksinya jadi cerita utuh dalam Rebellion.
Nekrasov memang berniat agar film ini bisa diputar di festival Film Cannes yang ke 60 untuk pertama kali. “Sesuai pesan Sasha -panggilan akrab Litvinenko-, saya ingin agar film ini bisa disaksikan oleh seluruh dunia, dan Cannes adalah awal yang sangat strategis,” kata Nekrasov.
Meski Nekrasov sudah siap, toh didetik terakhir ia masih keteteran juga. Sampai Festival Film Cannes dimulai, ia masih sibuk di studio editing. Bermalam-malam ia tak tidur. Tapi tekadnya bulat, “Pokoknya film ini harus diputar di Cannes,” kata Nekrasov yang terlihat lega pada saat menemui jurnalis di Terrase du Suquet, Palais Du Cinema.
Rebellion selesai editing di Jerman pada Jumat 25 Mei -dua hari sebelum penutupan festival itu-. Nekrasov sendiri yang menenteng kaleng film itu di pesawat menuju Cannes. Esok paginya, jam 9 pagi, Rebellion diputar juga. Saking tergesa dan juga gelisah takut salah, Andrey Nekrasov merasa perlu untuk datang ke gedung teater dan mengumumkan sejumlah kesalahan teknis.
Rebellion -yang merupakan dokumenter kedua Nekrasov setelah Disbelief- tidak kalah meyakinkannya dengan Sicko dalam mengungkap fakta. Arsip-arsip yang dikumpulkan oleh Nekrasov serta upayanya untuk memburu narasumber-narasumber penting juga bisa menyamai kegigihan Michael Moore dalam membuat Sicko. Nekrasov juga bertindak sebagai narator, tampil didepan kamera sesuai yang diucapkannya di lima menit pertama Rebellion, “Film ini adalah testimoni saya”.
Meski sama-sama melakukan pendekatan personal terhadap film-film dokumenter, Nekrasov tidak segegap gempita Michael Moore dalam membuat Rebellion. Nekrasov tidak sengaja menyimpan kejutan-kejutan atau sensasi seperti yang dilakukan Moore, atau berakting seperti Moore yang kadang terlihat blo’on agar terlihat lucu.
Kurangnya humor juga yang membuat Rebellion sempat renggang dipertengahan. Begitu banyak fakta suram, testimoni menyedihkan dan gambar-gambar tak mengenakkan, sehingga membuat Rebellion menjadi dokumenter yang sedih, sarat dan berat karena nyaris tanpa humor.
Tapi itulah Nekrasov yang lahir dan besar di Rusia, negeri yang sejak dulu punya sejarah suram itu. Tentu saja, Nekrasov berbeda dengan Michael Moore yang lahir dan besar di Amerika, negeri impian banyak orang itu.
Jika Michael Moore banyak bermain-main dan menertawakan ketidakadilan, Nekrasov memilih untuk banyak merenung. Sampai ketika Litvinenko dimandikan di Mesjid London Central -Litvinenko memilih masuk Islam sejak mendekam di rumah sakit- hingga pada upacara pembacaan Al-Quran di pekuburan Highgate Cemetary, bagian utara London.
Nekrasov banyak menunduk, seperti sedang mengumpulkan tekad, Litvinenko tidak akan mati sia-sia. “Membuat film ini adalah personal katarsis buat saya, cara saya menghadapi kematian seorang teman, yang tewas mengenaskan didepan mata saya,” kata Nekrasov.
Kantata Takwa : Ketika Iwan Fals Masih Mirip Che Guevara
Bukan hanya mirip dalam soal rambut gondrong dan kumis lebat, tapi juga dalam sikap yang ’revolusioner’. Mereka sama-sama ikonik di zaman dan tempat berbeda. Che sudah lama mati, dan Iwan sudah tak segalak ketika ia berteriak ”Bongkar!” atau ”Bento!”. O ya, Iwan pun sudah tak memelihara kumis sekarang dan tak gondrong macam dulu.
Masih ada yang sama antara mereka: masa revolusioner Iwan dan Che sudah lewat.
Film Kantata Takwa memang lewat 18 tahun dari waktu rilis yang seharusnya. Film yang pasti memecahkan rekor dalam rentang waktu antara syuting hari pertama (Agustus 1990) dan pemutaran publik perdananya (April 2008), akhirnya bisa bersentuhan juga dengan publik. Setelah tertunda sekian lama sampai terendam banjir segala, Singapore International Film Festival tahun ini mendapat kehormatan menjadi tempat world premiere film dengan banyak nama seniman besar Indonesia itu.
Film ini sempat muncul di daftar film penting yang tak selesai; seakan sebuah janji bahwa sebuah gagasan luar biasa dicatat di dalamnya. Nama-nama besar (ketika itu dan mungkin sampai kini) ada di sana. Kredit penyutradaraan jatuh pada dua nama: Eros Djarot yang legendaris dengan Tjoet Njak Dhien dan musik Badai Pasti Berlalu, dan Gotot Prakosa sang pelopor animasi eksperimental negeri ini. Supervisi ada pada Slamet Rahardjo. Pendukungnya juga tak tanggung-tanggung. Cast-nya diisi dengan nama besar seperti Penyair Burung Merak Rendra, Sawung Jabo, pengusaha-cum-musisi Setiawan Djodi; dan tentu Iwan Fals sendiri. Scoring musik dipegang oleh Jockie Suryprayogo dan penata kamera ditangani oleh orang senior dalam film kita, seperti mendiang Soetomo Gandasubrata yang bisa dibilang melahirkan nyaris seluruh juru kamera yang aktif di perfilman Indonesia saat ini.
Koherensi tema
Film yang judulnya diambil dari nama kelompok musik yang terdiri dari Iwan Fals, Sawung Jabo, Donny Fatah, Inisisri, dan Setiawan Djodi serta WS Rendra bisa dianggap sebagai sebuah bentuk dokumenter yang eksperimental. Dasar dokumenter itu adalah konser kelompok musik ini di Stadion Utama Senayan (sebutan Gelora Bung Karno waktu itu) yang direkam dengan 30 kamera film! (Rasanya ini rekor lain lagi buat film Indonesia).
Rekaman konser yang megah itu ditambah dengan dokumentasi seputar konser itu dan berbagai dokumentasi lain. Selain itu, ada juga konstruksi fiktif penuh simbol dan rekaman pembacaan puisi yang didramatisasi. Jadilah ini sebuah campur aduk antara footagedokumenter, adegan-adegan fiksi, dan footage rekaman deklamasi sajak-sajak yang dilakukan di setting yang dirancang khusus.
Bisa dibilang tak ada ”cerita” dalam pengertian yang konvensional dalam film ini. Kekisahan film ini bercampur antara dokumenter dan fiksi, antara rekaman spontan dengan pembacaan puisi di lokasi yang ditata seakan sebuah ruang pengadilan. Beberapa footage dokumenter itu bahkan demikian mentahnya, seperti adegan rekaman workshop kelompok musik Kantata Takwa ketika para anggotanya sedang berdikusi tentang mengapa kelompok ini perlu ada dan apa yang sesungguhnya akan mereka tampilkan; hingga ke dokumentasi percakapan Iwan Fals dengan anak-anak kecil yang tampak dipersiapkan dengan baik (staging).
Kosa gambar itu berjalan sendiri-sendiri bagai tak membentuk pola apapun. Tak terlihat adanya pembabakan dan progresi plot, sekalipun berdasarkan topik ataupun bahkan mood. Bahkan benang merah berupa perempuan berjilbab yang menjadi saksi atas peristiwa-peristiwa fiksi dalam film ini juga tampil tak berpola sekalipun secara konstan menampilkanmood yang tak bergeser kelewat jauh dari cemas-gelisah-kuatir –seakan sedang menatap masa depan yang tak pasti.
Sekalipun bentuk film ini demikian inkoheren, tapi karya ini tetap terasa mengejar koherensi dalam tema. Hal itu tampak pada dua hal: sandaran figur-figur dalam film itu dan simbolisme yang mereka gunakan. Manusia-manusia dalam film ini lebih tepat disebut sebagai figur ketimbang karakter. Karakter biasanya berangkat dari keberadaan latar belakang kehidupan dan aspirasi yang kemudian mendorong terciptanya semacam motivasi yang mendorong kisah. Pada Kantata, para tokoh ini tampil sangat figuratif. Karakter mereka memang sengaja dibuat tak bermotivasi. Yang tampil adalah posisi kultural-politis mereka yang menonjol saat itu. Penonton diharapkan kenal dengan mereka lewat berbagai referensi nonsinematis.
Sedangkan simbolisme pada Kantata mengacu pada dekade 1990-an (dan sebelumnya) yang kerap menjadi agenda perlawanan para figur yang ada dalam film itu. Adegan-adegan seperti penembakan di hutan-hutan oleh orang bertopeng, pencabutan gigi oleh tentara, pengadilan oleh hakim berwajah palsu terhadap penulis puisi dan deklamator merupakan agenda kritik terhadap negara dekade 1980-1990-an. Apa yang diungkapkan Kantata adalah semacampasemon kritik tersebut; yang juga sempat dilakukan oleh penulis cerpen Seno Gumira Ajidarma dalam bentuk yang lebih terus terang.
Ungkapan lewat simbol perempuan berjilbab dalam Kantata juga milik dekade 1990-an. Dalam konteks awal 1990-an, perempuan berjilbab adalah semacam perlawanan yang jelas sekali terhadap otoritas negara. Pengusiran pelajar berjilbab di sekolah-sekolah merupakan persoalan besar hingga akhir dekade 1980-an, sehingga kemudian jilbab menjadi semacam perlawanan terhadap represi negara lewat rangkaian demonstrasi (bersamaan dengan demonstrasi anti-SDSB) dan kegiatan budaya macam pembacaan puisi ”Lautan Jilbab” di beberapa panggung oleh penyair-kolumnis Emha Ainun Najib.
Figur dan ungkapan simbolis yang tampil dalam film ini membentuk sebuah mayapada dengan acuan koheren dan jelas. Film ini bicara nyaring dalam konteks tertentu. Acuan pada konteks dan kelindannya dengan seluruh elemen kekisahan film ini menghasilkan koherensi yang tak terhindarkan pada tema. Maka menonton film ini bagai masuk ke kapsul waktu yang melontarkan saya ke dekade 1990-an.
Masihkah relevan?
Asumsi yang digunakan sebagai landasan untuk membangun tema Kantata adalah model perlawanan terhadap kekuasaan Orde Baru dekade 1990-an. Pada dekade itu, konsolidasi ideologi Orde Baru sudah rampung dan kekuasaan negara dioperasikan hingga ke mana-mana. Operasi itu berasal dari sumber tunggal yang bernama Soeharto. Orientasi kekuasaan adalah Soeharto, karena sudah tak ada lagi lawan politik yang relatif sejajar dengannya dengan kekalahan penentang-penentang seangkatannya (atau yang sedikit di bawahnya) dan semua yang berhasil mendekati pusat kekuasaan adalah yang paling dekat secara ideologis dengannya. Mesin penggerak birokrasi dan kemasyarakatan juga berpusar pada orientasi serupa, sesudah negara mengalami korporatisasi seperti yang biasa terjadi pada negara-negara fasis. Maka kekuasaan Soeharto menjadi pemegang kekuasaan yang omnipresentkarena seluruh operasi kekuasaan berorientasi kepadanya.
Kantata Takwa bicara dengan sebuah asumsi semacam itu. Mesin operasi kekuasaan menjangkau bahkan hingga ke tempat-tempat yang musykil seperti mimpi manusia. Maka mencatat mimpi pun menjadi sangat penting demi melawan kekuasaan yang semengerikan itu (sebelum bermimpi dilarang, ungkapan yang akrab pada dekade itu). Lihat misalnya bayangan manusia bertopeng gas yang menembaki orang di hutan-hutan atau pun ketika ketika Iwan Fals bermimpi giginya dicabuti oleh tentara agar ia tak bisa bernyanyi lagi. Apatah lagi pengadilan politik terhadap estetika seperti yang dialami oleh Si Burung Merak, Rendra. Pengadilan sebagai lembaga yang seharusnya suci dipenuhi oleh kemunafikan. Tampak sekali film ini menunjukkan gesture jijik terhadap lembaga pengadilan.
Tapi masihkah kekuasaan serbamaha yang tunggal macam tuhan itu beroperasi dengan cara seperti yang dialami dan dibaca oleh seniman dekade lalu ini? Inilah pertanyaan yang mengguyahkan gagasan dasar film ini ketika ia lahir sebagai produk tahun 2008. Indonesia pascareformasi justru ditandai dengan fragmentasi luar biasa dalam berbagai usaha meraih dan mempertahankan kekuasaan. Operasinya dalam kehidupan sosial budaya juga demikian beragam dengan agenda yang tak tampak beraturan. Perlawanan ideologi dan politik dalam arena kekuasaan yang pernah menjadi begitu penting, mungkin kini kalah penting dibandingkan dengan perjuangan untuk menampilkan sebuah ideologi pinggiran dalam sebuah film mainstream –yang kemudian menghasilkan pembicaraan publik mengenai substansinya.
Agenda politik dalam kesenian mungkin kini lebih cair dan tak semata melawan atau tunduk pada penyelewengan kekuasaan. Perjuangan politik mungkin kini agak tak disadari oleh para seniman –sekalipun aneh rasanya, ada seniman yang tak sadar akan implikasi politis karya mereka sendiri. Artikulasi juga sudah berubah seiring agenda untuk mengelak dari jebakan-jebakan pengulangan bentuk. Arena pertarungan juga sudah tak lagi pada tingkat pembentukan wacana dan narasi besar yang akan menghela seluruh gerbong bernama negara bangsa, tetapi menghadirkan cerita-cerita kecil guna melakukan semacam gerilya budaya yang secara tiba-tiba bisa menyeruak dalam pembicaraan publik yang serius, atau malah jadi kebijakan.
Maka ketika Kantata Takwa meletakkan asumsi adanya satu despot yang omnipresent dan beroperasi dari sumber yang tunggal, ia terasa menjadi sebuah artefak sejarah politik. Ia hanya mudah dikenali sebagai sebuah perlawanan terhadap model kekuasaan Soeharto dan sulit diacu pada model persoalan kekuasaan sekarang ini. Soalnya sesederhana bahwa panggung sudah berubah dan pentas yang dimainkan adalah lakon lama.
Demikian pula halnya dengan ungkapan jilbab sebagai bentuk perlawanan. Jilbab saat ini sudah bertransformasi, tak lagi mewakili identitas ketakwaan seperti yang ingin disampaikan oleh film ini. Jilbab, bahkan di beberapa tempat, kini menjadi representasi dari represi ketika sekolah-sekolah mewajibkan para pelajar perempuan berjilbab, bahkan termasuk mereka yang beragama non-Islam. Maka ungkapan-ungkapan perlawanan simbolis yang diajukan olehKantata Takwa sesungguhnya memang tertinggal di dekade 1990-an, Indonesia sebelum reformasi.
Ungkapan
Apakah strategi estetika Kantata masih bisa bekerja dalam panggung yang sudah berubah ini? Sebagai sebuah karya eksperimental, Kantata cukup menjanjikan. Seperti dikatakan di atas, film ini justru menghadirkan inkoherensi dalam kosa gambar dan cara ungkap.
Dalam film model ini, sebenarnya penonton diminta untuk membuat rambu-rambu personalnya sendiri. Dengan demikian ia akan bisa mengacu kepada pengalaman-pengalaman subjektif penonton. Maka terciptalah sebuah pemaknaan arbitrer pada karya ini. Dengan model pembacaan subjektif seperti ini, diharapkan penonton memberi makna baru sama sekali yang bahkan berlainan dengan niatan para kreator.
Namun sayangnya Kantata Takwa tidak diniatkan untuk menjadi karya seperti itu (sekalipun mungkin seharusnya dibaca begitu). Seperti sudah dikatakan di atas, tema film ini koheren sekali. Acuan simbol Kantata Takwa kelewat jelas, bahkan vulgar. Film ini menggunakan estetika puisi pamflet Rendra dan teriakan lagu jalanan Iwan Fals yang terasa ”marah” di awal dekade 1990-an, bukan Iwan Fals yang penuh canda seperti di awal masa karirnya. Kemarahan dan munculnya gesture jijik sesekali dalam film ini serasa tak memberi ruang cukup buat penonton.
Namun untunglah sutradara film ini cukup jeli menangkap figur Iwan Fals. Ruang lebih luas diberikan sesekali oleh figur ini. Perhatikan adegan diskusi mengenai rencana pembentukan grup musik Kantata Takwa. Dalam footage diskusi yang singkat itu, Iwan menyatakan keengganannya jika kelompok ini ”berdakwah” dalam pengertian yang sempit. Iwan mungkin marah pada keadaan, tapi ia tak ingin menyatakan bahwa kemarahannya itulah satu-satunya yang sah dengan mendakwahkannya; berbeda sekali dengan sikap Rendra (dan film ini secara keseluruhan) yang bahkan menghakimi balik penghakiman terhadapnya.
Demikian pula percakapan Iwan dengan anak-anak di tepi kali kecil. Iwan memperlihatkan sikap seorang seniman rendah hati yang berposisi sederajat dengan anak-anak yang mandi telanjang di kali itu. Ia bernyanyi bersama dan melawan kesewenang-wenangan (masa itu) dengan riang dan tetap bersuara tegas. Maka transformasi teriakan ”Bento!” dari anak-anak itu menjadi teriakan massa di Stadion Utama Senayan bagaikan melihat transformasi kekecewaan yang tulus para mahasiswa di tahun 1998 yang berubah menjadi kekuatan massa untuk menjatuhkan Soeharto.
Pada titik inilah inkoherensi cara ungkap film ini jadi cukup memberi keragaman dan ruang. Jika tidak, simbolisme yang vulgar, tema yang so last decade dan kemarahan dan gesturekejijikan akan membuat film ini jadi semacam rejim estetika yang memaksa penonton dengan klaim kebenarannya. Padahal secara umum saja, Kantata Takwa dengan segala ketidakakraban kekisahannya sudah melakukan seleksi awal yang ketat terhadap publik.
Klise
Sudah pasti KantataTakwa bukan produk populer. Namun secara sinematis, ia akan memberikan pertanyaan terhadap ungkapan estetika para pembuat film Indonesia masa kini. Kapankah sineas Indonesia bisa mengungkapkan apa saja yang diinginkannya, hingga bahkan nyaris mencapai taraf nonsens (Gotot mengakatan hal ini langsung pada saya: film ini sempat terendam banjir tapi gak papa, jadinya gambarnya malah asyik...) tanpa adanya halangan sama sekali?
Baiklah, di balik film ini ada uang taipan minyak yang nyaris tak terbatas ketika itu (bayangkan: 30 kamera!) tapi bukankah sumber dana untuk karya yang bebas tak pernah dibatas-batasi harus berasal dari kantong sendiri? Yang justru menarik ditanyakan adalah: akan seperti apa jadinya film ini seandainya Setiawan Djody ikut serta dalam penyelesaiannya.
Mungkin film ini tak akan banyak ditonton kecuali di lingkaran festival. Tak sepadan antara investasi yang pernah dibuatnya dengan capaian artistik, apalagi komersialnya; bahkan tak sepadan pula dengan pembicaraan tentangnya yang rasanya sepi-sepi saja. Para wartawan film pun bahkan tak tahu bahwa film ini akhirnya selesai dan ditayangkan perdana di Singapura.
Namun Kantata tetap mengingatkan bahwa seniman seperti Iwan Fals pernah nyaris se-revolusioner Che Guevara. ”Kepahlawanan” mereka sekarang ini mungkin lebih menarik jadigimmick untuk menjual majalah atau menjadi komoditi sodoran ironi dan lelucon political-incorrect-ness. Kantata kini tetap mengajukan semacam perayaan kecil, bernama kebebasan seniman menyampaikan estetika yang mereka percaya. Klise memang. Tapi ketika para sineas sedang kasip berombongan untuk menjadi konformis dan konformitas sedang dipuja-puji, klise semacam ini, toh, rasanya relevan. Sebuah klise, karena terlalu pahamnya kita akan hal itu, memang kerap kita lupakan.***
Judul Film: Kantata Takwa; Sutradara: Eros Djarot dan Gotot Prakosa; Supervisi: Slamet Rahardjo Djarot; Cast: Iwan Fals, Rendra, Sawung Jabo, Clara Shinta, Setiawan Djody, Jocky Suryoprayogo dan Bengkel Teater Rendra.
Persepolis: Ketika Tuhan dan Karl Marx Tidak Berkonflik
Hidup paling menyedihkan adalah lahir sebagai sapi dan mati sebagai keledai. Kalimat dari neneknya itu tertanam di bawah sadar Marjane Satrapi sejak kecil. Menurut nenek yang bijak itu, sapi adalah binatang penakut, tidak berani mengambil risiko. Karena itu, sapi selalu rela dicucuk hidungnya. Dan keledai adalah binatang yang tidak kalah pengecutnya dari sapi.
Sepanjang hidupnya, Marjane jelas tidak pernah jadi penakut, apalagi pengecut. Bahkan ketika ia sadar sudah salah langkah. Marjane sempat terjatuh, tapi kemudian bangkit lagi. Ia mengambil risiko, kembali maju ke medan kehidupan, berjuang mencari jati diri dan menancapkan eksistensinya di dunia yang memang jadi pilihannya sendiri.
Karena itulah, ia akhirnya berhasil menerbitkan novel grafisnya, Persepolis, yang sering di sejajarkan dengan Maus, novel grafis karya Art Speigelman yang memenangi Pulitzer. Karena itu pulalah, tanpa disadari oleh Marjane, Persepolis berkembang menjadi lebih besar dari yang bisa dimimpikan seorang gadis kecil yang selalu berkhayal ngobrol dengan Tuhan. « Dan seperti mendapat tiupan arwah, tiba-tiba saja saya menyaksikan Persepolis hidup, terpampang di layar lebar, » kata Marjane.
Persepolis memang penuh gairah hidup meski visualnya berwarna hitam putih, kecuali adegan pembuka dan beberapa sisipan yang dibuat berwarna. Pilihan ini, menurut Satrapi adalah ide dari koleganya, Vincent Paronnaud yang juga menyutradarai Persepolis. « Persepolisdiceritakan dengan struktur flashback, karena itu kami perlu membedakan antara apa yang terjadi sekarang dan kilas balik itu, » kata Paronnaud.
Saya bersyukur, duet Satrapi-Paronnaud ngotot mengadaptasi film ini sesetia mungkin pada bukunya, bahkan gaya minimalis ciri khas Satrapi. Setiap karakter digambar dengan datar dan garis hitam tebal. Saya tidak bisa membayangkan jika Persepolis diadaptasi sesuai pinangan Hollywood, dengan Brad Pitt berperan sebagai bapak dan Jennifer Lopez berperan sebagai ibu Marjane.
Pilihan untuk menggunakan voice-over adalah yang paling tepat. Sulih suara untuk Marjane kecil dilakoni oleh Gabrielle Lopes dan Marjane remaja oleh Chiara Mastroianni. Sedang pengisi suara sang ibu adalah artis legendaris Prancis, Catherine Deneuve –dan juga ibu Chiara. Suara sang bapak dilakoni oleh Simon Abkarian dan, suara sang nenek bijak diisi oleh artis senior Prancis, Danielle Darrieux. Kolaborasi mereka makin menghidupkan karakter-karakter minimalis di Persepolis.
Animasi yang orisinil dan cerita personal yang universal inilah yang membuat Persepolis pantas mendapat Jury Prize Award di Festival Film Cannes 2007. Film ini adalah film animasi kedua yang pernah memenangi penghargaan bergengsi di festival tersebut setelah The Fantastic Planet karya René Laloux pada 1973.
Persepolis bercerita tentang seorang gadis kecil yang tumbuh di tengah keluarga modern yang berpikiran sangat terbuka. Si kecil Marjane terbiasa berpikiran kritis berkat asahan orang tua dan neneknya yang melek politik dan berhaluan sosialis. Sampai suatu masa, keharmonisan keluarga itu tergoncang oleh kekuatan tak terduga di luar rumah mereka: Revolusi Islam !
Revolusi ini mengubah Iran dari sistem pemerintahan monarki ke sistem republik Islam. Tiba-tiba, normalitas dijungkirbalikkan. Segalanya berubah ke arah yang berlawanan. DanPersepolis kemudian memaparkan kisah pararel tentang gadis kecil yang tumbuh remaja di sebuah negeri yang juga sedang tumbuh ke arah yang dianggap lebih baik. Dan tentang sebuah negeri yang berevolusi sehingga memengaruhi pertumbuhan seorang gadis kecil.
Bagian awal Persepolis bertutur dari sudut pandang Marjane kecil. Bagian ini diceritakan oleh Satrapi dengan innocent, tanpa pretensi. Pada masa ini, seperti juga pada umumnya anak-anak, Marjane memandang perubahan itu dengan naïf. Marjane kecil misalnya menganggap bahwa pahlawan adalah mereka yang menghabiskan banyak waktu di penjara. Ia juga tidak bisa mengontrol prasangka-prasangka buruk yang menghinggapi dirinya.
Dalam salah satu sekuen di Persepolis, si kecil Marjane bersama teman satu geng menguber-uber seorang anak lelaki yang ayahnya kebetulan seorang penjaga penjara. Anak-anak kecil itu mendengar, bahwa ayah teman mereka inilah yang bertanggung jawab atas penyiksaan dan kematian sejumlah pahlawan mereka di penjara. Salahkah Marjane? Salahkah anak-anak itu?
Dari sini, Persepolis berkembang searah dengan perkembangan Marjane kecil yang mulai remaja. Marjane adalah gadis puber yang gelisah. Tidak mudah untuk tumbuh remaja di tengah revolusi yang berkobar dan rezim yang mengikat kebebasan warganya. Bagaimana rasanya tumbuh remaja di era ’80-an tanpa mendengar musik rock? Tanyalah Marjane. Ia merasa hampir tak bisa bernafas.
Untuk itulah Marjane akhirnya dikirim ke Vienna, Austria, ketika berumur 14 tahun. Agar ia bisa bernafas lega, menikmati kebebasan berpikir dan berkarya. Tapi mungkin karena ia masih terlalu muda, jauh dari orang tua dan bergaul dengan anak-anak sekolah menengah di Vienna yang sudah terbiasa berurusan dengan kebebasan, Marjane malah kebablasan. Ia tidak bisa mengatasi euforia kebebasannya. Dan Marjane menyadari, ada yang salah.
Film Persepolis kemudian menunjukkan, bahwa Marjane bukan sapi, apalagi keledai. Marjane remaja bangkit, mengambil risiko, kembali terjatuh dan bangkit lagi. “Apa menariknya hidup jika kita selalu takut? Saya belajar bahwa kebebasan juga berarti harus berani mengambil risiko. Semua saling tergantung. Saya lebih memilih untuk menghadapi risiko dan sesekali akan merasakan sakit. Itulah hidup yang ada dibenak saya,” kata Satrapi, sang sutradara.
Karakter Marjane jelas menunjukkan prinsip tersebut. Toh seperti yang dikatakan Satrapi, tidak mudah memang. Persepolis membuat kita ikut merasakan kesepian yang dialami Marjane. Seorang manusia yang merasa tidak memiliki tempat di mana pun karena benaknya yang terus gelisah mencari identitas. Marjane mencoba untuk diterima dan menerima apa yang dianggap normal di setiap komunitas persinggahannya. Itupun sering gagal.
Untungnya, Marjane punya teman setia, Tuhan dan Karl Marx. Dan untungnya lagi, Tuhan dan Karl Marx-nya Marjane ini tidak pernah berkonflik. Kepada mereka Marjane curhat dan bertanya tentang apakah Tuhan benar-benar menginginkan Revolusi Islam. Atau apakah Om Marx mendefinisikan revolusi seperti yang terjadi di Iran. Di dalam dunia Marjane, Tuhan dan Karl Marx rupanya saling mendukung. Karl Marx sempat bilang, “keep up the fight!” dan Tuhan pun ikutan bilang, “yes, keep up the fight!” (Di dalam komiknya, Marjane kecil sempat mengusir Tuhan khayalinya, dan berkata tak akan percaya Tuhan lagi.)
Meski terdengar sangat serius dan berlatar belakang revolusi yang juga keras, Persepolis jauh dari kesan film yang berat. Penonton bisa tertawa melihat kenaifan Marjane kecil atau geleng-geleng kepala menyaksikan kebandelan Marjane yang sedang puber. Persepolis juga tidak lantas menggaristebalkan nuansa politik yang melatarbelakangi kisah ini. Toh ini adalah kisah hidup Marjane Satrapi yang kebetulan saja menjadi saksi disebuah peristiwa sejarah terbesar dunia setelah revolusi Prancis dan Bolshevik.
Untungnya, sebagai sutradara dan pemilik cerita, Satrapi tidak keceplosan. Ia mampu menjaga karakter Marjane dalam frame dengan komposisi yang pas. Karakter Marjane tidak terlihat jadi seperti pahlawan kesiangan yang butuh tepuk tangan. Persepolis adalah sebuah kisah hidup yang memang perlu diceritakan atau didongengkan kepada generasi muda yang tumbuh dalam era globalisasi yang makin membengkak ini. Dan kisah personal Marjane ini, tanpa disadari, memuat pesan yang universal. Bahwa di mana pun dan bagaimana pun situasi dan kondisi tempat kita berada, perlu untuk tetap saling menghargai, memercayai pilihan hidup kita, dan menjadi diri sendiri.***
PERSEPOLIS
Sutradara : Vincent Paronnaud dan Marjane Satrapi
Penulis skenario : Marjane Satrapi dan Vincent Paronnaud
Pengisi suara : Chiara Mastroianni, Catherine Deneuve, Danielle Darrieux, Gabrielle Lopes
Produksi : 2.4.7 Films
Tanah Air Beta, Ketika Pilihan terhadap Merah Putih Meminta Pengorbanan
Film yang dibuka dengan situasi politik pasca-referendum 1999 ini mengetengahkan sekelumit kisah konsekuensi pilihan politik terhadap kehidupan kemanusiaan masyarakat yang memilih untuk setia kepada NKRI. Pemirsa akan dihentak oleh dialog pembuka yang mengetengahkan pencarian sanak famili di tapal batas antara Timor Leste dan NKRI, yaitu di daerah Matoain. Terkisahlah Abu bakar (Asrul Dahlan Griffit) yang sedang mencari istrinya yang baru dinikahi minggu lalu dan Tatiana (Alexandra Gottardo) bersama putrinya Merry (Patricia) yang sedang mencari Mauro, putranya yang terpisah di Timor Leste.
Sangat jelas tergambar kondisi masyarakat akibat perubahan situasi politik yang sedang terjadi. Kesulitan air, kesulitan mendapatkan BBM, kondisi pendidikan yang masih cukup memprihatinkan. Adalah Merry dan Carlo (Yahuda Rumbindi), dua orang siswa sekolah dasar darurat yang didirikan di salah satu kampung pengungsian. Merry sangat merindukan kehadiran kakaknya Mauro tinggal terpisah Timor Leste, sementara Carlo adalah anak yang hidup sebatang kara. Ayahnya yang tentara mati tertembak dan ibunya meninggal karena sakit TBC.
Indahnya langit Atambua memang belum seindah nasib rakyat yang menginjakkan kaki di atas tanahnya. Kondisi ini dipaparkan oleh secara sederhana, namun sangat mengena di hati para penonton. Film yang disutradarai oleh Ari Sihasale bersama rumah produksinya Alenia Pictures dan berdurasi sekitar 1,5 jam ini lebih lanjut mengisahkan tentang keresahan hati seorang ibu dan seorang saudari terhadap Mauro. Berbagai upaya dilakukan agar dapat bertemu anak dan kakak tercinta.
Di dalam alurnya yang agak perlahan, diketengahkan juga persahabatan yang erat antara Tatiana dan Merry dengan berbagai golongan masyarakat. Tatiana dan Merry bersahabat dengan Abu Bakar yang muslim dan juga keluarga etnis Tionghoa. Tergambar beberapa kali pasangan pengusaha Tionghoa yang dibintangi oleh Robby Tumewu dan Thessa Kaunang itu membantu kehidupan perekonomian Tatiana dan Merry. Simpati luar biasa ditunjukkan pasangan itu kepada Merry saat ingin menemui kakaknya di perbatasan Matoain.
Sisi lain yang sangat menarik di dalam film ini adalah penceritaan mengenai tokoh Carlo. Seorang anak yang mendapatkan julukan sebagai anak nakal, ternyata mempunyai kebesaran hati sebagai seorang sahabat dan keuletan yang luar biasa dalam mempertahankan hidupnya yang sebatang kara itu. Dalam salah satu adegan diperlihatkan Carlo harus mencuri ayam dari lokasi sabung ayam karena ia dan Merry kelaparan. Nuansa nasionalisme pun cukup kental mewarnai film ini. Sepanjang pemutaran film bendera Merah Putih sebagai pilihan hidup sebagian rakyat Timor Lorosae berkibaran di langit biru Atambua. Tatiana sebagai guru pun tak lupa mengajarkan murid-muridnya lagu Indonesia Tanah Air Beta agar kecintaan terhadap merah putih senantiasa bergema di sanubari putri-putra Timor pengungsian di Kupang
Indonesia tanah air beta, pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala, slalu dipuja-puja bangsa
Di sana tempat lahir beta, dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua, sampai akhir menutup mata
Sungguh mengharukan mendengar lirik-lirik di atas dinyanyikan oleh koor suara renyah anak-anak murid Ibu Guru Tatiana. Demikian indahnya sampai-sampai kita, sesama Warga Negara yang juga cinta Indonesia, menitikkan air mata. Akhir kata, film ini sangat kami anjurkan untuk ditonton semua kalangan, khususnya terutama bagi generasi muda yang selalu bimbang tentang makna pengorbanan dalam nasionalisme.
The Godfather Saga
“I’m going to make him an offer he can’t refuse”
Don Vito Corleone, The godfather
Sepenggal kalimat di atas sangat cukup menggambarkan bagaimana para mafia berpikir. Sederhana tetapi “mengancam”.
Kekuatan cerita yang diangkat dari novel ini menguatkan hubungan satu film dengan yang lain menjadi saling berpengaruh. Dimana kejadian lampau yang akan membentuk kejadian di masa mendatang. Menceritakan kehidupan keluarga mafia Corleone yang dikepalai oleh Don Vito Corleone .Don Vito, ayah dari 3 anak ini selain memiliki gelar Don, juga memiliki panggilan yang lebih akrab dan terhormat, yaitu Sang Godfather(ayah baptis) yang didapat saat menjadi ayah baptis dari seorang penyanyi atau anak didikannya. Selanjutnya, cerita akan berkutat pada kehidupan mafia Don Vito yang keras dan berlanjut sampai pada masalah keluarganya yang sangat kompleks.
Setelah menonton ketiga film ini, saya berpikir bahwa film ini tidak boleh dilihat dengan terpisahkan atau dinilai dari perspektif setiap filmnya. Ketiga film ini merupakan suatu kesatuan dari cerita mafia yang sangat epik. Membandingkan setiap serinya dengan seri yang lain merupakan kesalahan besar. Film ini satu karena kesinambungannya yang begitu kuat terasa hingga seakan-akan membaca 3 film menjadi 1 buku.
Cerita The Godfather saga ini dapat dianalogikan seperti “sehabis gelap terbitlah terang”.
Film The Godfather pertama seperti halnya sore hari yang menuju malam. Memberikan suasana yang pelan-pelan membawa kita dengan hangatnya matahari yang mulai redup dan akhirnya meninggalkan kita dengan malam yang dingin, mencekam dan gelap. Kematian Godfather kita, Don Vito, telah menutup senja hari yang indah, dan dijemput dengan jahatnya malam oleh Michael Corleone(Al Pacino). Di mana pada filmnya yang kedua, semuanya lebih gelap dari sebelumnya, ditambah dengan suramnya masa lalu dari Don Vito Corleone yang memulai bisnis mafiosonya. Pada bagian ini, lebih ditekankan pada perbandingan dari 2 Godfather yang berbeda generasi. Cerita latar belakang kehidupan Don Vito adalah mimpi masa lalu yang kelam, sedangkan kehidupan Don Michael adalah kenyataan malam gelap yang saling bertolak belakang satu sama lain. Memang,Don Michael bukanlah Godfather sejati, dia telah membuat ayahnya sedih dengan ironis.
Matahari mulai membuka sedikit cahaya dari film yang ketiga. Malam telah lelah, matahari siap menggantikannya dengan siklus waktu yang kekal. Regenerasi pun terjadi. Don Michael memberikan sentuhan terakhir dalam film ini dengan kesedihan yang perih dan mengerikan seperti tersakiti oleh kenyataan yang dibuatnya sendiri. Malam telah sirna. Hari yang baru dimulai oleh Don Vincent Mancini, sebagai Godfather yang baru, walaupun kita tidak akan tahu sejauh mana keluarga Corleone akan dibawa olehnya. Apakah dia justru akan memberikan mimpi buruk yang baru?well Obviously, they are all evil.
Let’s talk about the real story.
Saya tidak akan menjabarkan setiap plot cerita dalam ketiga film ini, tetapi saya akan mencoba menginterpretasikan esensi dari setiap cerita yang mau disampaikan.
The Godfather saga mempunyai ciri khas dalam setiap opening scenenya. Adegan selalu dibuka dengan hingar-bingar pesta yang dihadiri oleh para mafia dan orang-orang penting, entah dalam pesta pernikahan atau hanya sekedar pesta perayaan baptis. Pesta yang disajikan oleh sutradara Copolla adalah pesta kamuflase yang menyembunyikan segala pekerjaan kotor para mafia dengan wajah-wajah polos para tamu yang bahagia sedang menikmati pesta. Copolla mengarahkan dengan drastisnya sebuah pesta yang penuh kebahagiaan menuju gelapnya dunia mafia bekerja. Adegan demi adegan ditata dengan “kaku” seperti mengenalkan karakter mafia dalam bekerja. Mereka bekerja sangat rapi seakan-akan mereka tidak ingin menodai pakaiannya yang “bersih”. Klimaks dari setiap film juga memiliki ciri khasnya tersendiri. Dari mata saya sebagai penonton, klimaks yang diberikan lebih menegaskan sifat dari pemeran utama kita dalam trilogy film ini, Don michael, yang begitu tenangnya melakukan segala pekerjaan mafia tanpa bercampur emosi. Ketenangan itulah yang menjadikannya sebagai sosok mafia yang paling ideal. Mungkin pada zamannya, adegan tersebut adalah adegan paling dramatis yang pernah ada. Don Michael dengan muka paling dingin dan tenang menutupnya dengan muka yang sama sekali tidak berdosa.
Pada film The Godfather bagian kedua, Copolla lebih menggali dalamnya karakter dari Don Michael dengan melibatkan konflik-konflik dari internal maupun eksternal yang sangat kompleks. Di sinilah Al Pacino memberikan permainannya yang terbaik walaupun gagal mendapatkan Oscar. Al Pacino atau Don Michael akhirnya menjadi poros dalam kelanjutan cerita mafia ini. Segala kesalahan-kesalahan terbesarnya pada bagian kedua ini yang akhirnya menyakiti dirinya sendiri. Don Michael telah membuat mimpi buruknya sendiri.
Chapter terakhir dalam saga ini, Don Michael terbebani dengan dosa-dosanya yang disadari setelah sekian lamanya. Dia telah bercerai, anak-anaknya telah tumbuh dewasa dan mengikuti ibunya. Putranya yang diharapkan sebagai penerus bisnis keluarga bahkan hidup sebagai musisi, menentangnya. Putrinya aktif dalam kegiatan sosial. Dia tidak melihat adanya masa depan dalam bisnis yang telah dipertahankan selama bertahun-tahun dengan darah dan keringat. Dia telah hidup sendirian. Pesona mafianya telah pudar dengan ditutupi usia dan calon penerusnya, Vincent Mancini. Agak disayangkan cerita dalam film yang ketiga ini sedikit kendor. Kehadiran Vincent Mancini sangat dipaksakan bahkan karakternya dibuat sama dengan ayahnya, Sonny Corleone, walaupun tetap diperankan dengan sangat baik oleh Andy Garcia. Tetapi, saya cukup tertarik dengan ide cerita yang seakan-akan dunia berbalik men”jahat”kan Don Michael. Don Michael yang menangis di depan pastur, memakan permen untuk penyakit gulanya, dan menangis mendengar anaknya menyanyi, menunjukkan sisi manusianya yang lelah akan segala dosa yang telah dilakukannya. Semua emosinya meluap pada saat putrinya, satu-satunya orang yang mungkin masih sangat menyayanginya, mati menjadi korban dari dunianya yang kejam. Tangisannya sangat memekikan telinga. Don Michael mati tanpa siapapun yang menyayanginya di sampingnya, hanya seekor anjing yang menyambut kematiannya dengan gonggongan.
Film ini sempurna dari berbagai aspek yang ada.Dan yang paling menonjol adalah setiap peran dimainkan sangat apik oleh para castnya. Kita semua juga tahu siapa The Godfather sebenarnya dalam cerita ini, yaitu Don Vito Corleone yang diperankan sangat luar biasa oleh Marlon Brando yang akhirnya dijadikan ikon tersendiri untuk film ini. Sehingga ketika kita mendengar kata The Godafather, maka muka beliaulah yang akan terbesit di pikiran kita.
Kita juga harus berterima kasih kepada Mario Puzo yang telah menulis cerita mafia terbaik. Dari pembangunan karakter sampai konflik-konflik yang terjadi semakin menggambarkan dunia mafia. Copolla juga sangat berhasil dalam memvisualisasikan cerita ini. Deretan nama-nama pemainnya sudah sangat mendukung kualitas yang diberikan film ini. Dan yang paling memberikan atmosfernya paling kental adalah musik. Sangat berkelas dan berkarakter. Masih banyak yang bisa dibahas dari film ini,tetapi biarlah karya seni itu tinggal tak terjamah oleh pikiran kita untuk tetap menjaga estetikanya yang misterius. stupefacente!!