Red Flag

“Apa guna punya ilmu tinggi, kalau hanya untuk mengibuli..
Apa Guna banyak baca buku, kalau mulut kau bungkam melulu..”

Lirik lagu yang begitu menggugah ini terdengar merdu keluar dari petikan nada gitar dan lantunan suara Dompak Halomoan Tambunan, musisi Reggae Kerakyatan yang akrab dikenal kalangan gerakan pro demokrasi melalui Band “Red Flag” yang sejak era perjuangan reformasi telah melahirkan banyak lagu penyemangat perjuangan seperti “Tidur Jangan” yang ngetop dan dengan mudah bisa kita download di internet.

RedFlag terbentuk di tahun 2004 berawal dari Dompak Halomoan Tambunan (vokal, gitar, penulis lagu ) yang merupakan seorang mahasiswa/aktifis menggagas sebuah band dengan mengajak rekan-rekannya sekampus bergabung seperti Richard Simare Mare ( lead ), Epe ( Bass ), Zai ( drum ). tapi tepatnya 2 hari sebelum tanggal 18 Maret 2006 yaitu launcing Album 1" Kalo Ditindas Ya Melawan..!! Zai ( drumer ) meninggal dunia karena tabrak lari. dan pas launching album digantikan oleh Okta Bro hingga tahun 2009. Dan sejak tahun 2011 komposisi RedFlag pun berubah menjadi : Dompax RedFlag ( Gitar, Vocal ), Ricky Ompong ( Bass ), Tile ( keyboard ), Rangga ( Lead ), Qiwil ( Perkusi ), + additional drumer.  RedFlag melaunchingkan album keduanya " RESIST..!! berisi 10 lagu. pada tanggal 18 Maret 2011 di Kafe Gallery ( Taman Ismail Marzuki ), dan sekarang RedFlag kembali merilis album barunya.. hmmm.. kira-kira apa yah namanya? saat dikonfirmasi melalui via telpon sang vokalis menegaskan ini adalah mini album yang lagu-lagunya tak kalah keren dari album-album yang sebelumnya. Kita tunggu aja debut mereka nanti..

Band Reggae dari Lampung ini seperti hendak mengembalikan semangat/roh musik reggae yang anti penindasan itu. Begitu banyak komunitas musik reggae yang ada tapi hanya sedikit sekali yang menjadikannya sebagai alat pembebasan kaum buruh yang diperlakukan tak adil oleh elit-elit kekuasaan; seperti lagu-lagu milik ikon reggae dunia; Bob Marley. Red Flag, satu dari sekian banyak grup reggae itu coba mengembalikan semangat pembebasan reggae ke rel yang sejatinya. Maka tanpa ragu mereka melantunkan Buruh Tani, Fighf For Socialism, G/28/S/TNI dsb pada album ‘One Song One Struggle’.

Red Flag sepertinya ingin bilang bahwa reggae tak hanya gaya rambut dreadlock atau biasa disebut gimbal, tak sekedar atribut merah-kuning-hijau, tapi reggae adalah pesan-pesan untuk membangkitkan semangat pembebasan. Seperti semangat pada lirik lagu Bob Marley "emancipate yourself from mental slavery, none but ourselves can free our minds" dari lagu Redemption Song yang merupakan ajakan untuk meninggalkan mental budak dari diri manusia.

Red Flag yang sukses membangun Front Musik Independen dan Komunitas Front Reggae Lampung itu hendak mengajak beberapa rekan musisi local untuk bersolidaritas pada perjuangan kebudayaan, “Gua mau mencoba mempraktekan realism sosialis di kalangan musisi lokal di Lampung yang sudah cukup terkonsolidasikan, gua harap kawan-kawan musisi lain juga mulai memiliki kepekaan sosial yang bisa diwujudkan melalui karya seni kritis nya sebagai bentuk perjuangan, karena cita-cita Bangsa yang berdaulat dan mandiri harus diperjuangkan di segala sektor kehidupan rakyat, termasuk di bidang seni budaya.” Harapnya.










Posted by Unknown

Perjuangan Kebudayaan Ala Ras Muhammad


Dengan peralatan seadanya, puluhan grup band reggae, diantaranya Primitive, Babylonian, Local Ambience, Primitive, dan Ras Muhammad, tetap bersemangat memperdengarkan lagu-lagu yang terkenal “membebaskan” ini, untuk merayakan “64 tahun” kemerdekaan Indonesia. Penonton yang sudah terbawa lirik dan melodik lagu-lagu reggae, semakin berjingkrak-jingkrak, ketika sebuah band melantunkan lagu “gendjer-gendjer”, lagu yang identik dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang terlarang itu. Bukan Cuma itu, lagu “Ke Selatan” ciptaan Yayak Kencrit pun begitu enak dilantungkan oleh band reggae ini, mengingatkan aku dengan Band “Modena City Rambler” ketika melantungkan Bella Ciao. Ratusan kaum muda dan penikmat reggae sengaja datang untuk menikmati acara ini. Salah satu band favorit yang ditunggu-tunggu mereka-mereka ini adalah Ras Muhammad, grup musik reggae yang baru saja menggebrak penggemar reggae Indonesia dengan “reggae hari ini”, “siempre”, “leaving Babylon”, dan lain-lain.


Gebrakan Musik Reggae
Ras Mumammad lahir bersamaan dengan periode kebangkitan musik reggae Indonesia. Periode “kebangkitan” reggae terjelaskan oleh kehadiran grup musik reggae yang bukan saja berada di pinggiran bilantika musik nasional, tetapi mereka kini membajiri khasana bermusik di Indonesia, termasuk kesanggupan menyedot perhatian penikmat musik. Kita mengenal Mas Tony Q Rastafara, Steven and Coconut Trees, Souljah, Pasukan Lima Jari, UpRising, Gangstarasta, Joni Agung and Double T sebagai “reggae musicians” yang turut meramaikan jagad musik reggae tanah air. Musik reggae setidaknya mendapat pengakuan public, bukan sekedar musik untuk dinikmati, tetapi juga sebagai aliran musik yang banyak memberikan inspirasi. Salah satu ukuran terbaik dari Industri reggaeIndonesia adalah semaraknya Band-Band reggae merilis album indie dengan memasukkan warna-warna Indonesia dalam warna bermusiknya. Reggae Indonesia telah berhasil membentuk jati dirinya, sebuah tahapan yang menunjukkan kematangan.

Ras Muhammad bukan “new entry” dalam musik reggae ataupun gerakan rastafari. Selama 12 tahun bermukim di AS, telah memberikan begitu banyak kesempatan padanya untuk bersentuhan lansung dengan musik reggae, dan tekun mempelajari filosofi “rastafari”. Pengaruh dari “bermukim” di AS ini adalah warna musik Tribal Riddims dari Dancehall Reggae dalam warna musiknya. Akan tetapi, Ras Muhammad tidak begitu saja menerapkan gaya reggae ala AS dalam warna reggae yang disebutnya “reggae Indonesia”. Seperti Mao yang menerapkan Marxisme dengan menggabungkan kepribadian tiongkok, maka Ras Muhammad ingin menerapkan reggae Indonesia, yang menggabungkan hal-hal yang berbau lokal Indonesia.

Ras Muhammad adalah pengagum berat pemikir revolusioner, seperti Karl Marx, Che Guevara, dan Soekarno. Hasrat “pergerakan” yang dimiliki Ras Mumamad di luapkan lewat lagunya yang berjudul “siempre”, sebuah lagu yang mengingatkan kita pada sosok pejuang revolusioer Kuba, Che Guevara. Syairnya yang mudah dicerna dan mengandung emosi “idealisme revolusioner” menggambarkan Ras Muhammad adalah seorang musisi yang “cerdas”. Lagu “siempre” sedikit menyelamatkan muka musikIndonesia dari tuduhan “rendah mutu” dan seolah-olah kebanjiran tema cinta, cemburu ataupun selingkuh.

Reggae dan Perjuangan Kebudayaan
Masyarakat Indonesia sedang mengalami krisis kebudayaan. Krisis kebudayaan yang dimaksud adalah hilangnya seluruh entitas kebudayaan nasional, solidaritas tradisional, dan segala bentuk nilai-nilai kolektif dan egalitarian. Krisis kebudayaan ini sering dipersamakan dengan imperialisme kebudayaan, sebuah proses penjajahan yang dilakukan kekuatan modal multinasional terhadap negeri-negeri dunia ketiga. Penjajahan tidak melulu hanya pada lapangan ekonomi dan politik, tetapi juga berlansung dengan terbuka dalam lapangan kebudayaan. Dalam pertentangan ini, pekerja seni sangat diharapkan melakukan kreasi yang berwatak anti-indiviualisme, solidaritas, egalitarian, demokratik, dan kerakyatan.

Seni tak bisa dipandang netral, tidak memihak, dan terpisah dengan realitas sekitar kita. Dalam masyarakat berkelas, seni dominan (mainstream) dikuasai oleh klas berkuasa, dan dijadikan sebagai senjata untuk menundukkan klas terhisap. Reggae sebagai musik pembebebasan, yang memiliki kontribusi banyak dalam perjuangan kemanusian, ataupun pembebasan nasional bangsa Jamaika. Reggae memang berbeda dengan rastafari, tapi keduanya dilahirkan oleh akar kebudayaan yang sama; Jamaika. Sikap anti penindasan reggae jelas dari peristilahan mereka tentang penguasa penindas, yang disebut sebagai Babylon.

Ras Muhammad, Tony Q Rastafara, dan reggae-reggae lainnya yang sering mengusung protes politik dan kritik sosial, disadari atau tidak, telah masuk dalam pertempuran kebudayaan ini. Meskipun mereka tidak masuk secara lansung dalam arena politik dan menganjurkan perjuangan politik untuk perebutan kekuasaan, seperti yang dianjurkan oleh partai-partai kiri, akan tetapi mereka sedang berjuang menggusur budaya pasar dengan mengajarkan cinta, persaudaraan, dan egalitarianism; nilai-nilai baru yang sangat dibenci oleh penganjur globalisasi dan neoliberalisme.

Terlepas dari reggae yang anti politik, sebuah grup band yang mengusung reggae di Lampung, Red Flag, sedang mengobarkan perjuangan politik melawan system kapitalisme. Dengan slogan; “one soul, one struggle”, grup band yang digawangi oleh Dompak, aktifis JAKER (Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat), begitu konsisten mengangkat tema pembebasan dalam lagu-lagunya, termasuk “internasionale”, lagu kebanggan klas pekerja sedunia. Red Flag mempersembahkan kaset-kasetnya untuk pekerja dan kalangan terhisap, dan tak jarang mereka “manggung” di tengah-tengah massatersebut.

Ras Muhammad sendiri jelas bukan band “menyembah” profit seperti band-band anak muda pada umumnya. Ras Muhammad bahkan rela berkeringat-keringat dalam berbagai panggung gratis yang digelar oleh komunitas reggae ataupun kelompok pejuang demokrasi, seperti perayaan kemerdekaan, kebangkitan nasional, peringatan 14 tahun pembredelan Tempo, dan banyak lagi. Ini jelas bertentangan dengan logika neoliberal yang mengejar profit; mengejar penjualan CD/kaset, mengejar popularitas, dan seluruh aktifitas yang serba “komersil”.
Posted by Unknown

Sudjinah, Sang Pemenang

Image
Kalimat yang terus menerus terngiang di telinga Sudjinah bahkan hingga akhir hayatnya. Bagi kebanyakan orang, mungkin angka 30 September adalah angka pengkhianatan negara, namun tidak bagi Sudjinah, angka itu adalah pengujian bagi prinsip dan keteguhannya.

Sobat , sedari kecil kita sering dan kerap kali mendengar kisah – kisah perempuan binal nan jahat yang menarikan tari harum sambil menyiksa para jendral. Kisah itu terus terekam dalam memori kita. Lambat laun suara-suara yang mengungkap kebenaran tentangnya mulai mengudara. Awalnya sekedar bisik-bisik, diam-diam dan secara perlahan menjadi teriakan tak terbendung. Salah satunya adalah Sudjinah. 

“Lihatlah, kamu akan dilempar ke lubang itu kalau tidak mau menceritakan siapa teman-temanmu, kau akan kami kubur hidup- hidup”!” Saya hanya menutup mata. Mengapa saya harus menjadi pengkhianat dengan menceritakan kerja bawah tanah saya kalau akhirnya akan dibunuh? Itulah yang tersirat dalam benak saya. Mereka dapat memukuli saya sampai … mati, namun saja tidak akan mengkhianati teman-teman.

Perempuan pemberani itu bernama Sudjinah, ia lahir pada tgl 20 Juli 1928. Sejak mudah, ia sudah turut aktif berperang merebut kemerdekaan. Di kala remaja, Sudjinah menjadi salah satu kuriri Batalyon Bramasta di selatan Bengawan Solo. Tahun 1950, ia kembali ke Solo guna melanjutkan pendidikannya dan ke Yogyakarta untuk menyelesaikan sekolahnya di SMU.

Setelah lulus dari SMU, tepatnya pada tahun1952, Sudjinah memperoleh beasiswa kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, UGM atau Universitas Gajah Mada. Kali ini, Sudjinah tidak menyelesaikan kuliahnya karena beasiswanya tiba-tiba terhenti. Di kampus inilah, Sudjinah mengenal organisasi kerakyatan seperti Pemuda Rakyat yang adalah kelanjutan dari Pemuda Sosialis Indonesia atau Pesindo, Gerwis (Gerakan Wanita Sedar) yang merupakan cikal bakal Gerwani.

Dalam Kongres I Gerwis yang digelar di Surabaya pada tahun 1951, Sudjinah turut hadir sebagai anggota di cabang Yogyakarta.

Pada tahun 1955, seiring dengan kuliahnya yang terhenti di UGM, Sudjinah diserahi tanggung jawab oleh Pemuda Rakyat untuk mewakili Pemuda Rakyat dalam Festival Pemuda Sedunia yang ke -5 di Warsawa, Polandia.

Setelah acara tersebut, Sudjinah juga mendapatkan tugas dari Gerwani untuk bekerja di Sekretariat Gabungan Wanita Demokratis Sedunia (GWDS) yang berkantor di Berlin Timur. Dalam kongres II Gerwis di Jakarta, Gerwis sepakat berubah nama menjadi Gerwani. Perubahan nama itu sekaligus memuat perubahan keorganisasian, Ujar Umi Sarjono. Dimana ketika masih Gerwis, bentuk organisasinya merupakan gabungan dari 7 organisasi perempuan, sementara dengan berubah menjadi gerwani artinya menjadi organisasi tunggal berbasis massa. Gerwis hanya menerima anggota yang sadar sementara Gerwani menerima anggota secara terbuka bagi perempuan berusia 18 tahun ke atas.
  
Image
Tak hanya aktif di Gerwani, Sudjinah juga aktif sebagai seorang jurnalis di sejumlah Surat Kabar dan penerjemah di kantor berita Pravda milik Uni Soviet. Tulisan-tulisannya banyak dimuat di Surat kabar, termasuk di Harian Rakyat. Pada Tahun 1963, ia diminta membantu sebagai penerjemah bagi delegasi buruh perempuan Indonesia yang akan menghadiri pertemuan di Bukarest, Rumania. Ketua delegasinya adalah Sri Ambar Rukmiati yang memimpin seksi wanita Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI).

Setelah peristiwa 65 meletus, Sudjinah berkisah ia dan kawan-kawannya berupaya menyelamatkan Sukarno yang menurut mereka hendak disingkirkan. Sujinah berkisah bagaimana ia berganti-ganti nama dan merubah gaya rambut dan potongan baju. “Aku menerbitkan bulletin unruk membela Bung Karno,” ungkapnya bersemangat. Nama bulletin tersebut Pendukung Komando Presiden Soekarno (PKPS).
Sudjinah, bersama Sulami, mengedarkan buletin itu secara diam-diam, di kala tembok-tembok kota di Jakarta sudah penuh dengan cacian dan umpatan pada Gerwani sebagai pemotong pelir para jendral. Bahkan, menurut Sujinah mereka nekat pergi ke sejumlah kedutaan untuk memasukkan buletin tersebut dan bersembunyi di selokan guna menghindari kejaran militer kubu Suharto.
“Aku pernah pakai wig warna-warni,” ujarnya geli sambil mengangkat kedua tangannya ke udara, menggambarkan model wig yang ia pakai.
Apa daya perjuangan Sudjinah dan Sulami berakhir tragis, setragis nasib Sukarno yang dibelanya. Sudjinah akhirnya ditangkap bersama dengan Sulami, Sri Ambar dan Suharti Harsono. Mereka dijebloskan di Bukit Duri dan masuk sel isolasi. Namun sebelumnya, penyiksaan dan penghinaan fisik serta intimidasi psikologis bertubi-tubi menerpa mereka. Padahal beberapa petinggi Gerwani tidak mendapatkan penyiksaan fisik seperti Ketua Umum Gerwani, Umi Sardjono dan Sekjen Gerwani Kartinah Kurdi.
Menurut Umi Sardjono, pembedaan perlakuan itu disebabkan karena militer melihat aktivitas yang dilakukan setelah PKI dan organisasi yang dianggap berafiliasi dengannya dinyatakan sebagai terlarang, masuk dalam golongan aktivis masa epilog. “Orang-orang yang tertangkap dengan tudingan ini biasanya mendapatkan siksaan sangat kejam,” ungkap Umi.
Rekaman penyiksaan itu kemudian muncul melalui cerita – cerita pendek Sujinah, yang salah satu bukunya berjudul “Terempas Gelombang Pasang”. Buku ini diterbitkan oleh Pustaka Utan Kayu pada tahun 2003. Setelah Suharto jatuh, memang ada semilir angin demokrasi untuk bicara dan menerbitkan karya korban 1965. Dalam buku ini, terdapat salah satu cerita pendeknya yang berkisah tentang “rumah setan”. Yang ia maksud dengan rumah setan adalah bangunan bekas sekolah Tiong Hoa di jalan Gunung Sahari yang dipakai sebagai tempat penyiksaan korban ’65. Karena kebengisan penyiksaan di gedung itu, Sudjinah menyebutnya Rumah Setan.

Buku “Terempas Gelombang Pasang” adalah secuil kisah Sudjinah yang pahit kala ia dan kawan-kawan seperjuangannya ditangkap pasca gestapu karena ia adalah aktivis Gerwani. Sudjinah tepatnya ditangkap pada 17 Februari 1967 dan pada Juni 1967, Sudjinah bersama Sulami dipindah ke kamp tahanan lain yang mempertemukannya dengan Sri Ambar dan Suharti Harsono yang ditangkap terlebih dahulu pada bulan September 1966.

Di rumah setan itulah, Sudjuniah dan Sulami ditempatkan di sel kecil yang penuh bercak darah di temboknya. Hampir setiap hari terdengar teriakan kesakitan dari ruang interogasi. Suatu hari, tiba waktunya bagi Sudjinah untuk diinterogasi. Ia dipaksa mengakui aktifitasya dalam gerakan bawah tanah namun perempuan berani ini bungkam seribu bahasa meski pukulan rotan bertubi – tubi mendarat di tubuhnya. Tubuhnya ditelanjangi di depan delapan orang yang menginterogasinya namun ia tetap bungkam. Tak hanya itu, ia dipaksa melihat penyiksaan kawan-kawannya sebagai bentuk intimidasi. Termasuk dipaksa melihat bagaimana salah seorang kawannya telinganya digigit sampai putus oleh sang penyiksa. Sudjinah, tetap bungkam dan malah muntah tepat di muka salah seorang penyiksa. Akibatnya, Sudjinah terus dipukuli dengna rotan dalam kondisi telanjang hingga pingsan.

Orang yang berprinsip tak kan mudah ditundukkan dan digoyahkan. Tampaknya, kalimat ini tepat ditujukan bagi sosok Sudjinah. Pukulan rotan, dan berbagai intimidasi tak membuatnya goyah dan bersuara membuka jati diri teman-temannya yang sedang diincar. 

Saya gosok-gosok wajah saya yang bengkak & bibir meradang akibat pukulan bertubi-tubi. Betapapun saya masih hidup. Pada saat itu tidak ada perasaan lain kecuali mencoba agar tidak gugup selama pemeriksaan. Walaupun hati terasa terbakar dalam api, kepala harus tetap dingin & tidak kehilangan pikiran. Saya tidak ingin mati sekarang, meski saya harus melewati kehidupan penuh siksaan. 

Bagi Sudjinah, yang penting ia masih bertahan hidup meski penuh bilur. Asal tidak hidup dari penderitaan kawan-kawannya yang lain. Karena itu, Sudjinah bungkam ketika ditanya keberadaan teman-temannya yang lain. Salah seorang pimpinan perempuan,menurut Sudjinah menceritakan segalanya tentang kerja bawah tanah kelompok –kelompoknya. Sudjinah terpukul, karena ada pengkhianat di antara mereka sendiri. Saat itu, kisahnya, ia bahkan tak sanggup menggerakkan lengan dan tangan kanannya. “Namun di atas segalanya, kami tetap tak berputus asa” ujar Sudjinah

Salah satu teman baiknya, Sulami menuturkan 20 tahun penyiksaan dan penahanan bukan waktu yang singkat karena sepertiga dari kehidupan manusia yang sedang berkembang, dipasung dan dibinasakan. Bagaimana tidak, sebagian yang ditahan dan disiksa itu adalah perempuan-perempuan muda namun harus terpisah dari anak, suami, kekasih, saudara dan masyarakat. Terpisah dari alam luar dari keindahan alam, sungai, sawah ladang, gunung sungai, bulan bintang dan tangis bayi. Mereka dirampas hidupnya bahkan hingga keturunannya atas perbuatan yang bahkan mereka rasa tidak tahu apalagi melakukannya. Apa yang salah dari Gerwani, organisasi perempuan terbesar kala itu? Menurut Sulami Gerwani tidak pernah mengjarkan hal-hal jahat. Pengurus Gerwani mengajarkan anggotanya untuk berjuang meningkatkan martabat dan keterampilan agar bisa mandiri. Mendorong anak-anak rajin belajar dan bekerja, menolong sesama,mencintai kehidupan dan kerja. Sulami yang sejak 17 tahun ikut berjuang merebut kemerdakaan tak habis pikir kenapa ia dan kawan-kawannya dituduh berbuat jahat.

Sejarah mencatat, dari ribuan perempuan yang ditangkap secara paksa pasca peristiwa 30 september, hanya 4 perempuan yang dibawah ke meja hijau. Mereka adalah Sudjinah, Sulami , Sri Ambar dan Suharti Harsono. Masing-masing dijatuhi hukuman 18 tahun penjara, 20 tahun, dan 15 tahun.

Baru pada tahun 17 Agustus 1983, ia bebas setelah ditahan selama 16 tahun. Selama dua tahun setelah kebebasannya, Sudjinah masih berada di bawah pengawasan negara untuk menggenapi masa tahanannya yang adalah 18 tahun. Ia menjalani wajib lapor ke kodim setempat setiap seminggu sekali. Jika kedapatan melarikan diri dalam masa dua tahun itu, maka keluarga atau kerabat yang lain harus menggantikan dirinya untuk ditahan. Seusai menghirup udara bebas, Sudjinah berhasil mendapatkan pekerjaan sebagai interpreter dan guru Bahasa Inggris. Dari pekerjaannya inilah, ia berhasil menulis beberapa buku yang sudah dimulainya sejak masih dalam penjara. Meski memperoleh pekerjaan, hidupnya tak semulus yang dibayangkan. Keluarganya yang tinggal di Solo menolak Sujinah. Akhirnya, ia harus menetap di Panti Jompo, di Jakarta hingga akhir hayatnya. 

Malang memang nasib Sudjinah, namun ia tak pernah menyesali jalan hidupnya. Orde Baru mungkin bisa memasung raganya namun tidak pemikiran dan prinsipnya. Sudjnah adalah pemenang sebagai pribadi. 
Posted by Unknown
Tag :

Addie, Pejuang Buruh dan Hak Pilih Perempuan

Image
Lahir di Brookhaven, Amerika Serikat, pada tahun 1924, Addie Cameron tumbuh dan bekerja sebagai buruh pada tahun 1941. Selain ditindas sebagai buruh, ia juga didiskriminasikan sebagai perempuan kulit hitam. Perempuan kulit hitam statusnya lebih rendah dari lelaki dan perempuan kulit putih serta lelaki kulit hitam, termasuk dalam hal mendapatkan pekerjaan.
Di masa depresi ekonomi, sekitar tahun 1930an, keluarganya pun pindah ke Chicago guna mencari kehidupan yang lebih baik. Namun, mereka kemudian menemukan bahwa kesempatan tersebut hanyalah ilusi. Tidak pernah ada kehidupan lebih baik bagi warga kulit hitam; kerja yang menakutkan; bayaran yang rendah, dan tempat tinggal yang mahal. Ayahnya bahkan harus bekerja sangat keras untuk upah yang sangat minim, akibatnya ayahnya tak punya waktu bersama keluarga. Addie, sebagai anak perempuan tertua, harus menjaga dan merawat adik-adiknya yang berjumlah 8 orang ketika kedua orang tuanya bekerja.
Addie sempat berujar bahwa kerja keras keluarganya, addie bahkan sempat berpikir bahwa dirinya harus melakukan sesuatu agar hidupnya menjadi lebih baik. Akhirnya iapun mulai bekerja di usianya yang masih sangat belia. “Perubahan harus datang bila kami mau bertahan hidup”, katanya.
Setelah lulus sekolah menengah atas, ia kemudian menikah dengan Charles Wyatt, seorang petugas keuangan pos. Dari pernikahannya ini, ia dianugerahi dua anak. Di usianya yang masih 17 tahun, ia harus menjadi ibu sekaligus buruh dengan waktu penuh.
Ia melamar pekerjaan sebagai juru ketik di sebuah perusahaan pengepakan daging. Meski ia sudah lolos tes masuk kerja, ia malah disuruh mengemas daging rebus dalam kaleng. Armour tidak mempekerjakan orang kulit hitam di kantor. Singkat kata, orang kulit hitam, harus menjadi buruh kasar.
Addie terpaksa menerima pekerjaan tersebut setelah berlatih melakukannya, alhasil ia lebih banyak menghabiskan waktunya bekerja di ruang packing dalam seminggu dari pada di ruang kantor sebagai juru ketik. Ini merupakan hasil perundingan antara perusahaan dan Serikat Buruh Packing Amerika. Tanpa perundingan ini, Addie semestinya tidak boleh bekerja sebagai juru ketik.
Berdasarkan pengalaman juang itulah, ia bergabung ke UPWA (Serikat Buruh Packing Amerika) setelah memahami bahwa serikat tersebut tidak mendiskriminasikan orang kulit hitam. Ketika sedang menghadiri konferensi UPWA di awal tahun 1950an, Addie sangat senang menemukan orang kulit hitam, kulit putih, Spanyol baik lelaki maupun perempuan, tua, muda bertemu bersama dalam satu forum membicarakan persoalan bersama.  Pimpinan serikatnya, menurut Addie mendorong perempuan dan buruh kulit hitam untuk mengambil peran kepemimpinan. Itu tercermin dalam rekomendasi organisasi supaya ada upaya mencari calon wakil presiden perempuan serikat di daerahnya.
Addie, yang juga aktif di gereja dan komunitasnya, akhirnya terpilih sebagai wakil presiden di daerahnya. Dalam beberapa bulan, presiden lokal mengundurkan diri dan ia pun menjadi perempuan kulit hitam pertama yang menjadi pimpinan serikat buruh Amerika.
Namun, ketika bernegosiasi dengan manajemen, Addie sering kali menemukan dirinya harus bertarung untuk tiga kelompok sekaligus, yakni untuk orang kulit hitam, dan buruh dan perempuan. Meski banyak tantangan, Addie berhasil di meja perundingan dan kesetaraan ras di Chicago dan sekitarnya.
Pada tahun 1955, Addie menjadi aktivis full time di UPWA, mewakili buruh di 5 negara bagian.  Berbagai prestasipun diraihnya, Addie dan serikatnya bahkan mampu memenangkan hak atas “upah yang sama untuk pekerjaan yang sama” sebelum UU Upah Setara disahkan pada tahun 1963, ia juga mendapat penghargaan dari Serikat Pekerja Komersial dan Pangan,yang merupakan penerus UPWA.
Dengan peran penting yang dimainkannya, UPWA juga terlibat di gerakan hak pilih. Ia membantu menggalang dana untuk mendukung aksi boikot bus Montgomery pada tahun 1956. Aksi itu adalah aksi penolakan atas diskriminasi kulit hitam untuk menggunakan alat transportasi. Peristiwa boikot ini dipicu oleh penolakan terhadap seorang kulit hitam yang mau naik bus khusus bagi warga kulit putih. Addie juga aktif sebagai penasihat Konferensi Kepemimpinan Kristen Selatan
Pada tahun 1960an Addie terpilih sebagai direktur departemen Perempuan dan Hak Asasi Manusia untuk UPWA dan di serikat buruh pemotong daging (serikat tempat UPWA bergabung pada tahun 1968).
Kerja Addie menarik perhatian Ibu Negara Eleanor Roosevelt, yang mengepalai Komisi Perempuan Amerika Serikat yagn dibentuk oleh President John F Kennedy pada tahun 1961. Eleanor Roosevelt memilih Addie untuk menjadi anggota komite buruh legislatif. Addie kemudian bekerja untuk ikut merumuskan UU Upah Setara 1963 yang mengurangi perbedaan upah antara lelaki dan perempuan.
Addie juga membantu perempuan baik di tempat kerja maupun di publik. Komisi Presiden harus mempertemukan seluruh pimpinan perempuan untuk duduk bersama dan menghubungkan mereka untuk membentuk formasi Organisasi Nasional untuk Permepuan di tahun 1966, tekanan terhadap amandemen Hak Setara selama 1970an dan kebijakan legislatif lainnya sebagai upaya memberantas diskriminasi gender.
Setelahnya, pada tahun 1960an, Addie menghabiskan banyak energinya untuk gerakan hak sipil, mengorganisir dukungan akar rumput di Chicago, berpartisipasi aksi massa bersejarah di Washington, dan aksi massa bersejarah lainnya dari Selma ke Montgomery, dengan Dr. Martin Luther King. Addie pernah dipenjara di Selma karena terlibat dalam aksi massa menuntut hak pilih kulit hitam pada tahun 1965. Ia pun terlibat dalam pengorganisiran kampanye wakil dewan yang adil di Chicago.
Memasuki tahun 1970an, Addie fokus membangun gerakan serikat buruh terutama bagi kelompok minoritas.
Pada tahun 1972, ia mulai mendirikan Koalisi Serikat Buruh Kulit Hitam, yang dibentuk untuk memastikan buruh kulit hitam mendapatkan porsi sama dalam kepemimpinan gerakan buruh di setiap tingkat. Sebagai komite Nasional Perempuan, Addie membantu meyakinkan serikat buruh yang berafiliasi untuk membuka ruang kepemimpinan bagi perempuan.
Dua tahun kemudian, Addie juga membantu terbentuknya Koalisi Serikat Buruh Perempuan untuk menyuarakan suara buruh perempuan secara efektif dalam gerakan buruh.
Upayanya bukan tanpa hasil, pada tahun 1975, majalah Time memberikan penghargaan kepadanya sebagai salah satu Perempuan tahun itu yang sanggup berbicara secara efektif melawan diskriminasi ras dan seksual dalam hal pekerjaan, promosi karir dan upah. Foto Addie terpampang di cover majalah Time bersanding dengan Ibu Negara Betty Ford, petenis hebat Billie Jean King dan Rep serta Barbara Jordan,salah satu perempuan kulit hitam pertama yang terpilih masuk di Kongres.
Pada tahun 1979, Addie menjadi wakil presiden Pekerja Makanan dan Komersial, yang membuatnya sebagai perempuan Afrika Amerika pertama yang menempati posisi kepemimpinan utama di sebuah serikat buruh internasional.
Pada akhirnya, Addie harus pensiun dari kerja serikat buruh pada tahun 1984 dan menjadi Menteri full time di Gereja Tuhan Taman Vernon, yang ia dirikan bersama suaminya di Chicago. Ia juga masih aktif di banyak komunitas, ia dikenal baik di komunitas organiser kaum muda ia berkonsultasi padanya. Barack Obama menyebutnya sebagai “Pemenang pejuang kesetaraan bagi buruh Amerika”
Posted by Unknown
Tag :

Carmen Rossa, Pegulat Perempuan Bolivia

Image
Pernahkan kawan-kawan mendengar sebuah negeri bernama Bolivia? Bila kawan-kawan tidak asing dengan telenovela tentu tidak asing dengan negara – negara Amerika Latin. Nah, Bolivia adalah salah satu negara Amerika Latin yang saat ini dipimpin oleh Evo Morales sebagai presiden.
Di negeri Bolivia inilah, sosok perempuan hebat ini hadir dan mewarnai dunia. Siapakah gerangan perempuan satu ini? seperti biasanya, blog ini hadir dengan sosok-sosok perempuan hebat.
“Saya ingin memperlihatkan kepada orang-orang, bukan hanya di Bolivia tapi di seluruh dunia bahwa perempuan bisa melakukan hal yang sama dengan pria. Khususnya perempuan asli,” suara lantang ini keluar dari mulut Carmen Rosa, seorang perempuan Indian yang harus berhadap-hadapan dengan diskriminasi karena rasnya sebagai orang Indian dan karena ia perempuan. Carmen Rosa tidak seorang diri, ia bersama perempuan-perempuan lain berjuang bersama dan membentuk sebuah komunitas pegulat perempuan.
Perempuan Indian Bolivia merasakan pembedaan karena tidak berkulit putih dan bukan pula pria. Dengan rok berkelepak dan rambut dikucir, demikian perempuan Indian Bolivia sering kali dicitrakan. Sebagai pegulat perempuan, mereka dikenal di pelosok negeri hingga dunia meski terasing di tanah sendiri yang didominasi oleh warga keturunan Eropa yang kaya.Memang masyarakat Bolivia sudah lama terpolarisasi antara penduduk asli yang miskin dan sekelompok warga keturunan Eropa yang kaya. Dalam masyarakat yang terpolarisasi ini, perempuan Indian menjadi warga kelas bawah. Menjadi pegulat adalah pilihan untuk berjuang.
Carmen Rosa, salah satu pimpinan perempuan pegulat, berujar dengan menjadi pegulat mereka bisa melampiaskan balasan dan meraih kemenangan di atas matras. Ekspresi kemarahan, mereka lampiaskan dengan bergulat “Kami perempuan asli selama ini dipermalukan dan menghadapi diskriminasi sehingga mendorong kami untuk menjadi pegulat.”
Kinerja Carmen bukan main-main, setelah berhasil berkancah di dalam negeri, Carmen mengepakkan sayapnya ke luar negeri, termasuk di Amerika Serikat guna menyaksikan film yang ia perankan sendri. Keberhasilan Carmen tak lepas dari peran Presiden Bolivia, Evo Morales. Evo Morales adalah presiden pertama Bolivia yang berdarah Indian dan konsisten memperjuangkan hak penduduk Indian, termasuk diantaranya perempuan Indian. Sebelum Evo Morales berkuasa, perlakukan pelecehan seksual dan tindakan anti perempuan (misoginis) menjadi kebiasaan di masyarakat Bolivia. Namun, hal itu berkurang setelah Evo Morales mengeluarkan UU Anti Diskriminasi. Di masa Evo Morales inilah, Carmen Rosa muncul sebagai salah satu lambang gerakan melawan penindasan hak  penduduk pribumi Indian.
Di awal Oktober tahun lalu, Bolivia bahkan memberlakukan UU anti diskriminasi yang menjamin perlakukan yang sama terhadap semua warga Bolivia. Majelis rendah parlemen menegaskan UU tersebut, yang isinya mencantumkan sanksi bagi siapapun yang melakukan diskriminasi berdasarkan suku, agama, afiliasi politik, status ekonomi, jenis kelamin hingga kecenderungan orientasi seksual.
Image
Di Bolivia, perempuan pegulat sering disebut dengan cholitas atau pollera. Hari itu, Carmen Rosa mengenakan baju tradisional Bolivia dengan topi khas Indian. Hari itu, Carmen menjadi juara. Bersama dengan perempuan pejuang pegulat lainnya, Carmen menjadi sensasi gulat modern. saya adalah salah satu pegulat cholita, dan satu-satunya yang menjadi juara. Kelompok kami yang terdiri atas 4 orang mulai bergulat setahun lalu, bergabung dengan pollera lainnya. Sepanjang hidup kami, kami sering mengalami diskriminasi karena kami perempuan, karena kami Indian: ibu saya adalah seroang perempuan Aymara, begitu pula dengan nenek saya, dan saya merasa bangga menjadi seorang cholita dan saya lebih bangga lagi menjadi seroang pegulat cholita.
Saya mencintai gulat. Namun saya bukanlah anak siapapun. Bayak dari teman kami adalah saudara perempuan dan anak perempuan pegulat, darah pegulat sudah mengalir di darah mereka. Ayah saya sendiri adalah seorang petani koka yang sederhana, sementara ibu saya adalah petani kecil dari dataran tinggi.
Carmen berkisah, awal ia menjadi pegulat adalah ketika diajak bergabung dengan 50 calon pegulat di sebuah program pelatihan gulat. Mayoritas calon pegulat menyerah karena aturan dan diet yang keat. Kami dilatih dengan keras, sama kerasnya dengan kaum pria. Hanya 3 orang dari kami yang akhirnya lolos; Julia, Yolanda dan Carmen sendiri. Setelah menjadi pegulat yang sukses, Carmen memperoleh penghasilan sebesar Rp 250 ribu – 300 ribu sekali pertunjukan, namun uang bukan tujuan utama Carmen.œMasyarakat melihat kami bergulat dan terhibur dari stress mereka, saya punya 10 kostum berbeda yang menunjukkan identitas kami sebagai orang Indian; saya senang bermain gulat dengan identitas budaya kami sendiri
Sejak itu, gulat menjadi hidupnya, gulat telah merebut cintanya. Ada kalanya, itu membuatnya sulit menjatuhkan pilihan antara keluarga dan gulat. Pernah suatu kali, keluarga meminta Carmen meninggalkan gulat dan pernah jua Carmen berpikir untuk berhenti. Namun, tentu saja Carmen tak sanggup berhenti. Ia terlanjur jatuh hati pada satu jenis keluarga ini. Tak ada yang lebih ia cintai selain gulat.
Tentang pelecehan, Carmen berkisah bagaimana ia diremehkan oleh kaum pria. Maklum saja budaya masyarakat Bolivia masih menganggap remeh perempuan.Carmen menjawab celaan dan ledekan tersebut dengan kinerja.Kami tunjukkan pada mereka bahkan kami bisa jauh lebih hebat dibanding pegulat lelakiâ . Tak hanya itu, untuk menjatuhkan mental lawan pria di ring gulat, Carmen sempat membalas ledekan dengan mengatakan  œLelaki itu tidak berguna, mereka tidak bisa melakukan apapun. Mereka bersih karena perempuan mencucikan baju mereka, mereka makan karena kami perempuan memasakkan makanan untuk mereka, tanpa kami perempuan, mereka bisa mati!. Di dalam dunia gulat, menurut Carmen, budaya macho sangat kuat dan dengan pukulan di ring, perempuan pegulat memerangi budaya macho. Ketika kami bertarung, kami tidak hanya mewakili perempuan indian namun juga setiap perempuan Bolivia
Gulat perempuan sendiri relatif masih baru, yaitu semenjak tahun 2001. Popularitas gulat perempuan semakin moncer bertepatan dengan perbaikan nyata terhadap nasib mayoritas pribumi Bolivia yang dimulai oleh Evo Morales, yang terpilih pada tahun 2008. Jauh sebelumnya, lima abad sejak invasi Spanyol, cholitas adalah olahraga milik pribumi kelas bawah, dilarang voting dan hanya bekerja sebagai petani karena tidak ada pekerjaan lain bagi mereka. Baru tiga tahun Evo Morales berkuasa, warga pribumi Indian telah memiliki akses untuk beekrja di pemerintahan, pengadilan dan di bidang bisnis.Budaya Indian juga berkembang, di saat inilah kaum cholitas mendapatkan momentumnya.
Pilihan menjadi pegulat, bukan tanpa pro dan kontra, bahkan dari kaum perempuan sendiri. Sebagian perempuan mengkritik tindakan Carmen dan permpuan lain yang memilih bergulat. Namun, Carmen dan teman-temannya tidak mundur barang selangkah, dengan menjadi pegulat, Carmen yakin sedang mengajarkan kepada perempuan Indian untuk menjadi kuat. Kini, banyak dari perempuan itu justru bangga pada mereka. Benar saja, tak butuh waktu lama bagi Carmen untuk menjadi simbol Bolivia. Banyak dokumenter tentang mereka di penjuru dunia. Hal itu membuatnya bangga hati, karena sekarang banyak perempuan yang terinspirasi melakukan hal yang sama, menekuni gulat.
Carmen Rosa menyadari, berjuang tidak cukup di atas matras tapi juga perlu alat perjuangan atau organisasi. Karena itulah, Carmen bersama teman-temannya membentuk organisasi pegulat perempuan Bolivia. Bagaimana kiprahnya? Kita simak yuk, setelah lagu cantik berikut ini (lagu dan iklan)
Untuk berjuang, Carmen membentuk organisasi gulat perempuan. Organisasi ini dibentuk untuk melindungi hak pegulat perempuan agar tidak dipermainkan nasibnya oleh pengusaha olah raga gulat. Mereka bisa makan kue dan mencampakkan kami. Namun, kini kami berorganisasi  dan meluas. Gagasan ini untuk menunjukkan bahwa perempuan bisa berdaya, dan mandiri.
Saya bukan seorang profesional, dalam arti saya bukan pembuat hidup ini; saya punya toko makanan ringan, dimana saya melayani makan siang. Segala hal tidak mudah di negeri ini Perempuan bernama asli Polonia Ana Choque Silvestre ini mengisahkan ia pernah menjadi juara pada tahun 2004 dan 2005 dan berharap itu bisa mendorong perempuan untuk berhasil di bidangnya masing-masing baik di pemerintahan, olah raga sepak bola dan bidang lainnya. Awalnya, suaminya bahkan tidak setuju dengan pilihannya menjadi pegulat, dan pernah berseteru dengan agennya. Anak lelaki Carmen sendiri menjadi seorang pegulat hebat.
Kala memasuki ring gulat, Carmen merasakan cinta rakyat kepadanya, dan iapun lupa segala persoalan yang mengganggu hidupnya. Rakyat menjadi begitu dekat, memeluk dan menciumnya. Di depan rakyat, kami merasa harus menunjukkan apa yang kami bisa, karena rakyat biasa menertawakan kami karena menjadi cholitas dan bertarung dengan baju khas kamia
Kini, Carmen melihat masa depan olah raga gulat perempuan menjadi semakin terang. Kami telah membantu generasi baru gulat perempuan yang tertarik dalam seni gulat. Kami telah berkembang, dan disiplin kami pun berkembang. Saya punya harapan yang tinggi, siapa tahu, mungkin suatu hari seorang perempuan Pollera akan bertarung di Olimpic dengan topi khasnya dan baju tradisionalnya itu, tapi siapapun pasti ingat bahwa cameron lah sang juara
Carmen Rosa kini sedang mencari hidup di luar ring gulat.Di masa depan, saya ingin memiliki sanggar senam sendiri.Saya juga ingin berpolitik, saya rasa jika seorang pegulat perempuan juga duduk di pemerintahan, maka saya akan melakukan perubahan bagi perempuan baik di bidang politik, ekonomi, dan kehidupan sosial. Dan saya akan berjuang lebih keras lagi di Politik dibanding di ring gulat.
Posted by Unknown
Tag :

Dolores Huerta, Perempuan Pejuang Buruh Perkebunan

Image
Bila setiap orang akrab dengan sosok Cesar Chavez, namun hanya sedikit yang mengenal sosok Dolores Huerta. Siapakah perempuan berdarah Spanyol ini? Ia adalah pendiri Serikat Buruh Tani Bersatu. Ia adalah salah satu yang memimpin organisasi dan berperan sebagai negosiator. Selama lebih dari 40 tahun tak pernah sedikit pun mundur dari garis depan perjuangan serikat buruh.
Di usianya yang ke 70 tahun, wakil presiden UFW yang pertama mempertahankannya untuk tetap melakukan pidato-pidato, lobi dan pengorganisiran komunitas. Selain aktif sebagai aktivis buruh, Dolores juga sangat aktif di gerakan perempuan, perannya sangat besar sebagai anggota pendiri Feminis Majority.
Dolores Fernandes Huerta, demikian nama lengkap Dolores, lahir pada tahun 1930 di sebuah Kota Tambang Mexico Town. Selama masa depresi, setelah pertanian keluarganya habis, dan orang tuanya berpisah, ia pindah ke California bersama ibu kandungnya.
Ibunya, Alixia Chavez Hernandez bekerja di sebuah pabrik pengalengan di malam hari sementara di kala siang bekerja sebagai pelayan restoran. Akhirnya sang ibu menikah lagi di Stockton, sebuah pusat pertanian dengan masyarakat beragam etnis diantaranya Jepang, China, Filipino dan Mexico. Fernandez disebut sering memiliki penginapan dengan 70 kamar bagi petani migran beserta keluarga. 
Sang ayah, Juan Fernandez, tinggal dengan anak-anaknya sambil bekerja di bagian barat sebagai pekerja tambang. Di dalam keluarganya, Juan Fernandez adalah yang pertama kali menjadi aktivis serikat buruh dan lulusan kuliah yang di akhir 1930an terpilhih sebagai anggota legislatif di New Mexico. Huerta mendapatkan pengaruh sebagai aktivis dari kedua orang tuanya.
Seusai lulus Sekolah Menengah Atas, Dolores mendapatkan kesempatan mengajar di Universitas Masyarakat Delta. Kesempatan mengajar itu tiba saat ia masih mengajar di sekolah Gramar di Central Valley Kalifornia. Ia sempat berucap “ Saya tidak bisa tahan melihat anak-anak datang ke kelas dengan perut lapar dan tanpa sepatu. Saya pikir saya bisa melakukan lebih dengan mengorganisir buruh tani dari pada mengajar anak mereka yang  kelaparan”
Pada akhirnya, ia berhenti mengajar pada tahun 1955 dan mulai bekerja di Organisasi Layanan Jasa Masyarakat atau CSO. CSO adalah sebuah organisasi Amerika Mexico independen yang didirikan di Los Angeles. Ia membantu mendaftarkan rakyat untuk memilih, mengorganisir kelas warga bagi kaum imigran dan mendesak pemerintah lokal untuk meningkatkan kesejahteraan kaum Hispanik. Jauh sebelumnya, CSO menempatkan Dolores sebagai petugas lobi.
Sementara itu, Huerta, Cesar Chavez dan Direktor CSO frustrasi dengan upaya mereka mendirikan serikat buruh. Mereka bergabung dengan Asosiasi Buruh Tanni dan bahkan memiliki cabang untuk mendirikan Asosiasi Buruh pada tahun 1962. Artinya itu berlangsung 10 tahun sebelum NFWA berubah menjadi UFW.
Saat sedang melakukan negosiasi di Sacramento, Huerta bekerja dengan Phillip Burton, seorang anggota dewan dari sayap liberal Kalifornia yang paling berpengaruh. Bersama dengan pria ini, HUerta berhasil memenangkan belasan peraturan perundangan yang mengijinkan buruh tani menerima layanan publik, pensiun dan ansuransi bagi pengangguran dan kaum disabel (manusia berkebutuhan khusus) terlepas apapun etnisnya karena mereka adalah warga Amerika Serikat.
Namun, buruh tani masih disisihkan dari UU Buruh Federal yang menjamin hak mogok dan membentuk serikat buruh, dan salah satu pimpinan Federasi Buruh Amerika dan Kongres Organisasi Industri menyimpulkan bahwa buruh tani tidak seperti buruh pabrik yang bisa diorganisir. Mereka bahkan menyimpulkan bahwa tak akan ada seorang pun bisa membangun serikat buruh migran dari Filipina maupun Latin, itu karena banyak dari mereka tidak berdokumentasi. Huerta dan Chavez pun menyadari bila bukan mereka yang memulai lalu siapa lagi?
Pada tahun 1962, Asosiasi Buruh Tani (NWFA) dibentuk, dengan Chavez sebagai presidennya. Sedari awal, Huerta frustrasi dengan sulitnya membangun keanggotaan. Untungnya, tugas ini secara ideal sanggup diemban oleh Chavez dan Huerta. Huerta sendiri konsentrasi membangun struktur serikat buruh sampai tingkat bawah.
Pembangunan NFWA adalah proses yang lambat, pertumbuhan semakin cepat pada tahun 1965 ketika NFWA bergabung dengan Komite Organiser Buruh Tani (AWOC), sebuah kelompok kecil petani Filipina yang sedang mogok melawan pemilik perkebunan anggur. Pemogokan buruh perkebunan Anggur Delano menjadi awal kekuatan buruh migran dan menghasilkan kemenangan bagi buruh serta kelahiran serikat buruh tani.
NFWA dan AWOC kemudian melebur menjadi Komite Organisasi Buruh Tani Bersatu, yang kemudian menjadi Buruh Tani Bersatu Amerika, AFL – CIO.
Sebagai orang ke dua Cesar Chavez yang meninggal pada tahun 1993, Huerta adalah seorang pragmatis yang membantu dalam membangun serikat buruh. Ia tidak hanya menyusun strategi pemogokan buruh perkebunan Anggur, namun ia juga pimpinan garis depan pemogokan, ia adalah negosiator pertama kontrak serikat buruh pada akhir 1960an dan secara langsung terlibat boikot pembelian Anggur. Boikot tersebut berpengaruh secara signifikan di Pantai Timur, yang merupakan titik distribusi utama .
Selama aksi boikot, Huerta menyolidkan reputasinya sebagai seorang pendiri koalisi, bersama feminis, buruh komunitas, kelompok religius, asosiasi hispanik, aktivis mahasiswa, dan organisasi perdamaian. Bersama-sama kelpompok yang beragam ini bersatu berjuang untuk hak mereka sebagai buruh tani migran.
Pada tahun 1970, dua tahun setelah kontrak pertama UFW ditandatangani, asosiasi perkebunan menyetujui tuntutan serikat, yaitu kenaikan upah, jaminan kesehatan dan dana kesehatan seperti klinik medis dan sewa darurat; klausa kontrak perlindungan yang membatasi penggunaan pestisida yang berbahaya; dan ketentuan yang mendorong serikat mengatur perekrutan.
Ya sahabat marsinah, masih banyak kisah tentang perempuan yang satu ini yang akan kita kupas. Bagaimanakah kelanjutan kisahnya? Sabar ya, kita dengarkan dulu tembang pilihan yang satu ini. Khusus untuk sahabat marsinah. (lagu dan iklan)
Peran utamanya sebagai sekretaris UFW mungkin saja bisa membuat Dolores jauh dari aksi jalanan. Tetapi tidak demikian faktanya. Dolores kerap ditahan lebih dari 20 kali dan pada tahun 1988, selama demonstrasi damai di San Fransisco melawan kebijakan kandidat Presiden George Bush (Jos bus), Dolores harus mengalami patah tulang rusuk dan  pecah limpa karena bentrok dengan aparat.
Sempat terjatuh karena cidera, Dolores tidak surut. Setelah sembuh dari cideranya, ia terus aktif di serikatnya selama bertahun-tahun lamanya. Pada tahun 2000, ia didiagnosa menderita sakit aneurisma aorta. Dokter bahkan menyatakan hidupnya tidak akan sebentar lagi. Selama beberapa bulan, Dolores harus belajar berjalan dan berbicara lagi.
Pada musim musim panas 2002, ia kembali ke aksi jalanan. Berjalan sepanjang 165 mil untuk menunjukkan dukungan atas undang – undang mediasi mandatori bagi buruh tani. Aksi tersebut dikatakan berlangsung selama 15 hari dengan cuaca 100 derajat celcius.
Pada bulan Desember, Huerta dihargai penghargaan Puffin atau Nation, yang berlangsung setiap tahun bagi warga Amerika yang berani menentang arus dengan penuh keberanian dan imajinatif. Huerta menyebutkan uang penghargaan sebesar 100.000 dolar AS itu ia gunakan untuk membangun sebuah institut yang merekrut dan melatih para organisir. Hal ini menunjukkan Huerta tidak pernah berhenti.
“Terlalu banyak yang harus dilakukan, dan seseorang harus mau melakukannya” Kata Huerta. “Dalam mengorganisir perjuangan, anda tidak akan bisa menggapai setiap orang kecuali anda terus dan terus melakukannya”
Pernah suatu kali, pada 5 Juni 1968, Huerta berdiri  di samping Robert F Kennedy di Hotel Ambassador, Los Angeles ketika hendak berpidato. Dalam pidatornya, Robert Kennedy memberikan pertanyataan kemenangan kepada pendukungnya setelah ia memenangkan pemilu presiden di Kalifornia. Hanya beberapa momen setelah kandidat presiden tersebut menyelesaikan pidatonya, Kennedy tewas tertembak.
Cukup panjang perjuangan Dolores, penuh liku dan tantangan. Demikian halnya dengan kehidupan pribadinya. Atas sumbangannya bagi perjuangan, Dolores dianugerahi berbagai penghargaan. Kita ikuti kisah selanjutnya setelah satu tembang manis dari Marsinah FM berikut ini. (iklan dan lagu)
Dolores menikah ketika masih kuliah dengan seorang pria bernama Ralph Head. Selama pernikahan keduanya, mereka dikaruniai dua anak perempuan, yaitu Celeste dan Lori. Namun kemudian mereka berpisah dan Dolores menikah lagi dengan Ventura Huerta yang darinya Dolores memiliki 5 anak. Namun, pernikahan mereka berakhir karena ketidaksepakatan dalam beberapa isu termasuk keterlibatan Dolores di organisasi. Setelah berpisah dengan suaminya yang ke dua, Dolores Huerta menjalin hubungan yang romantis dengan Richard Chavez, adik dari Cesar Chavez. Namun, keduanya tidak pernah menikah. Meski demikian, keduanya memiliki 4 anak. Richard Chavez kemudian meninggal pada 27 Juli 2011. Hingga akhir, Huerta memiliki 11 anak dari tiga relasi yang ia jalin.
Pada tahun 1997, Huerta dianugerahi sebagai tiga perempuan paling penting oleh Ms Magazine. Tidak hanya itu, Huerta menerima Penghargaan Hak Asasi Manusia Eleanor Roosevelt dari Presiden Bill Clinton pada tahun 1998. Di tahun yang sama, Jurnal Ladies Home mengakui Huerta sebagai 100 perempuan paling penting di abad 20, bersama dengan tokoh perempuan dunia lainnya seperti Ibu Teresa, Rosa Park dan Indira Gandhi.
Di tahun 2002, Huerta diberi penghargaan berupa Penghargaan Puffin atau Nation untuk Warga Negara Kreatif. Pada 30 September 2005, Huerta menjadi Suster Kehormatan di mahasiswa Kappa Delta Chi.
Mei 2006, capaiannya mendapat pengakuan, Huerta menerma gelar honora dari Universitas Princeton atas militansinya berjuang.
Penghargaan terus mengalir, Desember 2008, Huerta diakui oleh Pusat Masyarakat Amerika Bersatu dengan penghargaan individual.
Juni 2009 Huerta mendapatkan penghargaan tertinggi UCLA dan ia adalah salah satu sosok utama yang difolmkan oleh Slyvia Morales yang berjudul A Crushing Love pada tahun 1979. Uh tani, perempuan dan masyarakat marjnal dalam lingkup hak manusia dan warga negara. Di bulan yang sama, ia juga mendapat penghargaan doktor honoria oleh Unversitas Pacific, yang juga menyingkap gambaran Proyek Arsitek Perdamaian oleh artis Michael Collopy. Pada 29 Mei 2012, Huerta menerima penghargaan Medali Presiden untuk Kebebasan dari Obama
Dolores juga mendapat kursi honoria di Demokratis Sosialis Amerika dan baru-baru ini menjadi Board Direktur Kalifornia Kesetaraan.
Empat Sekolah Dasar di Kalifornia, satu sekolah di Forth Worth, Texas dan Sekolah Menengah Atas di Pueblo, Colorado, yang kemudian dinamai Ruang Lingkar Belajar Huerta di Penghargaan Pimpinan Buruh.
Posted by Unknown
Tag :

Ribuan Warga Chile Tuntut Kembali Kudeta Augusto Pinochet

 
Santiago, Región Metropolitana de Santiago, Ribuan warga Chile pada Minggu berdemonstrasi untuk masalah HAM pada peringatan ke-40 kudeta yang mengantarkan kepemimpinan diktator Augusto Pinochet. Sekitar 60.000 demonstran membawa gambar kerabat mereka yang diculik oleh negara dan membawa spanduk dengan slogan seperti “40 years after the coup, nobody and no one has been forgotten” (40 tahun setelah kudeta, tidak ada seorangpun dan tidak ada satupun dilupakan). Setelah demonstrasi selama dua jam, satu kelompok demonstran berkerudung mendirikan barikade dan dipantau oleh polisi, yang beberapa di antaranya dipukul dengan batu dan tongkat. Polisi menundukkan demonstran dengan gas air mata dan meriam air. Demonstrasi itu berakhir di sebuah pemakaman dengan acara peringatan untuk korban rezim Perang Dingin Pinochet. “40 tahun lamanya, kami masih menuntut kebenaran dan keadilan. Kami tidak akan berhenti hingga kami mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan orang-orang yang kami cintai yang ditangkap dan hilang” tidak pernah kembali, kata Lorena Pizarro, pemimpin kelompok HAM kerabat korban. 11 September adalah hari peringatan pada 1973 saat pesawat pasukan udara membombardir istana kepresidenan. Salvador Allende, seorang presiden sosialis terpilih, memilih bunuh diri ketimbang ditangkap.
Posted by Unknown
Tag :

Total Tayangan Halaman


counter web

Categories

Diberdayakan oleh Blogger.

Translate

- Copyright © Diaspora -- Powered by Blogger - Designed by Efrial Ruliandi Silalahi -